loading...
Dia berjalan ke sana kemari. Dia tidak tahu ke mana harus bersandar. Dia melihat ke belakang, dia mengira ada seseorang yang mengikutinya. Tapi tidak ada siapapun. Dia berhenti, mengambil telepon genggam dari sakunya, mencari satu nomor yang sangat ingin dia hubungi. Dia menunggu... tapi tidak ada jawabannya.

"Tersenyum pada Akhirnya"

Dia mulai berjalan lagi. Dan hari semakin gelap. Dia bahkan tidak melihat bulan, terlihat seakan sepenuhnya tertutupi awan, atau tersembunyi dengan sendirinya. Entah seberapa menakutkan malam akan berjalan.

Dia tahu, dia telah membuat keputusan yang salah. Dia seharusnya tidak keluar dari rumah, dia seharusnya tetap berada di rumah dan menutup mulutnya. Tapi dia tidak bisa menahan.

Begitulah kebiasaannya. Dia selalu ingin mengatakan kebenaran; bahkan jika itu menyakitkan untuk didengar. Ibunya menghabiskan waktu dengan seorang pria yang bahkan belum pernah datang ke rumahnya.

Dan sekarang, dia sendirian dalam ketidakjelasan yang mutlak, menyesali keputusannya.

Penyesalannya yang tumbuh lebih besar dan lebih besar saat ia menoleh ke belakang dan melihat ada seorang pria, atau mungkin dua. Dia tidak begitu yakin, dia terlalu takut untuk melihat lagi seraya memastikan.

Kemudian dia merasakan adanya tangan di punggungnya, di mulutnya, di matanya. Dia berteriak sangat keras... tapi bahkan dia tidak bisa mendengar suara apapun yang keluar dari mulutnya sendiri. Dia tidak bisa melihat apa-apa, tidak bisa mendengar apa-apa lagi.

Dia tau begitulah akhirnya, dan dia tersenyum.

Post a Comment

loading...
 
Top