loading...
Kalanya aku bertempat di ketinggian, berharap agar aku bisa terus semakin tinggi. Mendaki dan terus mendaki, berharap agar aku selalu menemukan tempat yang bisa aku banggakan. Segala hal di sini membuatku harus selalu melihat ke atas, hal yang terkadang juga membuatku lupa melihat ke bawah. Dan yang semakin menghimpit batin, adalah tidak ada yang tersisa lagi untuk aku kembali ke bawah.

Sesekali jalan terasa kosong, aku menundukkan kepalaku seakan aku telah berada di batas ketinggian. Diperantarakan untuk terjatuh, merasa tidak berguna namun masih berharap memiliki tempat untuk bertujuan. Seakan pertama kalinya aku melihat ke bawah, hanya untuk mencari tau seberapa jauh aku akan terjatuh. Bergantung, dan aku masih bergantungan.

Aku telah merelakan banyak hal yang ada di bawah, agar aku tidak memiliki alasan untuk kembali. Maka bagaimana jika aku terjatuh, siapa yang akan menunggu di sana? Aku tau tidak ada apa pun lagi di sana untukku, jadi aku tidak boleh terjatuh. Tidak ada siapa pun di sana, jadi aku harus kembali melihat ke atas.

Aku selalu merasa terpanggil oleh sesuatu yang menunggu di atasku, sesuatu yang mungkin begitu sangat aku inginkan. Atau mungkin dengan berada di sana, aku bisa mengayomi beberapa orang yang setia berada di bawah. Dan iya, aku selalu berharap, walau sebenarnya aku sangat benci menggunakan kata "mungkin". Dan iya, aku selalu ingin menjadi bijaksana, dengan kenyataan, aku sangat benci menjadi "hakim".

Karena aku harus selamat, aku terus mencari ranting. Mengilah daya demi upaya, dan lalu hari ini tiba... aku terjatuh. Tersingkir dari tempat yang sangat aku harapkan, tersingkir dari satu-satunya hal yang sangat aku inginkan. Aku tidak percaya, segala hal yang penuh pertimbangan juga ternyata mampu membuatku terjatuh.

Berdiri lagi di tempat yang tidak memberi ruang untuk aku merasa merdeka, menyesali ketidakpedulianku pada hal-hal yang membuatku terjatuh. Atau kutukan dari penasaran, mimpi-mimpi yang patah karena ketidakmampuanku. Menyedihkan rasanya berada di sini, bersama segala hal yang ingin aku tinggalkan.

Beberapa yang aku pikir akan menertawaiku, nyatanya mereka yang menghapus air mataku. Beberapa yang aku pikir sebaliknya, malah menjadi yang sebaliknya. Setidaknya itulah hal pertama yang aku sadari, dan setidaknya sekarang aku mengetahui siapa teman-temanku. Aku terdiam, dengan segala hal yang semakin terlihat lebih jelas... di saat aku menyesalinya.

Karena aku telah bersama orang-orang yang pantas aku cintai, aku rasa aku telah berada di tempat yang benar. Tidak ada lagi yang harus aku benci, tidak ada lagi yang harus membenciku. Dan karena aku pernah sedikit mengenal ketinggian, aku rasa aku bisa merakit tempat ini menjadi sebuah ketinggian. Dengan begitu aku bisa berhenti mendaki, dengan begitu tidak ada lagi tempat untuk aku terjatuh.

Dan terlebih, aku telah bangkit dari hal-hal yang tidak mampu meruntuhkan ambisiku, dari hal-hal yang membuatku semakin kuat. Dan aku akan kembali mendaki...
"Cerita Mendaki"
Cerita Fantasi: Mendaki...
Oleh: Arief Munandar

Post a Comment

loading...
 
Top