loading...

Marquez

Di tengah wabah cholera, cinta abadi
adalah orang yang selamat dari kapal karam
bagai jenderal berkaki bengkak yang terbatuk
menyusuri labirin Amerika Latin/dunia ketiga
dalam gerilya abadi seratus tahun sunyi
untuk bisa pulang ke haribaan tersayang
semacam perempuan atau negeri-negeri
yang mengisut dan beruban olah penantian.

Selepas badai daun, para diktatur gugur
dan bersemi kembali. Sebagian berwarna-warni
bagai mawar atau beo yang dicat sendiri.
Maka seperti Macondo, orang-orang disergap lupa
hingga benda-benda kembali harus diberi nama.
Setelah semua derita sudah bisa kembali diingat
diam-diam rakyat belajar menangkap malaikat
yang luka dan mengurungnya di kandang
sebagai pelipur lara. Mereka tak punya uang
untuk membeli obat tidur dan naik kapal terbang
untuk bisa lelap sepanjang perjalanan
bernegara yang dikemudikan tiran yang malang.

Perjalanan itu begitu panjang dan melelahkan
serupa ziarah asing ke tempat-tempat asing
kadang mereka singgah di negeri-negeri
tempat para pesulap dan tukang obat
menawarkan salep atau puyer palsu penyembuh
negeri-negeri yang lumpuh atau keracunan.
Kadang mereka bertemu kolonel-kolonel berdebu
yang menghabiskan waktu di pengasingan
membacai surat-surat yang tak pernah ada.

Setelah bertahun-tahun dengan keras
belajar mengucapkan selamat jalan
pada sang presiden yang tak juga kunjung pergi,
orang-orang kembali disergap lupa
hingga benda-benda kembali harus diberi nama.
Hanya anak-anak abadi yang diam-diam
menyalakan lampu di malam- malam tertentu
hingga cahaya menjelma air membanjiri kota
tempat mereka menyelam dan melayari puisi
dari perabotan rumah dan derita sehari-hari.

"Agus R. Sarjono"
Puisi: Marquez

Post a Comment

loading...
 
Top