loading...
Duka Sang Bulan


Saat GELAP menertawai BUMI, tiba aku berteman bintang.
Namun engkau telah pulang, diharuskan batas kerjamu yang habis.
Dan aku, aku harus kembali merindu.

Kadang aku berpura, mengeja bingkai urutan palsu,
Menghibur diri dengan pujian ala bintang,
Dengan hati yang masih mengingat engkau telah pulang.

Kau tidak pernah, dan tidak akan pernah menyinggahi,
Itulah alasan sesekali aku berdiri di ufuk barat,
Menunjukkan padamu, bahwa aku menyita waktu demimu.

Namun di sana terangku meredup,
Dihina angkuhnya merahmu.
Dari berdiri...
Lelah 'ku mengatakan...

"Hatiku mencintaimu;
Dengan segenap ikhlas yang aku bawa.
Maka jika engkau memiliki sempat,
Lihatlah aku walau sekejap.
Karena aku telah bertahun mencintai...
Dan akan bertahun lagi mencintaimu".

Lalu aku pulang darimu, membawa harap yang melebur.
Berteman lagi dengan bintang yang siap menyambut.
Berpura lagi...
Bahwa aku bisa hidup tanpamu.

Hanya kenyataan yang begitu buruk,
Karena bahkan...
Aku bersinar dengan cahayamu.

Walau kau terlalu damai dengan siangmu,
Aku terlalu sendu dengan malamku.
'Tak pun 'ku pungkiri...
Aku selalu mencintaimu.

Ulah kesombongamu; yang aku salahkan pada ikhlasku.
Bertahun-tahun aku menunggumu...
Bertahun-tahun...
Matahari.
"puisi duka sang bulan"
Puisi: Duka Sang Bulan
Oleh: Arief Munandar

Post a Comment

loading...
 
Top