loading...
Semuanya baik. Tidak ada yang bisa disebut masalah. Hubungan kami baik. Hingga waktu telah tiba untuk dia pergi, dan aku hanya harus merelakan. Tidak. Hubungan kami tidak putus. Kami hanya akan tanpa komunikasi selama 3 bulan. Itu adalah hal wajar untuk dia. Dan karena itu wajar untuk dia, maka itu juga harus wajar untuk aku. Dan aku maklum keadaan itu.

3 bulan. Aku terus berpikir tentang hari pertemuan kami. Terkadang, aku seperti anak kecil, berharap hari itu akan datang secepat mungkin, tanpa harus dihalangi hari lainnya. Dan selama itu pula, aku sering berpikir dia akan kembali dengan mengatakan "aku sangat merindukanmu". Dan sampai sebelum dia pulang, aku akan mempersiapkan sebuah kado untuk menyambut hari indah itu.

Kehidupanku biasa saja sebelum dia datang, dan akan sama biasa saja setelah dia pergi. Maka begitulah aku menghabiskan hari demi hariku tanpanya. Bedanya, sekarang aku memiliki sesuatu yang benar-benar aku harapkan kehadirannya.

Dan lalu dia kembali, tapi itu tidak terlihat seperti hari yang aku tunggu-tunggu itu. Aku tidak terlalu berharap akan menjadi orang pertama yang selalu dia hubungi untuk kabar gembiranya, namun itu, aku sedikit benci jika harus mengetahui kabar dia dari orang lain. Dan itulah yang terjadi. Sahabatku, dialah orang yang membawa kabar itu.

Aku bukan tipe pemarah yang suka menghina disaat aku marah. Aku bukan tipe pemarah yang berteriak disaat aku marah. Aku adalah tipe lainnya, aku akan diam dan mengatakan pada diriku sendiri, itu tidak layak untuk dipermasalahkan.

Kemudian dia menghubungi. Itu membuat aku berharap dia akan menjelaskan beberapa hal. Tapi ternyata tidak, semuanya semakin tidak jelas saat dia mulai bicara. Semuanya menjadi kacau, semuanya semakin menjauh dari apa yang aku pikirkan selama ini. Dia sama sekali tidak terlihat seperti ingin mengatakan "aku merindukan". Tidak sama sekali.

"Kado Untuk Api"

Aku memandang kado yang aku bungkus dua minggu sebelum dia pulang. Aku bangkit mendekati. Lalu melemparnya ke dinding. Tapi Kado itu tidak hancur, hingga aku membakar hangus... dan berharap, semua kenangan ikut lenyap bersama api itu.

Wanita? Makhluk yang mencintai dengan seharusnya. Diam dengan seharusnya. Namun disaat dia diam, jangan pernah mendekati apalagi mengganggu. Jadi aku pergi dari hidupnya, membawa semua yang mungkin telah dia lupakan.

Tidak, aku tidak pergi sembari membawa benci. Aku pergi karena aku sangat mencintainya. Dan aku tidak ingin mencintainya dengan cara menyiksa diri. Karena itu bukan cara mencintai. Jadi di sana aku tidak mengatakan sepatah kata pun, aku hanya sedikit berharap, semoga dia benar-benar hilang ingatan dan tidak pernah menghubungiku.

Post a Comment

loading...
 
Top