loading...
Diploma Pembatas Kisah

Terlintas lagi senyuman itu, terbingkai lagi pedoman itu.
Terniang, kadang tidak sanggup melawan.
Terlalu banyak janji yang sia-sia,
Terlalu banyak diri yang harus dimaafkan.
Aku malu... malu pada diriku.

"Kau terlalu baik untukku",
Begitulah sikap perasaan...
Hingga hari mengganti diri dengan malam,
Masa lalu yang buruk;
Yang aku takut...
Takkan sanggup engkau menanggung.

Dan lagi tentang senyuman itu,
Seakan mengajakku memutih.

Ingin aku mendekat,
Sedingin mungkin untuk menyapa.
Namun niat tiada di hendak,
Lantaran sesal kembali melarang.

Hening...

Disaat aku merelakan harap,
Engkau malah berwujud sapa,
Membawa harap kembali di awang.

Ribuan kali aku menghentak,
Sayang ini bukanlah mimpi.

Begitu panjang untuk menjadi cerita;
Dan disaat diri kembali menyata,
Aku sedikit memahami;
Ternyata hati, semakin bersandar untukmu.

Jika memang aku berdiri pada seharusnya,
Sudah seharusnya aku berhenti,
Sudah seharusnya aku tidak pernah di sini.
Dan sudah seharusnya, kita tidak saling membuka diri.

Di balik mimpi yang sanggup menyentuh pantas,
Di sudut bingkai lamunan antah.
Engkau mampu menindas muara sesal,
Engkau sanggup mencabik bualan fiksi.

Hingga malam terasa panjang,
Hingga bulan terasa tak penting.
Sedikit saja aku mengenang,
Aku bagai melihat potongan sumpah.

Pernah aku mengikis rasa ingin untuk berlalu.
Tapi jalur sudah memanjang,
Namun hati sudah berharap.

Maka Tuhan,
Jauhkan ia jika itu masih tentang kesalahan nafsu.
Dan maka Tuhan,
Dekatkan ia jika itu tentang takdir yang akan menjaga nama baikku.

Karena pernah aku berdiri,
Menyesali umpama-umpama Khalil.
Karena pernah aku berlari,
Menghindari rudal-rudal fitnah.

Kelam...
Begitulah kehidupan,
Jika kau memang ingin tau...

================================= 
Puisi: Diploma Pembatas Kisah
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Diploma Pembatas Kisah"

Post a Comment

  1. Kalo baca kayak gini emang harus pake hati, gak paham baca ulang lagi.. Sampe mengerti..

    Tentang keresahan takdir. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. juga tentang masa lalu yang tak begitu baik :D si mas emang paling mengerti dengan makna tulisan saya :D

      Delete
  2. baca lagi... puisi yang menyentuh hati....

    ReplyDelete
  3. ku paling suka dg kalimat yang ini : Disaat aku merelakan harap, engkau malah berwujud sapa, membawa harap kembali di awang.

    ReplyDelete
  4. Mas Arif boleh tau email mu gak? supaya utk kontak...mungkin satu saat nanti ada perlu, setidaknya untuk minta izin mengutip satu bagian puisi atau gimana? thanks yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Si mbak Agustina tau aja caranya buat orang tersanjung :)

      Email : Ariefsigli@gmail.com
      Facebook : fb.me/ariefsigli

      Delete

loading...
 
Top