loading...

Hikayat Wanita Malam

Kenangan-kenangan yang menghina kekuatannya, membuat dia lupa siapa dirinya. Nyanyian malam membius indah masa lalunya, dia bahkan tidak bisa berbuat banyak. Cahaya yang memeluk kekosongan malam itu, menyisakan ia bersama semua rasa sakitnya. Hatinya yang retak karena pintunya pernah terbuka. Kesombongan yang membuat dia lebih buruk. Jadi, dia telah membuang semua kesombongannya.

Kalimat yang bergerak melingkari pikirannya, memaknai sambungan kata yang berujung pada tanda tanya. Dirinya yang lebih baik menunggu dia di sana, tapi dia hanya ingin memulai sesuatu yang sudah berakhir. Yang dia tau, dia harus menyelamatkan dirinya sendiri, atau dia akan berdosa pada dirinya yang lain. Namun tujuannya tersembunyi di balik matahari pagi, dan dia harus menunggu suara ayam menyerupainya.

Aku tidak berani menghampirinya, aku takut suaraku merusak mimpi-mimpinya. Jadi aku melihatnya dari jauh, air mata yang sudah lama kering karena dia lupa siapa yang harus ditangisi. Dia mengambil secarik kertas yang menunggu di dalam dompetnya, berniat membeli kesenangan. Tapi kertas-kertas itu bertanya padanya, siapa lagi yang akan terluka hari ini?

Sekarang giliranku yang menangis, karena aku tau dia tidak punya sesiapa di atas tanah. Semua yang dia miliki sudah berada di bawahnya, dan dia menanggung hidup sendirian. Dia hanya punya pikiran yang cantik, tapi tidak bisa dipergunakan pada tempatnya. Dia hanya bicara saat seorang bajingan mendekatinya, karena begitulah cara dia menyambung nyawanya.

"Hikayat Wanita Malam"
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments