loading...

Terlalu Sangat Berlalu

Pernah aku mengingat beberapa janji yang hilang tempatinya;
Kejamnya mimpi yang hilang laksananya.
Masa lalu itu, bukan pujian akan lunaknya hatiku.
Masa lalu itu, bukan kenangan yang seharusnya berlalu.

Yang hilang dengan perlahan, disita kehendak-kehendak waktu.
Tidak lagi ada seragam yang bisa aku kenakan, tidak lagi.
Terkadang aku berharap masa-masa itu akan selalu berjaya,
Masa itu akan selalu memeluk.

Namun waktu, bukan waktu namanya;
Jika ia tidak mampu menghimpit sejarah.
Tapi lalu, adakah yang mengerti?
Atau mungkin, hanya aku yang tidak pernah mengerti?

Waktu yang menjadikan subuh alasan pergantian malam;
Perpisahan sekolah alasan pergantian jalan.
Yang tersisa kini hanyalah malam-malam panjang, untuk si perenung,
Untuk manusia yang tidak ingin tersingkir.

Berontak, berharap waktu tidak pernah bekerja,
Buram, sepi, dan sulit dimengerti...

Waktu yang selalu mengajari kita,
Untuk menghargai segala hal yang baru;
Segala yang datang secara tiba-tiba,
Segala yang tidak kita harap kehadirannya.

Lalu kemudian kita mulai menghargainya,
Lalu kemudian kita menetap di dalamnya,
Lalu semuanya, kemudian diambil kembali...

Oh waktu yang sungguh kasar,
Yang memaksa, untuk tidak terlalu menghargai pemberian.
Dan hanya...
Atau mungkin, hanya akulah yang kasar.

Hari-hari yang berlalu, waktu-waktu yang bergerak,
Meninggalkan siapapun yang menetap.
Terkadang aku berpikir,
Mengapa waktu tidak pernah membiarkan kita yang memilih?

Mengapa harus, selalu dia yang memilih?

Banyak kisah yang membisu di sana,
Menyita semua yang tertinggal,
Atau mungkin, hanya aku yang tertinggal?
Atau mungkin, hanya aku yang tidak pernah mengerti?

Dan lalu, semuanya berlalu,
Terlalu sangat berlalu.

April, 2017
"Puisi terlalu Sangat Berlalu"
Puisi: Terlalu Sangat Berlalu
Oleh: Arief Munandar

Post a Comment

loading...
 
Top