loading...
Ziarah


Kita berjingkat lewat
jalan kecil ini
dengan kaki telanjang; kita berziarah
ke kubur orang-orang yang telah melahirkan kita.

Jangan sampai terjaga mereka!

Kita tak membawa apa-apa. Kita
tak membawa kemenyan atau pun bunga
kecuali seberkas rencana-rencana kecil
(yang senantiasa tertunda-tunda) untuk
kita sombongkan kepada mereka.

Apakah akan kita jumpai wajah-wajah bengis,
atau tulang belulang, atau sisa-sisa jasad mereka
di sana? Tidak, mereka hanya kenangan.
hanya batang-batang cemara yang menusuk langit
yang akar-akarnya pada bumi keras.

Sebenarnya kita belum pernah mengenal mereka;
ibu-bapak kita yang mendongeng
tentang tokoh-tokoh itu, nenek moyang kita itu,
tanpa menyebut-nyebut nama.

Mereka hanyalah mimpi-mimpi kita,
kenangan yang membuat kita merasa
pernah ada.

Kita berziarah; berjingkatlah sesampai
di ujung jalan kecil ini:
sebuah lapangan terbuka
batang-batang cemara
angin.

Tak ada bau kemenyan tak ada bunga-bunga;
mereka telah tidur sejak abad pertama,
semenjak Hari Pertama itu.

Tak ada tulang-belulang tak ada sisa-sisa
jasad mereka.

Ibu-bapa kita sungguh bijaksana, terjebak
kita dalam dongengan nina-bobok.

Di tangan kita berkas-berkas rencana,
di atas kepala
sang Surya.
 
 

Puisi: Ziarah
Karya: Sapardi Djoko Damono
Buku: Hujan Bulan Juni
Tahun: 1967
"Puisi Sapardi Djoko Damono: Ziarah"

Post a Comment

loading...
 
Top