loading...
Ketika Hati Ingin Berteduh

Kala itu malam ingin meminang senja;
Sebuah Senyuman Pengetuk Pilu.
Membuatku sadar akan hati yang terlalu lama tanpa penghuni.
Fiksi, begitulah namanya.

Ingin aku bertanya tentang malang,
"Bolehkan aku menemui hatimu?"
Lalu aku menyamun di sudut arti sebuah pantas.
Membuatku sedih untuk mengenang,
Hatiku mati dibunuh sumpah.

Cinta itu pernah menghanyutkan,
Aku bukan satu-satunya saksi.
Juga fakta bahwa madu bukanlah yang termanis,
"Bagaimana bisa aku berhenti? Bagaimana bisa aku memulai?"

Kerangka keras dengan isi tinta buram akan masa lalu,
Sejenak membuat aku merasa tidak akan mungkin.
Hingga akhirnya aku kembali tersingkir.

Berkilah dengan waktu yang berpura lambat,
Ingin aku berteriak dengan lembut:

"Aku datang untuk memeluk harga dirimu,
Menjaganya hingga engkau merasa bangga.
Menimbang cinta untuk selamanya,
Hingga kita lupa dari mana kita memulainya.
Jangan pernah engkau bersedih,
Karena aku tau rasanya tidak memiliki pilihan;
Aku tau rasanya diasingkan dari impian.
Dan jangan pula engkau bersedih,
Karena sama sepertimu,
Aku juga memiliki hati yang sesak menyimpan ikhlas".

Setiap harinya aku menggulung cinta.
Membuatnya mati dengan sejenak;
Agar aku tau rasanya hidup tanpa memikirkanmu.

Namun gulungan itu kembali mekar;
Bahkan semakin besar setelahnya;
Sebelum aku membunuhnya lagi.

Maka cepatlah datang Wahai Engkau Tempati Takdir;
Karena hatiku, ingin berteduh.

"Puisi Ketika Hati Ingin Berteduh"
Puisi: Ketika Hati Ingin Berteduh
Oleh: Arief Munandar

Post a Comment

  1. Replies
    1. Tulisan tengah malam :D semoga Tuhan membalas pujianmu (y)

      Delete
    2. iya, malam memang selalu mendatangkan inspirasiii

      Delete
  2. mantaf bro puisi nya
    ane jadi tringat takdir yg sekarng k jalani miris.

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan terlalu di resapi mas :) saya hanya sedang menguji untaian kata saya :D

      Delete
  3. silahkan bro, tapi saya malah belum bisa ngafal :D

    ReplyDelete
  4. keren gan puisinya, feel nya dapet. anak sastra nih kayanya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga pujianmu dari hati ya bro (alias ngak HOAX :D ) saya bukan anak sastra (sempat cita-cita sih, tapi dilarang nyokap :D )

      *** BTW makasih kehadirannya :) jadi semangat bikin puisi lagi :D

      Delete
  5. Puisi yang bagus dan menyentuh banget,. ditunggu puisi yang selanjutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih pujiannya mbak... Sedang menggarap puisi terbaru juga nih, tapi nyerah soal "puisi patah hati"... kehabisan ide soalnya :D

      Delete
  6. Puitis banget bang arief.. Kayaknya sering2 posting puisi nih sekarang.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ngak sering sih bro, cuma kalau lagi kumat gilanya aja :D

      Delete
  7. Komentar untuk puisi ini yang pantas.. mmmm.. Kapan kawin??? :D

    ReplyDelete
  8. TAHNIAH PUISI YG SGT INDAH MENYIMPAN MAKSUD.

    ReplyDelete
  9. puisi itu bisa tetiba lahir...setelah sekian banyak perasaan mngguncang jiwa, mendadak di benak bermunculan kata-kata...puisi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya harus setuju dengan kakak Agustina :) Perasaan memang selalu menjadi dasar sebuah puisi :)

      Delete
  10. Muantappp kang jadi keinget waktu pkl jaman smk jadi terharu nih gan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada apaka dengan PKL jaman SMK ? Jadi penasaran saya :D

      Delete
  11. wah syair emang luar biasa yah...

    ReplyDelete

loading...
 
Top