Kupu-Kupu Kotor
=================================


Terkatakan itu menyetarakan diri dengan zaman.
Padahal engkau yang jauh lebih tau;
Pintu rumahmu telah rusak,
Akibat keras engkau membanting.

Dan aku?
Aku hanya ingin terlihat PEDULI.
Dan aku?
Aku hanya ingin terlihat menghargai.

Wahai engkau pelita hati,
Mengapa tega engkau mengembang,
Berlagak lugu menghormati zaman,
Seolah itu tolak ukur harga diri.

Tidakkah engkau menyadari,
Bahwa mata-mata yang menyinggahimu,
Adalah mata yang akan merusak kelopakmu berbunga,
Membungkus keyakinanmu; seperti sedianya engkau membungkus diri.

Duhai engkau pengumbar nafsu,
Mengapa tega engkau berhikayat,
Meludahi nama baik keluarga,
Saudara-saudaramu, dan bahkan negara dan agamamu.

Dan tidakkah engkau menyadari,
Bahwa pintu yang telah dan akan engkau hancurkan itu,
Adalah pintu yang akan selamanya terbuka;
Untuk anak-anak cucu, suamimu, dan cerminan hidupmu.

Sedih teramat bagiku,
Sumringah tersangat bagimu.

Kupu-kupu kotor bernaung benci,
Aku berharap padamu.
Kupu-kupu kota berpupuk iri,
Aku bersedih untukmu.

Maka jangan engkau melupa, sejarah yang disimpan kenyataan;
Menjadi patuh bukan berarti tertindas.
Maka jangan engkau melupa, tempat dari mana engkau berasal,
Karena tempat itu akan selalu menunggu...


Kilah dariku adalah raja,
Kilah darimu adalah ratu.
Tapi kerajaan selalu milik Azali.

Kilah darimu adalah tiga,
Kilah dariku hanyalah satu; setelah tiga itu.
Maka jangan engkau mengharap setara,
Karena engkau lebih tinggi; dari setara yang engkau harap itu.

Dan engkau,
Engkau bukan kupu-kupu kotor,
Engkau bukan kupu-kupu kota.


=================================
Puisi: Kupu-Kupu Kotor
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Kupu-Kupu Kotor"

Post a Comment

loading...
 
Top