loading...

Kereta Malam Daratan Asia

Ada yang memburu-buru di belakang kereta malam Thai Express
Ada yang menembus-nembus di antara jutaan dedaunan
Angin meluncur, mersik gugur, bayang-bayang rawa malam
Serasa bukit-bukit benua
Serasa lewat jendela tua
Dentang-dentang suara
Ada yang meloncat-loncat di bantalan rel kereta malam
Ada yang menggores garis sinar di atas kelam
Cahaya tak terjangkau,

mungkin sebutir bintang yang dilupakan
Ada bulan lepas sabit, tegak lurus atas bukit
Tanah-tanah hitam
Padang-padang lalang
Pagoda-pagoda tua
Siul sunyi
Di sini ...
Burung-burung hutan
Bunyi air terjun
Warna-warna yang hilang
Warna-warna yang berlainan
Siapa saling mengejar? Kini?
Suara.
Warna.
Nafas.
Cahaya.
Musim kemarau yang terlampau keras
Telah singgah di setasiun kecil
Tak jauh dari danau. Di barat telik yang menganga

Penjaja yang menerikkan jajanan
Debu september yang naik perlahan
Ketika tiga rahib, berjubah merah muda
melintas di jalanan
Pecahan-pecahan batu cadas
Sebuah sinyal yang letih
Dan bunyi peluit putih
Ada yang menggariskan jalan paralel ini
Malam diturunkan, bintang-bintang dipasang dan
angin jadi dingin
Bulan lepas sabit
Pun terbit
Serasa bulit-bukit benua
Serasa lewat jembatan tua
Tanah lalang
Padang habis terbakar

Dentang-dentang suara
Dan garis cahaya parabola, tipis dan tajam
Mungkin sebutir bintang yang kulupakan
selama ini
Gugus Bimasakti
Lewat jendela kayu jati
Meluncur angin dingin
Ada kesunyian memburu di belakang itu dan
aku merasa
ingin
Menoleh. Tapi adalah kelam jutaan daunan
Serasa mersik gugur
Serasa di atas rawa malam
Menggaris cahaya parabola
tipis dan tajam
Mungkin sebutir bintang yang terlupakan
Selama ini.

1967
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kereta Malam Daratan Asia
Karya: Taufiq Ismail

Post a Comment

loading...
 
Top