loading...
Puisi Bukan Pelarian,
Tapi Rumah


Selama ini aku berpikir aku berlari dari kesedihan menuju fiksi, kemudian meninggalkannya setelah aku lelah menunda lelah. Hingga aku bersedih suatu malam, merindukan puisi yang pernah aku nyanyikan untuk diriku.

Selama ini aku berpikir aku tidak pernah mencari renunganku yang hilang, karena aku hidup dalam dunia yang penuh saksi mata. Hingga aku lelah menimbang bimbang, hidup ini tidak menjanjikan apapun selain mati.

Dan lalu aku mati, dengan perlahan dunia akan melupa. Dan lalu tidak ada lagi yang pernah tau tentang aku yang pernah hidup. Hingga melambung kesimpulan: Aku dikubur, aku terlupakan. Aku tertimbun, namaku hilang.

Begitukah?

Aku berjalan, teman.
Aku menulis, ....
Aku beramal, teman.
Aku menulis, ....

Ingatanmu adalah alamatku,
Puisiku adalah rumahku.
Alamatku kau lupakan,
Rumahku tidak sirna total.

Aku berjalan, teman.
Aku menulis, ....
Aku beramal, teman.
Aku menulis, ....

Begitulah!
 
"Puisi Bukan Pelarian, Tapi Rumah"
Puisi Bukan Pelarian, Tapi Rumah
Oleh: Arief Munandar

Post a Comment

loading...
 
Top