loading...

Resepsi Baca Buku di Kota Rotterdam

Siang panjang di bandar udara Schiphol, 23 tahun silam
Matahari musim panas setia mengirim cahaya
Ladang-ladang baru usai menyiarkan warna-warna tulipa
Ada gemeretak bunyi roda trem, ada aliran air di Heerengracht,
Ada sungai meninggi jalanan. Laut dibendung, negeri sepatu kayu
Bertabur rel kereta api, mendesiskan irama presisi
Kawanan sapi putih-hitam, kelepak sayap merpati di Dam
Pagar istana raja perempuan, gedung Konperensi Meja Bundar
Pelabuhan raksasa, deretan gudang dan cakar luka perang
Kini orang ramai di Balai Kota Rotterdam. Sebuah resepsi
Berbagai negeri mengirimkan arsitek dan insinyur puisi
Semua tertawa-tawa, semua senyum-senyum, memegang gelas kecil
Tiba-tiba sekali aku teringat pada datukku
Dari abad yang lalu. Lima-enam generasi lewat tahunnya
Sepulang dari Mekkah, bersama dua orang sahabatnya
Dan muridnya Peto Sjarif dari Bondjol, pemberani tak tertandingi
Mengerahkan penduduk bertempur melawan serdadu Belanda
Mereka mengenakan pakaian panjang putih, berserban putih bersih
Dia tertangkap dan wafat terbuai di tiang gantungan
Jenazahnya disembunyikan mereka, tak ada maklumat di mana makamnya
Wahai Hadji Miskin, kakek kami, di mana datuk berkubur
Di ngarai mana, di bukit mana, di laut mana
Jasadmu disembunyikan serdadu Belanda
Tiba-tiba aku terjaga di ruang resepsi Balai Kota Rotterdam
Se-abad setengah kemudian
Orang tawa-tawa, senyum-senyum, orang minum-minum
Tangan siapa yang membuhul lalu mengalungkan tali gantungan
Ke leher Haji Miskin
Dalam resepsi ini orang tawa-tawa, senyum-senyum, minum-minum
Tangan siapa, tangan siapa, tangan siapa
Barangkali, begitu fikirku, cucu-cucu serdadu itu ...
Barangkali, ada cucu serdadu itu di resepsi ini
Bagaimana kalau kini aku umumkan sebuah interupsi:
“Attentie, attentie,”
sambil mendentingkan sendok kecil ke gelasku
Kemudian orang-orang sangat sopan berpaling ke arahku
“Maaf, aaa, apakah ada datuk-datuk kalian
Pada abad yang lalu datang ke negeri saya
Dan ikut dalam Perang Paderi?”
Semua heran dan diam
“Maaf, aaa, kakek saya, ditangkap dan digantung
Dalam perang itu. Namanya Hadji Miskin
Jenazahnya tidak diserahkan pada keluarga
Adakah kakek-kakek kalian bercerita tentang, aaa,
Penggantungan seorang lelaki bergamis putih
Kampungnya Pandai Sikek di kaki Gunung Singgalang
Berserban putih, dan kuburnya dirahasiakan? Pernahkah?
Soalnya, tidak ada informasi ini dari
Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappe
Adakah? Saya hanya ingin tahu di mana kuburnya. Itu saja
Saya tidak membawa lipatan dendam dalam dompet saya. Sungguh.”
Ruang itu hening seperti kuburan
Terik bagai kemarau jam dua lewat tengah hari
Sungguh tidak sopan, seorang tamu Rotterdamse Kunstichting
Untuk mengajukan pertanyaan ini. Dia sudah terlambat
Satu setengah abad.

1993
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Resepsi Baca Buku di Kota Rotterdam
Karya: Taufiq Ismail

Post a Comment

loading...
 
Top