loading...
Gadis cantik, duduk kedinginan di sebuah bangku, menatap danau dengan matanya yang lebar. Saya berada di bangku lainnya, juga merasa kedinginan, sembari membaca buku saya. Iya, saya tidak benar-benar membaca, karena dia hampir merengut seluruh perhatian saya. Saya bisa melihat hidungnya yang halus, sedikit mancung, mengeluarkan uap...  efek dari dingin suasana danau.

Di depan kami, ada beberapa perahu dayung kecil dengan dua orang di masing-masing perahunya; seorang pria dan seorang wanita. Dia masih menatap danau tersebut. Tanpa ekspresi, tanpa rasa bahagia, tanpa rasa kesedihan, tanpa segalanya. Saya bisa melihat bulu matanya dari tempat saya duduk... bulu matanya yang panjang.

"Air Mata dari Danau"

Saya mencoba membaca buku saya lagi dengan mata yang terkadang mengarah padanya. Setengah jam. Hari terasa hampir benar-benar gelap. Sebagian besar perahu menghilang dari danau. Hanya beberapa pasangan berjalan keluar dari taman, bergandengan tangan. Beberapa lainnya menikmati proses gelap. Tidak ada sunset di sudut danau, tapi tetap terasa indah.

Saya meletakkan buku kembali ke dalam tas. Terduduk lelah, saya berjalan berniat menyapa danau. Beberapa inci dari sana, saya berhenti. Saya menoleh untuk melihat gadis itu. Dia juga berdiri. Beberapa langkah dari bangku. Rambut hitam yang panjang. Dan satu hal yang sungguh mengganggu saya, air matanya.

Saya melihat air mata di pipinya. Saya melihat kesedihan. Bertanya heran apa yang bersembunyi di pikirannya. Seakan dia tidak bisa menahan air matanya. Dia berusaha untuk mengelola perasaannya sendiri, tapi dia benar-benar tidak bisa menahannya.

Berdiri di sana. Air dari matanya menghampiri pipinya,. Turun menyentuh tanah. Terserap. Lenyap. Namun kesedihannya tidak runtuh beserta air matanya. Semua itu masih tersimpan di hatinya. Saya tau dia sangat berharap agar tanah menyerap kesedihannya itu hingga tidak harus menjadi beban.

Saya masih di sana mengawasinya. Dia tidak memperhatikan keberadaan saya. Hal yang terdengar tidak lebih baik. Saya tidak akan mampu untuk menyembuhkan hatinya yang terluka. Jadi saya hanya menatap dari tempat saya berdiri. Air mata di tepi danau.

Post a Comment

loading...
 
Top