loading...
Terlalu jauh dari kenyataan, aku sibuk memperbaiki kenangan-kenanganku yang terlanjur kelam. Aku bahkan tidak begitu nyata dalam kenyataan ini. Aku hanyalah si pemutar roda yang masih diam menunggu roda berputar dengan sendirinya. Karena memang begitulah cara aku menjalankan nasib; oh nasib yang bertentangan dengan keinginan.

Tetap mencoba adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa aku masih memiliki tujuan hidup, walau itu tidak pernah cukup untuk menjadi pertimbangan. Dan rasanya sulit menerjemahkan siapa diri, walau aku lebih suka diam dan berpura bahwa aku bukanlah orang yang terlalu peduli. Aku terlalu suka berharap pada hal-hal yang tidak aku yakini keberhasilannya. Jalur yang salah, atau manusia yang salah memilih jalur.

"Arief Munandar di Syiah Kuala"

Mudah mencari panutan, tapi masih dengan pertanyaan yang sama, untuk apa? Karena aku bahkan tidak merasa butuh sebuah panutan. Dan lalu bagaimana kita harus berhenti, sedangkan kita belum mencoba apapun. Semua pertanyaan itu dibesarkan kebiasaan, hingga menyatu dengan kehidupanku. Apa aku lupa mengatakan? Tidak ada yang lebih mudah dari pada kebiasaan.

Aku terombang-ambing dalam cita-cita kehidupan, entah itu tempat yang baik untuk aku berada atau malah sebaliknya? Entah lah. Aku jatuh hati pada wanita ramah senyum itu, dan ketika cinta itu mulai dihargai cinta, disaat itulah aku mengerti, "aku mencintai orang yang salah".

Tidak ada alasan yang mampu membuktikan kesalahanku itu, hanya saja aku melihat diriku yang lain ketika bersamanya. Sisi-sisi di dalam tindakanku menjelaskan hampir semuanya, hal-hal yang dulunya tidak begitu aku banggakan sekarang menyembunyikan keaslianku.

"Aku tidak ingin menyakiti hati seseorang lagi, dan aku tidak yakin tidak akan melakukannya. Aku terlalu mahir dalam menyakiti. Jadi aku katakan saja padamu, pergilah, dan jagalah hatimu agar tidak terluka".

Pesan yang sangat indah untuk menjadi salam perpisahan, namun tidak sempat aku sampaikan.

Kenyataannya adalah, wanita itu sudah terbiasa dengan aturan, dan lelaki sangat benci dengan aturan. Mungkin itulah yang mengikat kepergianku. Dan mungkin, itu pula yang membuatku terlihat seperti orang yang sangat mencintainya. Namun di dalam kenyataan lain, aku hanya berharap agar dia bisa melupakan semuanya dan menemukan bahagia dalam bentuk lain; bahagia yang tidak bisa didapat dari manusia tanpa nama ini.

"Cinta yang menjadi aib masa lalu ini".

Semua orang sudah terbiasa memandang dengan caranya, dan hanya aku yang tidak bisa memandang dengan sudut pandang itu. Aku terlalu menghargai kenangan-kenangan itu, walau tidak ada satupun yang akan percaya jika aku mengatakan itu.

Banyak yang lebih baik darinya, tapi tidak ada yang lebih berarti. Hanya itulah alasannya mengapa kisahku terhenti dan kisahnya hampir berada di ujung jalan.

Aku selalu merasa perlu mengingat masa-masa itu untuk menjauhkan diriku dari banyaknya hal yang telah berubah. Kau tau? Seorang wanita itu akan merasa bangga ketika ada yang terlalu peduli dengan keadaannya? Dan teman, aku bukan seorang yang seperti itu. Memang tidak sepenuhnya benar, tapi aku selalu terlihat seperti itu. Siapa pun yang memandang, tetap saja aku akan terlihat seperti manusia yang tidak memiliki kepedulian.

Tidak ada yang tau caraku memandang cinta, dan pun tidak ada yang perlu tau (tidak sejauh itu). Banyak yang melakukan kesalahan cinta, namun setidaknya aku tidak pernah kehilangan satu pun teman-temanku karena kisah cintaku. Dan benar memang, aku lebih peduli dengan teman-temanku dari pada kisah-kisah cintaku yang kebanyakan hancur.

Tidak perlu dibahas, karena tidak ada yang peduli dengan kisah persahabatan. Orang jaman sekarang lebih suka mengarahkan pandang pada kisah-kisah cinta yang indah. Kau tidak harus mempercayai kata-kataku, kau hanya perlu mengingatnya, karena suatu saat kau pasti tau rasanya menjadi manusia yang memandang dengan sudut pandangku.

"Lupakan janjimu untuk orang yang tidak mengharapkan penempatian dari janjimu itu. Aku tau kita tidak hidup untuk melupakan, namun aku tetap mengatakan, kau lebih baik melupakan, dari pada mengingat. Karena hanya itu satu-satunya jalan untuk berlalu dari masa lalu yang kau anggap buram itu".

Ada banyak sejarah yang harus kita ciptakan, ada banyak cerita yang memerlukan sentuhan awal. Tapi aku masih berdiri di sini sebagai orang yang terlihat kecewa. Dan entah apa alasan dari kekecewaan itu. Aku harap aku tidak salah membuat pilihan.

Aku hanya tidak tau harus mulai dari mana, terlalu banyak hal yang telah rusak, bagaimana bisa aku memperbaikinya. Karena sebagai seorang pemalas kelas tinggi, aku terlalu ambisius. Dan itu adalah kesalahan. Sekarang aku benar-benar tidak tau tempat tujuanku, aku hanya merasa sedikit beruntung saja karena masih memiliki kesempatan untuk mencari dan mencoba. Dan ya, aku akan mengambil kesempatan itu!

Post a Comment

loading...
 
Top