loading...
Aku pernah bermimpi tentang seorang, seorang yang tidak aku kenal, seorang wanita. Semuanya samar hitam. Yang sangat terlihat hanyalah, dia memberi senyuman padaku, sembari mengulurkan tangan. Aku sangat ingat, itu adalah tangan kanannya.

Tangan itu meminta diri dihampiri. Dan aku merasakan tanganku bergerak berusaha meraih. Namun, sebelum aku berhasil mencapai tangan itu, aku selalu tersadar dari mimpiku. Dan begitulah mimpi yang hampir setiap hari menemani, di Januari-ku tahun 2015. Sangat beralasan, aku sangat menghafal senyuman itu.

Dan lalu aku bertemu wanita itu di dalam dunia nyataku. Kami memulai pertemuan dengan sangat baik. Kami semakin dekat setiap harinya. Semakin terbuka setiap harinya. Hingga kami tidak lagi merasa malu menceritakan kebodohan-kebodohan kami.

Hanya sedikit disayangkan, mulai dari hari pertemuan itu, mimpi itu tidak pernah lagi datang menghampiri. Pernah sesekali aku menyesali pertemuan itu, karena ada sesuatu di dalam diriku yang mengatakan kalau mimpi itu lebih dari sekedar indah walau hanya berakhir disaat aku tidak pernah berhasil meraih tangan itu. Dan pun setidaknya, aku sangat ingin mengawali hari dengan senyuman indah itu. Dan sekarang, hanyalah mimpi kosong yang ada.

"Mimpi Yang Sama?"

Waktu-waktu terus berjalan, mengganti setiap coretan detik. Aku akhirnya menceritakan mimpi itu padanya. Aku tidak ingat bagaimana dia menanggapinya. Hanya aku sedikit merasakan, dia tidak percaya, dan sama sekali tidak peduli.

Rasanya kejadian itu sudah lama berlalu. Dan kami sudah tidak lagi berkomunikasi sejak pertengahan tahun 2016. Kecuali beberapa hari yang lalu; saat dia mengirimku pesan melalui Akun Facebook milik adiknya.

Aku pikir itu adalah adiknya, hingga kemudian dia mengakui kalau itu adalah dirinya. Dan saat aku tau kalau itu adalah pesan darinya, aku tidak lagi memberi peduli.

Aku suka mengganggu adiknya di Facebook, karena aku cenderung suka anak kecil yang pemalu; dalam artian aku gemas. Sejak dulu kami memang sering membalas canda melalui Fitur Pesan di Facebook, juga terkadang saling mengomentari status. Kebanyakan isinya hanya gurauan, jadi itu bukan masalah besar untuk dipermasalahkan. Namun sekarang, aku mulai lebih berpikir kalau semua yang terjadi antara aku dan adiknya, itu adalah dia; bukan adiknya.

Dan sekarang mimpi itu telah usai, semuanya telah usai. Aku bahkan tidak ingin tau apakah mimpi yang terulang itu memiliki arti besar untuk hidupku. Namun yang pasti, bagiku, mimpi itu tidak pernah mengartikan apa-apa (setidaknya; tidak untuk saat ini).

Post a Comment

loading...
 
Top