loading...

Jakarta Pada Suatu Hari

I
Tergurat merah hitam
di dinding-dinding jembatan laying
perjuangan itu
telah jadi mozaik jaman.

Siapa masih mencari makna
di antara selaksa pesona
yang ditemui bukan lagi
raut perempuan Hindun natap Ciliwung
simpan senyuman Harmoni
tak juga jejak purba
prajurit Mataram tua
istirah renungi senungi sejarah
di kawasan Kesatriyan Condet Selatan
dan Mataraman kini Matraman 
serat kabut dalam ontran-ontran.

Mencoba urai sejarah
sisa kebanggaan lama
yang ditemui hiruk-pikuk sengketa
dalam rumah agung bermahkota.

II
Seorang lelaki rapuh sisa peradaban
mengeluh di tikungan jaman
denting siter ungkap gumam
karena tak lagi jadi bagian
dari yang diperjuangkan
gumam diulang saat angin bersarang
di pohonan Jakarta yang daunnya berubah warna.

Siapa bisa mengirimku kembali dalam rahim sejarah
di kota merdeka
aku begini lelah.

Ketika kukabarkan pada mereka
pesan-pesan sisa peradaban
mereka tengah sibuk luar biasa
hitung angka-angka baru
kemas strategi terkini
sementara dalam dada dan kepala
berkilatan mata belati.

Bogor
September, 2003
"Puisi: Jakarta Pada Suatu Hari (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta Pada Suatu Hari
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top