loading...
Singapura

Kepada Suratman Markasan

Ini bukan lagi Tumasik
bukan Selat
yang disebut-sebut Cikgu Mamud
orang Daik Lingga yang dengan bangga bercerita tentang
Singapura lama

Sia-sia kucari jejak Abdullah Munsyi
di antara rumah-rumah panggung yang tersisa
Teluk Air, Kampung Gelam, Lorong Engku Aman, dan
tempat-tempat yang aku sudah lupa entah apa namanya,
gedung lama dan kuburan keramat mulia

Sia-sia kutelusuri lorong berliku
untuk mendengar merdu suara aksen Melayu;
Di gang-gang sempit
tempat orang lalu lalang
sepertinya semua orang di sini
cuma tahu bahasa Hokian
Joran kolor dan kutang
menjulur dari puluhan jendela apartemen
bendera nir-adab
yang membuat senak dada

Tiga dekade yang lalu
selalu kujumpa banyak anak Melayu
berjalan bungkuk menunduk
bahunya berat seperti
gambar dewa Atlas memikul beban dunia
dalam buku-buku sejarah Yunani

Tapi kini tidak lagi
karena bukan kamu saja
yang memikul beban peradaban ini
orang-orang berdatuk-nenek dari
Wonosobo, Ponorogo, Gresik, Kendal, Bawean
semuanya Melayu
Berapa kuat lagi kalian
menahan rempuhan
zaman?
Namun rontaan penghabisan
anak-anak Melayu itu
alangkah gagah
mengumbar senyum
sebelum akhirnya
mungkin saja juri meneriakkan
kalah!
 
"Puisi Idrus Tintin: Singapura"
Puisi: Singapura
Karya: Idrus Tintin
Buku: Nyanyian di Lautan, Tarian di Tengah Hutan
Tahun: 1996

Post a Comment

loading...
 
Top