Mei 2017
Hari Setelah Esok

Saat aku kecil, aku selalu berpikir, tidak akan mengapa jika hari ini harus berakhir, karena masih ada hari esok yang akan selalu menunggu; hari yang akan sama indahnya, hari yang akan seperti hari ini.

Aku jarang berpikir tentang hari setelah hari esok, karena aku pikir tidak akan ada bedanya, karena aku pikir aku akan selamanya menjadi anak kecil, karena aku pikir aku tidak akan pernah menjadi tua.

Lalu aku lulus Sekolah Dasar, membuat aku mulai berpikir dengan cara yang sedikit berbeda; ternyata aku tidak akan selamanya di sini, ternyata aku terlalu menghargai masa kecilku.

Untuk pertama kalinya aku terlihat bicara tentang hari setelah hari esok. Merancang keinginan, menangisi hari-hari yang telah pergi dengan sendirinya. Terkadang aku ingin berada di sana, sekejap, hanya untuk berterima kasih.

Muhajir, dia adalah orang yang membuka mataku, dia yang menunjukkan padaku, "Itu masa depanmu, pergilah! Hadapilah!".

Al-Furqan Bambi, aku ada di sana karena berpikir Muhajir sahabatku akan ada di sana. Ternyata aku salah, dia hanya menuliskan awal kisahku, dia menulis kisah lainnya untuk dirinya.
 
"Cerita: Hari Setelah Esok"
Cerita: Hari Setelah Esok
Oleh: Arief Munandar
Dan Inilah Sajakku

Hari ini aku tulis sajak
Sebelum waktu habis membeku
Atau cahya lampu membisu
Dan inilah sajak itu
-; tentang diriku

Lelaki liar itu aku
Mata lincah-nanar milikku
Tingkah seperti belukar

Lelaki bejat itu aku
Pengecut dan tukang tipu
Bulan dalam kubangan batu

Hari ini aku tulis lagi
Sebagai tanda bejat moralku
Sebagai tanda bebal akalku
Selingkuhi perempuan binal
Ciumi perempuan sundal
-; Itu aku itu aku

Dan inilah sajak itu.

Desember, 2011
"Cucuk Espe"
PuisiDan Inilah Sajakku
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Anak-anak Indonesia

Kehilangan ladang di kampung mereka
Anak-anak Indonesia merangkak
di lorong-lorong gelap kota
Berjejal mereka di gerbong-gerbong

Kereta api senja
Terimpit dalam gubuk-gubuk
tanpa jendela
Anak-anak Indonesia akan digiring
kemanakah mereka

Bagai berjuta bebek mereka bersuara menyanyi
lagu tanpa syair dan nada
Sebelum matahari terbit, anak-anak Indonesia
berderet di tepi jalan raya
menggapai-gapaikan tangan mereka ke gedung-
gedung berkaca yang selalu tertutup pintu-pintunya.

Dari pagi hingga sore mereka antre lowongan kerja
tapi lantas dibuang ke daerah transmigrasi
Terusir dari tanah kelahiran (demi bendungan dan lapangan
golf katanya)

Anak-anak Indonesia tercecer di pasar-pasar kota, di kaki-
kaki hotel dan biro-biro ekspor tenaga kerja
Anak-anak Indonesia, akan dibawa kemanakah
Ketika bangku-bangku sekolah bukan lagi dewa
yang bisa menolong nasib mereka?

"Ahmadun Yosi Herfanda"
PuisiAnak-anak Indonesia
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Ruth B (Ruth Berhe) adalah seorang penyanyi yang sekaligus juga penulis lagu asal Kanada. Dia memulai karir musiknya dari Sosial Media Vine. Di mana di Media Sosial tersebut, Ruth B sering membagikan Video yang berisikan Piano dan lagu milik artis lain yang dia cover menjadi versinya sendiri (anda bisa melihat sendiri di halaman ini: Akun Vine Resmi Milik Ruth B). Dari sanalah Ruth B akhirnya mulai tertarik untuk menulis lagu miliknya sendiri.

"Daftar Kumpulan Lagu Ruth B"

Pada tanggal 27 November 2015, Ruth B resmi merilis EP (Mini Album) pertamanya, The Intro. Single andalan untuk album tersebut adalah Lagu Lost Boy. Lagu tersebut berhasil mengangkat namanya hingga sampai ke Indonesia.

Berlanjut tanggal 5 Mei 2017, Ruth B merilis Album pertamanya, Safe Haven. Album ini berisikan 12 lagu (10 di antaranya adalah lagu baru dan 2 lainnya adalah lagu dari EP The Intro yang dibawa ulang).

Daftar Kumpulan Lagu Ruth B

Mini Album 2015: The Intro
2 Poor Kids
Lost Boy
Golden
Superficial Love

Album 2017: Safe Haven
Mixed Signals
Dandelions
Unrighteous
Superficial Love
If This Is Love
Lost Boy
Young
If By Chance
World War 3
Safe Haven
In My Dreams
First Time
Rindu Tak Terkuburkan

Gelisah menyasar lambung, bagai
sedang menghaluskan permukaan
rindu, dengan amplas nomor 12 -
miang baja mengkilaskan suasana hati

Aku tidak lagi jenak mengenangkanmu
- siksa berulang, ramadan memanjang 
tanpa ada lebaran dan takbiran; sedang
mercon bersidentam menyerukan kangen

Seperti perempuan hamil, dengan si
janin mati sebelum melahirkan: aku
menanggung cinta selamanya - melampaui
penguburan bawah kanopi bambu rimbun

Nun. Tapi aku kembali setia menjemput
kembali ke pintu halaman - meski kaki
tidak jejak seperti selama itu. Mengambang.

2015
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Rindu Tak Terkuburkan
Karya: Beni Setia
Jakarta Echo

(1)
Ini adalah blues - irama perih
perbudakan, kesengsaraan tiada
batas yang nyaris tanpa akhir.

Ini adalah blusukan - dangdutan
dengan banyak mabuk, hiburan
mimpi siang bolong, dan jogetan
blusukan saat macet atau banjir.

(2)
Setiap yang hidup pasti
akan mati, maka
belajar berserah diri. Tawakal.

Setiap korupsi pasti
akan disergap KPK, maka
banyak senyum bila ditangkap.

(3)
Apa ketika kampanye, ketika
pilkada: orang boleh bilang
apa saja, meski itu hoax?

Apa demi bea kampanye, ketika
pilkada: orang boleh berbuat
apa saja. Termasuk korupsi?

(4)
Bila musim penghujan
selalu sesuai jadwal: kenapa
limpasan air tak tertampung palung
sungai, yang dangkal karena abrasi?

Menyempit dan mendangkal. Air
tergenang! Apa itu salah hujan,
mal-planologi pemukiman, atau sebab
target membangun yang turap gagal?

: apa itu karena enggan
menggusur, apa karena
melipat dana penggusuran?

(5)
Dengan e-KTP, meski
tanpa surat undangan nyoblos,
sebagai penduduk terdaftar. Legal:
kita bisa memilih - bebas nyoblos

- atau mereka ingin dipotong?

Dan seperti kartu debit,
dengan itu kita bisa menarik
uang tunai, bungkusan sembako
serta tidak melulu uang transpor

- semua gratis diuruskan orang.


2017
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Jakarta Echo
Karya: Beni Setia
Wahdatul Wujud

(1)
Mungkin ruh akan pulang sebagai gema ledakan.
Sisa denging usai tubuh meletus - seluruh

Tanpa aroma tanpa rasa - tak terasakan tak terbaui.
Gaib. Terperangkap dalam kenangan.

Sendiri dalam subyektivitas. Terisolasi di inti sepi.

(2)
Biji akan tumbuh di tempat sampah begitu daging
buah habis dimakan vegetarian.

Lantas apa beda kau dengan kalong, dengan luak
- karena kau sangat suka kopi - ?

Biji akan tumbuh di tempatnya dibuang, sedangkan
ruh bangkit dari kuburan. Gentayangan.

Di surga: kita tak akan saling mengenal - kita terisolir.
Teralienasi disesap emosi subyektif.

(3)
Gerbong kereta eksekutif segera dibersihkan begitu tiba
di stasiun, begitu penumpang turun dan naik taksi.

Ruh melayang-layang saat tubuh dikuburkan: agar hancur,
agar pulih (diutuhkan) lagi dan ruh diselusupkan.

Untuk merasakan dunia, untuk menyesap dunia dalam wujud
surga atau disesap dalam wujud neraka. Belenggu ketubuhan.

Makrokosmos diproyeksikan ke dalam tubuh, ke alam mikrokosmos.

(4)
Setapak membawa ke hutan, seperti mahabarata
memandu pandawa di gunung.

Rumput dan semak menghapus jejak, bahkan
tubuh diencerkan dan diruapkan.

Sedang ruh memasuki lubang cacing, untuk
(nanti) dihadapkan dengan tubuh lagi

Si ruang pengadilan, si jaksa pendakwa - 
lantas maha-vonis Hakim Agung.

(5)
Mungkin lahir lagi sebagai batu. Terlupakan - sebelum diangkat
dan dijatuhkan hanoman. Si penumbuk kepala kemungkaran.

Dan gaib di keheningan. Mungkin jelma anjing, yang peka akan
kotoran dan aroma hormonal kelamin - mungkin sebotol vodka,

Mungkin kilau awal fajar. Dan diseret (tubuh) ke pusat kepikukan
- bergasing di dalam putaran karma. Berulang-ulang disilahirkan.


2017
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Wahdatul Wujud
Karya: Beni Setia
Pada Satu Tamasya Akhir Tahun

Jangan percaya pada omongan mereka

Katanya, katanya bos besar, saya tak boleh
ikut. Bohong itu - akan saya cek langsung

: Saya akan cek langsung. Interlokal

Mungkin mereka ingin saya tak ikut piknik,
dan ingin kerabatnya yang ikut - gratisan

Mereka bilang bos besar melarang saya ikut
piknik. Bohong itu - konyol

Mungkin mereka tahu saya akan membawa
dagangan dan menjajakannya dalam bus
itu

Kelicikan bisnis terselubung. Mereka iri!
Tak tahu cari kesempatan di kesempitan.

Kalian jangan mau ditipu, kalian jangan
dengar omongan mereka.


2016
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Pada Satu Tamasya Akhir Tahun
Karya: Beni Setia
Di Trotoar Bersama Orang Pulang Kerja

Di trotoar bersama orang pulang kerja
aku jadi orang ketiga. Juga bagi diri

Bersama. Berjalan dan membayang pada etalase
aku merasa tak bersama dengan yang mengada
pada kaca. Dengan galauan dan gegasan kota

Orang-orang bergumam, orang-orang membungkam,
orang-orang tak saling menandai. Aku menangis

Terkadang seperti ada yang mengawasi dari langit
menyimak dengan kebisuan tak berperasaan
dengan dugaan-dugaan asyik dalam benak

Di trotoar ada yang berjalan-jalan. Melangkah
dan meludah. Melangkah dan meludah.

1980
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Di Trotoar Bersama Orang Pulang Kerja
Karya: Beni Setia
Li Bai

Hanya Li Bai, gunung,
dan Arak. Bertiga
hikmati awan berarak

Di bening sungai minuman
tempat duka tak bisa
lama berdiam, terpana
kami berdua
di bentangan sejarah
subur dan basah

oleh airmata. Aku dan dia
diam-diam menyulingnya
jadi gelak tawa.


"Agus R. Sarjono"
Puisi: Li Bai
Karya: Agus R. Sarjono
Saint-Exupery

Seorang penulis buku anak
dengan indah telah meminta maaf
pada anak-anak, karena cerita untuk mereka
dengan terpaksa, pada orang dewasa
dipersembahkan. Ada sekian alasan
dan sebab: yang utama, tentunya
karena orang dewasa paling banyak
kehilangan. Misalnya saja warna-warna
di alam semesta. Makin dewasa
makin sedikit warna tersisa bagi manusia
yakni warna-warna dasar yang sederhana
karena warna pelangi, warna berseri
warna terang, cerah, dan norak
hanya milik dunia anak-anak.

Belum lagi kehilangan yang lebih mencekam
: otot, gairah, mimpi, usia muda,
rasa ingin tahu, khayalan, rasa heran,
kekaguman paripurna pada dunia
yang masih segar dicipta
belum diterjemahkan jadi angka-angka
kering dan kejam di pasar saham.

Setiap anak dilahirkan sebagai pangeran kecil
gemilang dalam cahaya gemintang mungil
Mereka segera jadi kaum papa jelata
begitu ia menjelma jadi dewasa,
tak peduli berapa istana ia punya,
berapa timbunan harta dalam simpanan.
Karena hanya pada kanak, bintang
di angkasa merasa punya hubungan
rubah di hutan merasa berteman.

Orang dewasa berdiam di jauhan
dengan bedil di tangan: lelah, cemas,
dan siaga. Tak melihat hubungan lain
dengan kehidupan selain jadi pemburu
atau diburu. Tak putus-putus mabuk
untuk menghapus rasa malu
karena telah menjadi pemabuk.

Maka kepada anak-anak tolong maafkan
bila bahkan buku untuk kalian
kepada orang dewasa dipersembahkan.
Kasihanilah kami orang dewasa
yang begitu banyak kehilangan.
Yang terbesar dan tak tergantikan
adalah hilangnya masa kanak
anugerah terindah dari kehidupan
yang begitu lekas musnah
dan menyilam.

"Agus R. Sarjono"
Puisi: Saint-Exupery
Karya: Agus R. Sarjono