Laweung City
Sisa-sisa kenangan di balik peresmian kelulusan sekolah masih terasa dengan seadanya. Menghapus tanda tanya, semua itu telah berlalu dengan pedoman waktu tetap berjalan. Kami sangat memahami penyesalan itu. Kosong, hampa, dan harus berlalu.

Waktu pun berlalu dengan sobekan mimpi yang telah dilebur air mata. Mimpi akan manisnya Si Penjaga Pintu Sekolah saat jam 8 pagi, mimpi akan kerja bakti saat pelajaran pertama berlangsung karena datang terlambat, mimpi akan indahnya sambutan kelas ketika seorang datang terlambat. Semua itu benar-benar lebur.

Hari ini, untuk terakhir kalinya kami menggunakan seragam sekolah secara bersama-sama; untuk memeriahkan Hari perpisahan sekolah. Keharusan yang membuatku duduk manis memeriahkan pesta, sungguh perpisahan yang tak pantas untuk diingat. Aku hanya jadi bagian dari orang-orang yang mengindahkan kursi penonton. Sebenarnya ada keharusan yang membuatku menjadi bagian dari isi panggung, namun akibat beberapa hal yang tidak sesuai rencana, semua pun tak begitu pantas untuk disesali.

Lamunan akan penyesalan itu membangkitkan aroma kesenangan lain. Kami pergi meninggalkan meriahnya pesta yang tak seharusnya kami nikmati. Menuju mimpi yang tak pernah kami bayangkan, Laweung City.

Tak hanya aku yang menjadi bagian dari kesenangan itu, tentu saja kami tidak ingin menjadikan perpisahan sekolah sesuatu yang tidak pantas untuk dikenang. Beranjak dari pesta, kami menghidupkan mesin kendaraan dan menuju ke pelosok yang tidak pasti.

Laweung City
Hari itu adalah hari yang panjang untuk dikenang, dimana yang sebelumnya kami hanyalah pelengkap pesta. Sekarang kami dikelilingi oleh anak-anak kecil yang menyambut kami bak artis ibukota. Suasana bukan hal yang perlu dipertanyakan, karena kami semua tau cara membuat suasana menjadi meriah. Kami bahkan lupa dengan perpisahan sekolah.

Berlanjut dalam kesenangan yang memang sudah bercampur aduk, kami melupakan waktu yang berjalan dengan sangat cepat.

Suasana pantai, dengan pemandangan baru. Lebur sudah cerita perpisahan. Kami tidak begitu sadar dengan serpihan kenangan kami yang sedikit demi sedikitnya dikikis kejamnya waktu. Tidak ada yang perlu disalahkan, kehidupan memang penuh dengan perintah tanpa pilihan. Dan beginilah keharusan, beginilah permintaan kehidupan, selamat menikmati!

Post a Comment

  1. Momen perpisahan memang tidak bisa dilupakan karena ada perasaan senang dan sedihnya.

    ReplyDelete

loading...
 
Top