loading...
Dia menangis dan terus menangis... seakan tidak ada yang bisa dia lakukan selain menangis. Dia melihat langit, dia menangis. Dia melihat bayangannya sendiri di cermin, dia menangis. Dia melihat bunga-bunga yang dia tanam bulan lalu di taman kecil sisi kanan halaman rumahnya, dia menangis.

"Dia hanya bisa menangis"

Hanya ada air mata, di matanya, di pipinya... terkadang pada bajunya, tangannya, dan di mana pun. Seakan tidak ada hal lain, selain air matanya.

Tetangganya seorang pria tua berusia sekitar 40 tahun. Seorang yang tidak pernah melewatkan pagi hanya untuk menatapnya dari balkon. Dia menyaksikan dan terus menyaksikan. Dia tidak pernah mengatakan "hai", atau bahkan melambaikan tangan pada seorang yang selalu dia perhatikan itu.

Gadis itu tau dirinya memiliki para penonton. Tapi dia tidak, tidak benar-benar peduli.

Dia sekarang menyaksikannya lagi. Tapi kali ini, ia memiliki teleskop bersamanya. Dia bisa melihat rincian dengan lebih baik sekarang. Dia melihat air matanya. Dia merasa kasihan padanya. Dia benar-benar kasihan. Ia terlihat bisa merasakan rasa sakit itu, meskipun ia tidak tahu penyebabnya. Dia merasa ingin menangis juga. Hatinya terasa sakit, bertanya heran apa yang telah terjadi dengan hati yang rapuh.

Dia melihatnya, lagi, dan lagi...

Dia terus menangis. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia hanya bisa dan terus menangis... untuk alasan yang hanya dia yang tahu.

Post a Comment

loading...
 
Top