loading...
Pacar pertamaku (harap baca: mantan) dua tahun lebih tua dariku, mungkin itu alasan mengapa dia yang mengutarakan cinta padaku. Dan mungkin... itu juga alasan mengapa dia yang meninggalkanku; tanpa alasan. Itu 8 tahun yang lalu, dan aku berhutang banyak di sana; hutang terimakasih.

"Hutang Terima Kasihku"

Namanya Sukmawati, sama persis seperti nama ibuku. Itulah mengapa aku sangat malu mengungkit kisah tentangnya. Bertemu dengannya di depan sekolahnya, dia yang bernuansa putih-abu-abu, sedang aku masih dengan putih-biru. PERSONI (Pekan Olahraga dan Seni) adalah alasan pertemuan kami.

Bicara panjang tentang privasi-privasi usang, dia tau caranya menghargai suara jelekku. Satu hal yang mungkin menjadi daya tarik dari suaraku adalah JENAKA. Terlihat tidak pernah tau cara serius, dan itulah yang terkadang menjadi pujian dari telinga beberapa wanita idaman.

Dia terlihat bak sosok bintang film barat, dengan wajah yang lonjong, dengan mata paduan biru-hijau. Itu adalah kali pertama aku percaya; Sosok Peri itu memang ada. Sesaat setelah aku mengatakan, "sampai jumpa".

Dia mengatakan, "temui aku di sini... waktu yang sama... besok hari!".

Itu adalah ungkapan terindah yang pernah aku dengar dari seorang wanita yang baru aku temui. Nada yang sedikit memaksa harus disetujui, namun semua orang harus menyetujuinya. Dan sebagai seorang wanita, dia bukan tipe orang yang banyak bicara, malahan dia sangat pandai menghargai suara orang lain. Aku mungkin hanyalah satu dari banyaknya korban dari sifat pandai menghargai yang dia miliki itu.

Berbalik dari sana, aku membawanya ke dalam setiap khayalan malamku, kali pertama sosok indah merasuk jauh ke dalam relung penasaran. Dan esoknya, aku terpaksa menempati janji yang dipaksakan untuk hanya aku yang harus menghormati.

Hari ini berbalik dari hari kemarin, dia terlihat begitu banyak bicara. Dan semua yang dibicarakannya terlihat sangat tidak berkesinambungan. Aku merasa aneh dengan perubahan sikapnya, tapi aku masih berharap agar dia terus berbicara. Dan ujung dari paragraf panjang itu, dia mengatakan, "mau nggak kamu jadi pacar Ima".

Beberapa kali aku pernah mendengar kalimat seperti itu dari cerita teman-temanku, tetap terasa aneh. Dan sekejap itu pun aku menjawab, "iya, aku mau".

Dan yang menjadi keanehan lain, disaat itu aku menjulurkan tanganku bak sedang membuat perjanjian kerja sama. Dia pun menyambutnya dengan senyum ringan. Lalu semuanya berubah, suasana menjadi hening seketika, bahkan aku menjadi pendiam untuk sesaat.

Setelah hari itu, beribu keanehan lain mulai menyinggahi. Aku melihat wajahnya setiap kali aku membuka dan menutup mataku. Mimpiku adalah tentang senyuman dan tawa-tawanya yang tulus, tintaku adalah raut wajah sempurna itu. Dan semua yang terlintas di benak pengharapan, 'aku ingin bersamanya... untuk selamanya... apapun itu'.

Kisah berlalu begitu saja. Sempat sekali aku terkejut dengan kehadirannya. Di sana aku melihat sebuah sengaja yang dia bawa dalam senyuman yang teratur; senyuman yang tak pernah sanggup tergantikan.

Aku adalah sosok yang sangat jarang mengenakan baju putih (selain baju sekolah). Namun pada hari itu, aku mendapatkan T-Shirt Putih sebagai sebuah hadiah (di sana aku tidak pernah menyadari, tapi di sini aku sangat menyadari; ternyata dia adalah sosok yang egois, yang memaksakan kehendaknya, karena satu-satunya alasan yang masuk akal mengapa dia memilih warna putih adalah, karena itu adalah warna favoritnya).

Hari itu adalah hari ulang tahunku, dan hari itu juga hari ulang tahunnya. Aku memberinya sebuah jam tangan yang sengaja aku beli dengan susah payah, dan aku memilih warna hitam. Dan hal itu juga bermakna bahwa, aku memilih hitam karena aku suka dengan warna hitam. Entah apa artinya itu... EGOIS.

Setelah hari itu, aku tidak pernah lagi melihat kehadirannya di dalam nyataku. Dan jauh setelah hari itu, aku mendatangi rumahnya, di sana aku berjumpa dengan Riska, tetangganya yang juga sudah menjadi temanku. Satu hal yang aku dapat di sana, dia telah meninggalkan Aceh dan kembali ke tempat asalnya, Jakarta Selatan.

Di sana aku benci segala hal tentangnya, tentang pertemuan yang indah, tentang kisah perjuangan bodoh, tentang senyuman yang pernah dengan sangat aku hargai, tentang segala yang pernah aku miliki bersamanya.

Dan sekarang... di sini... aku masih mencari...
3 januariku... hutang maafku... hutang cintaku... hutang terima kasihku.

Dan di mana pun dia berada, aku ingin dia tau satu hal tentangku. Aku mungkin hanya memiliki cinta monyet bersamanya, tapi aku sangat berterima kasih, karena dia adalah guru dalam cintaku, (juga) guru dalam patah hatiku. Dan dia, dia adalah nama yang pertama kali pernah bersanding di dalam doaku; setelah nama ibuku.

Aku harap dia membaca sedihku ini, sehingga dia mau membuat cara untuk menemuiku. Karena jika dia tidak pernah datang, aku mungkin akan selamanya menunggu.
"Cerita: Hutang Terima Kasihku..."
================================= 
Teruntuk: Hutang Terima Kasihku
=================================

Post a Comment

loading...
 
Top