Para Jendral Marah-marah

Pagi itu kemarahannya
disiarkan oleh televisi.
Tapi aku tidur.
Istriku yang menonton.
Istriku kaget.
Sebab seorang letnan jendral
menyeret-nyeret namaku.

Dengan tergopoh-gopoh
selimutku ditarik-tariknya,
Dengan mata masih lengket aku bertanya:
mengapa?

Hanya beberapa patah kata
ke luar dari mulutnya:
"Namamu di televisi ....."
Kalimat itu terus dia ulang
seperti otomatis.

Aku tidur lagi dan ketika bangun
wajah jendral itu sudah lenyap dari televisi.
Karena acara sudah diganti.

Aku lalu mandi.
Aku hanya ganti baju.
Celananya tidak.
Aku memang lebih
sering ganti baju
ketimbang celana.

Setelah menjemur handuk
aku ke dapur.
Seperti biasa
mertuaku yang setahun lalu
ditinggal mati suaminya itu,
telah meletakkan gelas berisi teh manis.
Seperti biasanya ia meletakkan
di sudut meja kayu panjang itu,
dalam posisi yang gampang diambil.
Istriku sudah mandi pula.
Ketika berpapasan denganku
kembali kalimat itu meluncur.

"Namamu di televisi...." ternyata istriku
jauh lebih cepat mengendus bagaimana
kekejaman kemanusiaan itu dari pada aku.
 
"Puisi: Para Jendral Marah-marah"
Puisi: Para Jendral Marah-marah
Karya: Wiji Thukul

Post a Comment

loading...
 
Top