Pidato-pidato dari Bantal Berasap

Hari apakah ini? Seperti akhir tahun aku rasakan malam dalam penggorengan, 15 menit yang lalu. Kembang api dan pidato-pidato dari bantal berasap. Aku belum pernah memasuki rumahmu. Malam yang bersandar di pintu, menjaga setiap suara, dan sihir botol-botol suku Yoruba. Kenapa rumahmu datang padaku seperti itu? Warnanya hijau kelam.

Jendela menyusun pidato akhir tahun dari bangkai kata-kata, tentang kebencian pada pamanmu, tentang fitnah politik. Tentang ketidak percayaan padamu. Hari apakah ini? Kenapa rumahmu datang padaku seperti itu? Orang seperti tembok mengelupas -- malam ini -- 15 detik dari denyut lehermu. Kenapa aku harus datang ke rumahmu, memberi nasehat, membubarkan bank-bank, membenamkan bursa saham ke dasar laut, memadamkan api di dalam bantal.

Aku belum pernah memasuki rumahmu. Membersihkan tulang-tulang ikan di kepalamu, sedikit saos, dan irisan ketimun. Seperti kebanyakan mikropon yang tersimpan di balik pintu. Kenapa aku harus memasuki rumahmu, dengan seekor anjng yang membawa pispot di mulutnya. Kenapa aku memasuki malam, seperti ini, di sini. Malam yang mulai membayangi lehermu, sebuah galian tanah yang terlalu dangkal untuk lehermu – si tua dalam gergaji politik.

Malam, di mana orang menyandarkan tubuhnya, lebih rapat lagi ke tanah. Mencium bau waktu pada lehernya. Malam yang hijau, berkarat, menjauh dari setiap cahaya lampu, melahirkan kegelapan.

Salam untuk januari. Salam untuk ratu yang sedang mengelupas kerudungnya untuk mengganti fajar, esok pagi. Salam.

"Afrizal Malna"
Puisi: Pidato-pidato dari Bantal Berasap
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top