loading...

arief, nirsita, dayat, hidayat, siti, nisa di Keumala
Ilustrasi Sebuah Kenangan
Man 1 Sigli saat itu dipenuhi manusia-manusia yang tidak tau bahwa dirinya tidak akan selamanya memakai baju sekolah. Suram untuk dikenang, semuanya berwarna cerah. Kami selalu bernegosiasi dengan keadaan, mencari tempat yang pantas untuk menjadi cerita.

Roda pasti berputar, kami bahkan tidak begitu peduli. Lagi pula kami bukan Si Pemutar Roda, kami hanyalah orang-orang yang menunggu roda berputar dengan sendirinya. Sangat mudah ditebak bagaimana jalan cerita yang terpilih.

Saat itu suasana sekolah tidak begitu menarik, dan satu-satunya alasan menarik untuk berada di sana adalah, ada banyak teman yang sebagian kecilnya menjadi sahabat yang memilih untuk tetap bersama. Semua itu bukan pilihan, semua itu hanyalah paksaan waktu. Kami selalu bersama dalam cerita yang berbeda-beda, dan kami selalu menganggap diri: manusia yang tau caranya bersenang-senang. Jadi, kesenangan apalagi yang harus kami ciptakan hari ini? Ya, Keumala adalah tujuan kesenangan itu.

Hidayat Si Pembuat Cerita, Mahfuzh Si Penurut yang kurang sopan, Nisa Si Lemah Lembut yang sok tegar, Siti Si Wanita yang salah memilih kumpulan, Nirsita Si Wanita yang paling tau cara tertawa, dan Arief (kebetulan itu saya) yang selalu dianggap paling malas dalam gerombolan ini. Ups, ada satu orang lagi! Ikbal, orang yang tidak punya cara untuk menetap di tempat yang sama dalam kondisi waktu terlalu lama. Dia selalu punya alasan untuk tidak menetap, karena dia adalah manusia yang paling mudah bosan di antara kami semua. Dan untuk membuatnya agar bisa menetap di tempat yang sama, anda perlu belajar cara merayu dari Si Arief dan Hidayat.

Jika ada yang bertanya, tempat wisata manakah yang paling sering dikunjungi di Kabupaten Pidie? Maka jawaban yang akan sering terpikir adalah Guha Tujoh (Gua Tujuh). Kalau untuk jawaban kedua dan selanjutnya mungkin tidak akan bisa terpikir, karena Kota Sigli bukanlah tempat yang penuh dengan tempat wisata menarik. Namun demikian, sekarang kita tidak sedang membahas tentang Guha Tujoh. Karena ada bab lain yang sedang menjadi sejarah. Kami menuju ke Keumala.

Hari itu Keumala sebenarnya bukan tujuan kami. Tujuan perjalanan kami adalah Tangse. Di sana ada acara Perayaan Maulid Nabi, kami mengundang diri kami sendiri menuju ke sana. Sahabat kami Nirsita Aprilia adalah si tuan rumah untuk acara tersebut.

Kami tiba di sana pada waktu yang salah. Beberapa hari yang lalu, desa itu dihantam Air Bah yang mengangkut beberapa rumah, Alhamdulillah rumah kediaman Nirsita tidak ikut terbawa arus. Rumah tersebut menjadi batas dari rumah-rumah yang diangkut Air Bah tersebut.

Entah berapa lama kami berada di sana, akhirnya kami kembali ke asal dari mana kami memulai langkah. Sampai kami di Keumala, dan di sanalah cerita berjalan lagi. Awalnya kami hanya mencari tempat persinggahan, namun kemudian kami menikmati sapaan aliran air di Sungai Keumala tersebut.
arief, dayat, hidayat, di Keumala
Kika: Hidayat, Arief dan Ikbal
Permulaan memang selalu ada saja yang tidak ingin menyentuh air. Namun bukan Si Arief namanya jika tidak mampu membuat semuanya merasakan yang namanya air. Dan memang, pada akhirnya semua ikut menikmati pesta yang entah siapa tuan rumahnya itu.
arief, dayat, hidayat, ikbal, siti di Keumala
Kika: Siti, Hidayat, Arief dan Ikbal
Kami hanya mencoba menikmati; walau tanpa menyadari bahwa kami sedang menikmati. Terlarut sudah semua kisah, dan pada akhirnya, kami pun harus membelakangi semua keindahan.
siti, nirsita, nurul, di Keumala
Saatnya pulang (time to go).
Berlalu lagi satu indah, dan yang tersisa sekarang adalah serpihan dari kenangan-kenangan indah itu. Tulisan ini saya persembahkan untuk Hidayat Arsala, Siti Shifa, Nurul Nisa, Mahfuzh Hidayat, Ikbal dan Nirsita Aprilia.

Meski beberapa teman telah memilih jalan mereka, dan beberapa terperangkap di Masa Lalu. Tapi majulah teman, karena jika kau terlalu peduli, kau akan kehilangan sebagian besar dari hidupmu. Mereka bilang sulit rasanya untuk tetap menjadi sama saat beberapa teman telah gagal, sedangkan yang lainnya tampak berhasil. Namun teman, apapun itu, aku akan terus bersamamu di sini hingga akhir waktu (terjemahan Until The End By Avenged SevenFold).

Jangan ubah pemikiranmu tentangku, kita berasal dari kisah yang sama. Hidup memang terus berjalan, tidak mungkin terus sama. Memang beberapa dari kita ada yang kuatir. Kau tahu betapa sulit rasanya, saat semua itu telah berlalu. Kenangan-kenangan, datang setiap malam. Mengenang pun tidak akan membawamu kembali. Maka tatap masa depanmu teman, dan bertahanlah di sana, karena aku ada di sini untukmu; saat kau kembali.

arief, hidayat, dayat, mahfuzh di Keumala

Post a Comment

  1. Replies
    1. haha, iya nih gan... para pengisi cerita udah lama banget pada nggak saling ketemuan. Tulisan penghapus Rindu lah ceritanya, hehe.

      Bagus nggak ceritanya? haha (berharap jawaban iya).

      Delete
  2. Mantep gan ceritanya. lon sereng cit jak keumala, ngen family tapi :D

    ReplyDelete
  3. wah keren gan, btw siapa yg foto nih?

    ReplyDelete
  4. Pengen ke aceh ane, paling kalo ke sumatera mentok di padang gan :(

    Ngomong2 tuh ceweknya mayan juga gan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aceh selalu siap menampung mas Ilham :D kami tunggu kedatangannya (y)

      oya bro, kalau soal cewek Aceh : cantiknya itu "luar dalam" loh (#promosi :D )

      Delete
  5. Belum pernh ke aceh,,,
    anyway keren-keren tempt wisatanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau soal keren itu sudah pasti :D jarang Eksploitasi makanya jarang yang tau :3

      Delete
  6. masa putih abu2 memang menjadi sebuah hal sakral yang susah di lupakan gan ...

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. niatnya di cepat-kan saja mas :D saya tunggu kedatangannya :)

      Delete
  8. wuih, boleh juga tuh jalan2 kesana,, apa lagi w jarang liburan nih,,, thx info gan

    ReplyDelete
  9. ternyata banyak juga ya tempat wisata di aceh

    ReplyDelete
    Replies
    1. didalam blog saya belum seberapa :D tunggu sampai saya update semuanya :D

      Delete

loading...
 
Top