Haiku Penghujan

(1)
Semilir. Embun
dini menitik dari
rimbunan bambu.

(2)
Setapak tanah
: denanganan sisa hujan
semalam. Licin.

(3)
Selepas subuh:
hujan; menjelang magrib:
hujan. Mengigigil.

(4)
Terbaring sampai
siang di hari minggu
: hujan menghadang.

(5)
Seperti masuk
halimun: matahari
teraling kabut.

(6)
Katak mendengkung
- tembang gairah. Siang
bertabur mendung.

(7)
Tak ada bias
pelangi, sebab siang
bertabir hujan.

(8)
Lembah dan puncak
berselimut halimun
- embun berkilau.

(9)
Langit menangis.
Dari teritis: titik
(air) gemeritik.

(10)
Berdiang depan
tungku. Beku menunggu
hujan berhenti.

(11)
Menunggu ubi
bakar matang, tak sabar
dikurung kabut.

(12)
Segelas kopi
jahe. Menyesap gigil
bulan November.

(13)
Menyulut rokok
menyalakan jantung di
senyap sendiri.

(14)
Gaung azan. Ruh
tersaruk menjelang di
subuh. Gemetar.

(15)
Kuburan pelan
menjelma kulkas. Arwah
beku. Tak lenyap.

(16)
Angin menebar
tempias. Dan kuburan
berhari lembab.

(17)
Terkadang ingin
pindah ke pantai. Nonton
produksi hujan.

(18)
Bukan di gunung,
bukan di pantai. Ruh
mencari Allah.

2016
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Haiku Penghujan
Karya: Beni Setia

Post a Comment

loading...
 
Top