Wahdatul Wujud

(1)
Mungkin ruh akan pulang sebagai gema ledakan.
Sisa denging usai tubuh meletus - seluruh

Tanpa aroma tanpa rasa - tak terasakan tak terbaui.
Gaib. Terperangkap dalam kenangan.

Sendiri dalam subyektivitas. Terisolasi di inti sepi.

(2)
Biji akan tumbuh di tempat sampah begitu daging
buah habis dimakan vegetarian.

Lantas apa beda kau dengan kalong, dengan luak
- karena kau sangat suka kopi - ?

Biji akan tumbuh di tempatnya dibuang, sedangkan
ruh bangkit dari kuburan. Gentayangan.

Di surga: kita tak akan saling mengenal - kita terisolir.
Teralienasi disesap emosi subyektif.

(3)
Gerbong kereta eksekutif segera dibersihkan begitu tiba
di stasiun, begitu penumpang turun dan naik taksi.

Ruh melayang-layang saat tubuh dikuburkan: agar hancur,
agar pulih (diutuhkan) lagi dan ruh diselusupkan.

Untuk merasakan dunia, untuk menyesap dunia dalam wujud
surga atau disesap dalam wujud neraka. Belenggu ketubuhan.

Makrokosmos diproyeksikan ke dalam tubuh, ke alam mikrokosmos.

(4)
Setapak membawa ke hutan, seperti mahabarata
memandu pandawa di gunung.

Rumput dan semak menghapus jejak, bahkan
tubuh diencerkan dan diruapkan.

Sedang ruh memasuki lubang cacing, untuk
(nanti) dihadapkan dengan tubuh lagi

Si ruang pengadilan, si jaksa pendakwa - 
lantas maha-vonis Hakim Agung.

(5)
Mungkin lahir lagi sebagai batu. Terlupakan - sebelum diangkat
dan dijatuhkan hanoman. Si penumbuk kepala kemungkaran.

Dan gaib di keheningan. Mungkin jelma anjing, yang peka akan
kotoran dan aroma hormonal kelamin - mungkin sebotol vodka,

Mungkin kilau awal fajar. Dan diseret (tubuh) ke pusat kepikukan
- bergasing di dalam putaran karma. Berulang-ulang disilahirkan.


2017
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Wahdatul Wujud
Karya: Beni Setia

Post a Comment

loading...
 
Top