loading...

Puisi Bukan Pelarian,
Tapi Rumah

Selama ini aku berpikir aku berlari dari kesedihan menuju fiksi, kemudian meninggalkannya setelah lelah aku menunda lelah. Hingga bersedih suatu malam, merindukan puisi yang pernah aku nyanyikan untuk diriku.

Selama ini aku mengira aku tidak pernah mencari renungan yang hilang, karena aku hidup dalam dunia yang penuh saksi-mata. Hingga lelah aku menimbang bimbang, hidup ini tidak pernah menjanjikan apapun selain mati.

Dan lalu mati, dengan perlahan dunia melupa. Dan lalu tidak ada lagi yang pernah tau tentang aku yang pernah hidup. Hingga melambung kesimpulan: Aku dikubur, aku terlupakan. Aku tertimbun, namaku hilang.

Begitukah?!

Aku berjalan, teman!
Aku menulis, ...

Aku beramal, teman!
Aku menulis, ...

Ingatanmu adalah alamatku,
Puisiku adalah rumahku.

Alamatku kau lupa,
Rumahku tidak sirna total!

Aku berjalan, teman!
Aku menulis, ...

Aku beramal, teman!
Aku menulis, ...

Begitukah?!
 
"Puisi Bukan Pelarian, Tapi Rumah"
Puisi Bukan Pelarian, Tapi Rumah
Oleh: Arief Munandar

Post a Comment

loading...
 
Top