Januari 2017
Ia Telah Pergi


Ia telah pergi
lewat jalannya kali.
Ia telah pergi
searah dengan mentari.

Semua lelaki 'ninggalkan ibu
dan ia masuk serdadu.
Kemudian ia kembang di perang;
dan tertelentang. Bagi lain orang.
 

"Puisi: la Telah Pergi (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Ia Telah Pergi
Karya: W.S. Rendra
Perempuan yang Tergusur
Hujan lebat turun di hulu subuh
disertai angin gemuruh
yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon.

Aku terjaga dan termangu
menatap rak buku-buku
mendengar hujan menghajar dinding
rumah kayuku.
Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi
dan lalu terbayanglah wajahmu,
wahai perempuan yang tergusur!

Tanpa pilihan
ibumu mati ketika kamu bayi
dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu.
Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa.
Umur enam belas kamu dibawa ke kota
oleh sopir taxi yang mengawinimu.
Karena suka berjudi
ia menambah penghasilan sebagai germo.

Ia paksa kamu jadi primadona pelacurnya.
Bila kamu ragu dan murung,
lalu kurang setoran kamu berikan,
ia memukul kamu babak belur.
Tapi kemudian ia mati ditembak tentara
ketika ikut demontrasi politik
sebagai demonstran bayaran.

Sebagai janda yang pelacur
kamu tinggal di gubuk tepi kali
di batas kota.
Gubernur dan para anggota DPRD
menggolongkanmu sebagai tikus got
yang mengganggu peradaban.
Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada.
Jadi kamu digusur.

Di dalam hujan lebat pagi ini
apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan
sambil memeluk kantong plastik
yang berisi sisa hartamu?
Ataukah berteduh di bawah jembatan?

Impian dan usaha
bagai tata rias yang luntur oleh hujan
mengotori wajahmu.
kamu tidak merdeka.
Kamu adalah korban tenung keadaan.
Keadilan terletak di seberang highway yang berbahaya
yang tak mungkin kamu seberangi.

Aku tak tahu cara seketika untuk membelamu.
Tetapi aku memihak kepadamu.
Dengan sajak ini bolehkan aku menyusut keringat dingin
di jidatmu?

O, cendawan peradaban!
O, teka-teki keadilan!

Waktu berjalan satu arah saja.
Tetapi ia bukan garis lurus.
Ia penuh kelokan yang mengejutkan,
gunung dan jurang yang mengecilkan hati,
Setiap kali kamu lewati kelokan yang berbahaya
puncak penderitaan yang menyakitkan hati,
atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah,
selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah,
ialah kedudukan kaum terhina.

Tapi aku kagum pada daya tahanmu,
pada caramu menikmati setiap kesempatan,
pada kemampuanmu berdamai dengan dunia,
pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri,
dan caramu merawat selimut dengan hati-hati.

Ternyata di gurun pasir kehidupan yang penuh bencana
semak yang berduri bisa juga berbunga.
Menyaksikan kamu tertawa
karena melihat ada kelucuan di dalam ironi,
diam-diam aku memuja kamu di hati ini.


Cipayung Jaya
3 Desember 2003
"Puisi: Perempuan yang Tergusur (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Perempuan yang Tergusur
Karya: W.S. Rendra
Ada begitu banyak cara untuk membuka Control Panel, salah satunya dalah Via CMD (Command Prompt). Pada kesempatan kali ini, cara tersebutlah yang akan jelaskan untuk anda, mari menyimak.

Cara Membuka Control Panel dengan CMD
  • Silahkan terlebih dahulu buka CMD di laptop anda.
  • Untuk membuka CMD, anda bisa menekan tombol Windows+R di keyboad Laptop anda, lalu ketikkan CMD.
"Cara membuka control panel di cmd"
  • Setelah tiba di CMD, silahkan ketikkan Control Panel, lalu tekan ENTER di keyboard Laptop anda.
"Cara membuka control panel dengan cmd"
  • Maka Control Panel pun akan terbuka.
"Cara membuka control panel lewat cmd"
  • Selesai.
Cara Membuka Control Panel dengan CMD ini bisa anda terapkan di Windows 7, Windows 8/8.1, dan juga Windows 10. Selamat mencoba, semoga berhasil anda terapkan. Dan pun jika anda mengalami kendala dalam menerapkan cara ini, silahkan berkomentar agar bisa kita mencai solusi sama-sama.
Aku Tak Akan Memperindah Kata-kata


Aku tak akan memperindah kata-kata
Karena aku hanya ingin menyatakan
Cinta dan kebenaran.

Adakah yang lebih indah dari
Cinta dan kebenaran
Maka memerlukan kata-kata indah?
 

"Puisi: Aku Tak Akan Memperindah Kata-kata (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Aku Tak Akan Memperindah Kata-kata
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Pelarian

I
Tak tertahan lagi
Remang miang sengketa di sini

Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak berhingga.

Hancur-luluh sepi seketika
Dan paduan dua jiwa.

II
Dalam kelam ke malam
Tertawa-mengiris malam menerimanya
Ini batu baru tercampur dalam gelita
"Mau apa? Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungai sunyi?
Turut saja!"

Tak kuasa - terengkam
Ia dicengkam malam. 

Februari,1943
"Puisi: Pelarian (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Pelarian
Karya: Chairil Anwar
=================================
Akan Tiba Waktu

Lihatlah, jutaan mata menatap
dengan satu dakwa:
Engkaulah sumber bencana!

Lihatlah, jutaan tangan teracung
dengan satu tuntutan:
Turun tahta!

Ya, telah kulihat itu semua
Bahwa akan tiba waktu
Mereka datang menepati janji:

Di tangan kiri seutas tali
dan di kanan sebilah belati!
  
1966
"Puisi: Akan Tiba Waktu (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Akan Tiba Waktu
Karya: Aldian Aripin
Syair Burung Unggas

Unggas itu yang amat burhana,
Daimnya nantiasa di dalam astana,
Tempatnya bermain di Bukit Tursina,
Majnun dan Laila adalah di sana.

Unggas itu bukannya nuri,
Berbunyi ia syahdu kala hari,
Bermain tamasya pada segala negeri,
Demikianlah murad insan sirri.

Unggas itu bukannya balam,
Nantiasa berbunyi siang dan malam,
Tempatnya bermain pada segala alam,
Di sanalah tamasya melihat ragam.

Unggas tahu berkata-kata,
Sarangnya di padang rata,
Tempat bermain pada segala anggota,
Ada yang bersalahan ada yang sekata.

Unggas itu terlalu indah,
Olehnya banyak ragam dan ulah,
Tempatnya bermain di dalam Ka'bah,
Pada Bukit Arafat kesudahan musyahadah.

Unggas itu bukannya meuraka,
Nantiasa bermain di dalam surga,
Kenyataan mukjizat tidur dan jaga,
Itulah wujud meliputi rangka.

Unggas itu terlalu pingai,
Nantiasa main dalam mahligai,
Rupanya elok sempurna bisai,
Menyamarkan diri pada sekalian sagai.

Unggas itu bukannya gagak,
Bunyinya terlalu sangat galak,
Tempatnya tamasya pada sekalian awak,
Itulah wujud menyatakan kehendak.

Unggas itu bukannya bayan,
Nantiasa berbunyi pada sekalian aiyan,
Tempatnya tamasya pada sekalian kawan,
Itulah wujud menyatakan kelakuan.

Unggas itu bukannya burung,
Nantiasa berbunyi di dalam tanglung,
Tempat tamasya pada sekalian lurung,
Itulah wujud menyatakan Tulung.

Unggas itu bukannya Baghdadi,
Nantiasa berbunyi di dalam jawadi,
Tempatnya tamasya pada sekalian fuadi,
Itulah wujud menyatakan ahli.

Unggas itu yang wiruh angkasamu,
Nantiasa asyik tiada kala jemu,
Menjadi dagang lagi ia jamu,
Ialah wujud menyatakan ilmu.

Thairul aryani unggas sulthani,
Bangsanya nurur-Rahmani,
Tasbihatal'lah subhani,
Gila dan mabuk akan Rabbani.

Unggas itu terlalu pingai,
Warnanya terlalu terlalu bisai,
Rumahnya tiada berbidai,
Dudujnya daim di balik tirai.

Putihnya terlalu suci,
Daulahnya itu bernama ruhi,
Milatnya terlalu sufi,
Mushafnya bersurat kufi.

Arasy Allah akan pangkalnya,
Janibul'lah akan tolannya,
Baitul'lah akan sangkarnya,
Menghadap Tuhan dengan sopannya.

Sufinya bukannya kain,
Fi Mekkah daim bermain,
Ilmunya lahir dan batin,
Menyembah Allah terlalu rajin.

Kitab Allah dipersandangkannya,
Ghaibul'lah akan pandangnya,
Alam Lahut akan kandangnya,
Pada ghairah Huwa tempat pandangnya.

Zikrul'lah kiri kanannya,
Fikrul'lah rupa bunyinya,
Syurbah tauhid akan minumnya,
Dalam bertemu dengan Tuhannya.
 
  
"Puisi: Syair Burung Unggas (Karya Hamzah al-Fansuri)"
Puisi: Syair Burung Unggas
Karya: Hamzah al-Fansuri
Ajakan

Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang lengang lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan

Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.
 
Februari, 1943
"Puisi: Ajakan (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Ajakan
Karya: Chairil Anwar
=================================
Sia-Sia

Penghabisan kali itu kau datang
Membawaku kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: untukmu.

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
 
Februari, 1943
"Puisi: Sia-Sia (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Sia-Sia
Karya: Chairil Anwar
=================================


Puisi Sia-Sia ini sering dicari dengan kata kunci:
  • Puisi Chairil Anwar Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi
  • Puisi Chairil Anwar Tentang Sia-Sia
  • Puisi Chairil Anwar Tema Sia-Sia 

Malam Di Pegunungan

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!


1947
"Puisi: Malam Di Pegunungan (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Malam Di Pegunungan
Karya: Chairil Anwar
Penghidupan

Lautan maha dalam
Mukul dentur selama
Nguji tenaga pematang kita

Mukul denture selama
Hingga hancur remuk redam
Kurnia Bahagia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindungi, sia-sia dipupuk.

Desember,1942
"Puisi: Penghidupan (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Penghidupan
Karya: Chairil Anwar
=================================
Kepada Peminta-minta

Baik, baik, aku akan menghadap Dia,
Menyerahkan diri dan segala dosa,
Tapi jangan tentang lagi aku,
Nanti darahku jadi beku.

Jangan lagi kau bercerita,
Sudah tercacar semua di muka,
Nanah meleleh dari muka,
Sambil berjalan kau usap juga.

Bersuara tiap kau melangkah,
Mengerang tiap kau memandang,
Menetes dari suasana kau datang,
Sembarang kau merebah.

Mengganggu dalam mimpiku,
Menghempas aku di bumi keras,
Di bibirku terasa pedas,
Mengaum di telingaku.

Baik, baik, aku akan menghadap Dia,
Menyerahkan diri dan segala dosa,
Tapi jangan tentang lagi aku,
Nanti darahku jadi beku.

Juni, 1943
"Puisi: Kepada Peminta-minta (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Kepada Peminta-minta
Karya: Chairil Anwar
=================================
Persetujuan Dengan Bung Karno

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
Dipanggang di atas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut.

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh.

1948
"Puisi: Persetujuan Dengan Bung Karno (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Persetujuan Dengan Bung Karno
Karya: Chairil Anwar
Prajurit Jaga Malam


Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
Bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu! 

1948
"Puisi: Prajurit Jaga Malam (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Prajurit Jaga Malam
Karya: Chairil Anwar
=================================
Aung San Suu Kyi


Seseorang akan bebas dan akan selalu
sehijau kemarau.

Seseorang akan bebas dan sehitam asam
musim hujan.

Seseorang akan bebas dan akan lari
atau letih.

Dan langit akan sedikit dan bintang
beralih.

Dan antara tiang tujuh bendera dan pucuk pucat
pagoda.

Seseorang akan bebas dan sorga akan
tak ada.

Tapi barangkali seseorang akan bebas dan memandangi
tandan yang terjulai.

Tandan di pohon saputangan, tandan di tebing jalan
ke Mandalay.


1996-1997
"Puisi: Aung San Suu Kyi (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Aung San Suu Kyi
Karya: Goenawan Mohamad
Taman

Aman punya kita berdua
Tak lebar luas, kecil saja

Satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah

Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berpanding perdamaian

Halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.

Karena
Dalam taman punya berdua

Kau kembang, aku kumbang
Aku kumbang, kau kembang

Kecil, penuh surya taman kita
Tempat merenggut dari dunia dan 'nusia.
Maret, 1943
"Puisi: Taman (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Taman
Karya: Chairil Anwar
=================================
Hukum

Saban sore ia lalu depan rumahku
Dalam baju tebal abu-abu

Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul.

Bungkuk jalannya - Lesu
Pucat mukanya - Lesu

Orang menyebut satu nama jaya
Mengingat kerjanya dan jasa

Melecut supaya terus ini padanya

Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga

Pekik di angkasa. Perwira muda
Pagi ini menyinar lain masa

Nanti, kau dinanti-dimengerti!
 
Maret, 1943
"Puisi: Hukum (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Hukum
Karya: Chairil Anwar
=================================
Suara Malam

Dunia badai dan topan
Manusia mengingatkan, "Kebakaran di Hutan"
Jadi ke mana
Untuk damai dan reda?
Mati.

Barang kali ini diam kaku saja
Dengan ketenangan selama bersatu
Mengatasi suka dan duka
Kekebalan terhadap debu dan nafsu.

Berbaring tak sedar
Seperti kapal pecah di dasar lautan
Jemu dipukul ombak besar.
Atau ini.
Peleburan dalam Tiada


Dan sekali akan menghadap cahaya.

==========
Ya Allah! Badanku terbakar - segala samar.
Aku sudah melewati batas.
Kembali? Pintu tertutup dengan keras.
 
Februari, 1943
"Puisi: Suara Malam (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Suara Malam
Karya: Chairil Anwar
================================
Sendiri

Hidup tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia mencekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya

Bahaya dari tiap sudut, mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu ! Ibu!

Februari, 1943
"Puisi: Sendiri (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Sendiri
Karya: Chairil Anwar
=================================
Doa

Kepada Pemeluk teguh...

Tuhanku...
Dalam termangu,
Aku masih menyebut nama-Mu.

Biar susah sungguh,
Mengingat Kau penuh seluruh.

Caya-Mu panas suci,
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi.

Tuhanku...
Aku hilang bentuk,
Remuk.

Tuhanku...
Aku mengembara di negeri asing.

Tuhanku...
Di pintu-Mu aku mengetuk.
Aku tak bisa berpaling.
 
13 November 1943
"Puisi: Doa (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Doa
Karya: Chairil Anwar
=================================
Nisan
Untuk Nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan tak bertahta...
 
Oktober, 1942
"Puisi: Nisan (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Nisan
Karya: Chairil Anwar
=================================
Puisi Nisan ini sering dicari dengan kata kunci:
  • Puisi Chairil Anwar Nisan
  • Puisi Nisan oleh Chairil Anwar
  • Puisi Chairil Anwar untuk Neneknya

Rumahku
=================================


Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senja kala
Di pagi terbang entah kemana

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang

Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu.


=================================
Puisi: Rumahku
Karya: Chairil Anwar
=================================
"Puisi: Rumahku (Karya Chairil Anwar)"

Yang Terampas dan Yang Putus

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu,

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin.

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang.

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.
 
1949
"Puisi: Yang Terampas dan Yang Putus (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Yang Terampas dan Yang Putus
Karya: Chairil Anwar
=================================
Sajak Bebas


Sajak ini sejak lama telah kehilangan nilai
puitika estetika dan sublimatika sebab dengan
nilai-nilai keindahan dan kehalus-lembutan
tidaklah menjadikan seseorang seperti penguasa
penindas dan koruptor akan tersentuh hatinya
apalagi merasa malu dan introspeksi sebaliknya
akan membuat mereka ambisi untuk menindas
menghidup-suburkan pencuri jadi inilah sajak
terang benderang seperti bendera dikibas angin
di udara terbuka merdeka sajak tanpa tawar
menawar bebas dan sebebas-bebasnya memilih kata
tidak seperti kalian yang memilih cara
bergaya demi mengelabui diri sendiri atau
orang lain untuk menutupi kebodohan kebobrokan
nilai pribadi yang telah menghisap-sedot-habisi
darah rakyat sendiri
inilah sajak bebas tanpa alamat surat pedas untuk
para pengkhianat yang tidak akan pernah hilang tujuan.



Yogyakarta, Indramayu

"Puisi: Sajak Bebas (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Sajak Bebas
Karya: Acep Syahril
Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau,
Gadis manis, sekarang iseng sendiri.

Perahu melancar, bulan memancar,
Di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
Angin membantu, laut terang,
Tapi terasa aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
Di perasaan penghabisan segala melaju...
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja."

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu,
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
Kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri...


1946
"Puisi: Cintaku Jauh di Pulau (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Cintaku Jauh di Pulau
Karya: Chairil Anwar
Salah satu cara cepat membuka Control Panel adalah menggunakan RUN. Hal itulah yang membuat saya meluangkan waktu untuk menuliskan tutorial ini. Baik langsung kita mulai saja.

Cara Membuka Control Panel Melalui RUN
  • Pertama-tama silahkan hidupkan Laptop anda (saya anggap sudah).
  • Kemudian silahkan buka RUN (tekan tombol Windows+R di keyboard Laptop anda).
  • Sampai di RUN, silahkan ketik Control Panel, lalu tekan OK.
"cara membuka control panel lewat run"
  • Maka Control Panel pun akan terbuka.
"cara buka control panel lewat run"
  • Selesai.
Cara Membuka Control Panel Melalui RUN ini bisa anda terapkan pada Windows 7, Windows 8/8.1, dan juga Windows 10. Selamat Mencoba!
Senja Di Pelabuhan Kecil...
buat Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta.
Di antara gudang; rumah tua, pada cerita.
Tiang serta temali... Kapal, perahu tiada berlaut.
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.

Gerimis mempercepat kelam... Ada juga kelepak elang.

Menyinggung muram, desir hari lari berenang.
Menemu bujuk pangkal akanan... Tidak bergerak.
Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi... Aku sendiri... Berjalan...

Menyisir semenanjung, masih pengap harap.
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan.
Dari pantai ke-empat, sedu penghabisan bisa terdekap.


1946
"Puisi Chairil Anwar Senja Di Pelabuhan Kecil"
Puisi: Senja Di Pelabuhan Kecil
Karya: Chairil Anwar
=================================
Puisi Senja Di Pelabuhan Kecil ini juga sering dicari dengan kata kunci:
  • Puisi Chairil Anwar ini kali tidak ada yang mencari cinta
  • Puisi Chairil Anwar tentang Pelabuhan
  • Puisi Chairil Anwar tentang Senja

Kepada Kawan

Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,
Mencengkam dari belakang 'tika kita tidak melihat,
Selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,
Belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
Tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
Layar merah terkibar hilang dalam kelam,
Kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

Jadi...
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan,
Peluk kecup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam.

Dan...
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!

Jadi...
Mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, 'kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu,
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!! 

1946
"Puisi: Kepada Kawan (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Kepada Kawan
Karya: Chairil Anwar
Tobat
Aku tobat, ya Tuhanku
tobat atas segala dosaku.
Kacang-kacang berkembang
daun kobis segar di ladang.
Jantung-Mu adalah biji kentang
digigit oleh tanah
subur dan menderita
digigit oleh tanah.
Aku tobat, ya Tuhanku
tobat atas segala dosaku.
Burung-burung kecil di belukar
batang pimping menggeliat.
Mulut-Mu daisi di hutan
sederhana dan manis sekali.
Mulut-Mu daisi di hutan
diinjak kaki petani.
Aku tobat, ya Tuhanku
telah kuinjak mulut-Mu
dan juga jantung-Mu.
 
 
"Puisi: Tobat (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Tobat
Karya: W.S. Rendra
Anak yang Angkuh


Betapa dinginnya air sungai.
Dinginnya. Dinginnya!
Betapa dinginnya daging duka
yang membaluti tulang-tulangku.

Hai, anak!
Jangan bersandar juga di pohonan.
Masuklah, anak!
Di luar betapa dinginnya!

(Di luar angin menari putar-putar.
Si anak meraba punggung dan pantatnya.
Pukulan si Bapak nimbulkan dendam).

Masih terlalu kecil ia
digembungkan dadanya kecil
diangkatnya tinjunya kecil.
Amboi! Si jagoan kecil
menyusuri sungai darah.

Hai, anak!
Bara di matamu dihembusi angin.
Masuklah, anak!
Di luar betapa dinginnya!

(Daun-daun kecil pada gugur
dan jatuh atas rambutnya.
Si anak di jalan tolak pinggang.
Si jantan kecil dan angkuh).

Amboi, ingusnya masih juga!
Mengapa lelaki harus angkuh
minum dari puji dan rasa tinggi
dihangati darah yang kotor?

Hai, anak!
Darah ayah adalah di ototmu
senyumlah dan ayahmu akan lunak
di dada ini tak jagoan selain kau.

Dan satu senyum tak akan mengkhianati kata darah,
Masuklah, anak!
Di luar betapa dinginnya!

(Dengan langit sutra hitam
dan reranting patah di kakinya
si anak membusung tolak pinggang
kepala tegak dan betapa angkuhnya!)
 
 
"Puisi: Anak yang Angkuh (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Anak yang Angkuh
Karya: W.S. Rendra
Entah...


Kutanya pada jejak-jejak jawaban tanah,
Mengelak dari suara jiwa yang dirundung gelisah...
Raut muka merah menahan letupan-letupan amarah,
Rapatkan gigi graham dalam mengendali rentetan-rentetan rasa resah...

Entah apa dan siapa  yang menjadi tempat singgah dari kejiwaan insan yang tak lumrah,
Dengan mengatasnamakan kepedulian rasa yang tertumpah di sisa-sisa onggokkan sampah...
Hadirkan kepalsuan harum taman bunga surga yang begitu megah,
Mengoyak kepedulian hati dan rasa yang begitu tulus dan fitrah.

Kering kerontang raga ini terkulai lemas di peraduan sejuk nan teduh,
Tak berdaya untuk kembali bangkit dari keterpurukan sandiwara air keruh...
Dari pilihan keliru terbawa suasana cerita yang akhirnya hati ini pun ter-enyuh,
Lupa akan kata hati yang semestinya didengar dan diikuti dengan sungguh-sungguh...

Tapi apa pun itu tak ada kata yang mesti disesal ketika semuanya sudah dipilih,
Karena hal itu adalah ujung tombak untuk masa depan yang akan diraih...
Menjadikannya semua itu adalah hikmah untuk bangkit dan kembali pulih,
Dari keheningan jiwa yang begitu dipenuhi buih-buih mengiriris perih...

Kini aku kembali dengan wajah cerah nan gagah,
Karena toh rasa itu tak sepenuhnya tertumpah.
Hanya karena rasa simpati yang akhirnya jiwa ini terpanah,
Lumrah tak lumrah semuanya kuserahkan kepada Tuhan Yang Maha dari segala Maha dengan rasa pasrah.

================================= 
Puisi: Entah...
Oleh: Ajie
=================================
"Puisi Entah"

Ketika Cinta Bertasbih

Ingatlah aku...
Disaat kita tertawa atau bercanda...
Seakan dunia selamanya ada...
Bahkan dunia bagai milik berdua...

Ingatlah tentang aku...
Ucapan yang selalu membuatmu terpesona...
Seakan akulah yang selalu ada dalam harimu...
Mengukir setiap kisah dalam buku harianmu...

Ingatanku selalu untukmu...
Hangatnya genggaman tanganmu...
Seakan menopang badai yang akan menjatuhkanku...
Pelukan erat darimu...
Seakan pelidung bagiku dari ketidak nyamanan dunia...

Ingatlah aku...
Cinta dan sayangku...
Tak akan pernah lekang oleh waktu...
Tak pernah sirna seperti debu...
Tak akan pernah luntur seperti baju...
Cinta yang abadi dan suci...
Cinta yang tulus dari hati dan ridho ilahi...
Semoga kita bertemu di akhirat nanti...

================================= 
Puisi : Ketika Cinta Bertasbih
Oleh: Alyya Wulandari
=================================
"Puisi: Ketika Cinta Bertasbih"

Ratapan Rinduku

Bayanganmu tiada musnah dalam ingatanku...
Tiada mampu aku singkirkan dari renunganku...
Tetap saja hadir disetiap detik waktu...
Menderai air mataku...
Mengalir dengan sendu...

Kerinduan ini semakin sesak menyiksa kalbuku...
Hanya rekaman kenangan yang setia menemaniku...
Aku terpaku...
Aku letih berharap dirimu akan mengerti aku...
Bila masih ada rasa cinta untukmu di hati ini...

Sampai kapan galau harus membelenggu perasaanku...???
Walau aku tau...
Dirimu mustahil kembali mencintaiku...
Dirimu telah pergi jauh sisakan duka kepedihan di hatiku...
Tinggalkan banyak kenangan manis dalam ratapan rinduku...

"Puisi: Ratapan Rinduku"
Puisi : Ratapan Rinduku