loading...
Simpang KeNangan


Hanya dua telaga benci, mata air cinta dari petang pedas itu. Begitu yang aku tau, sedari melayang mimpi kala itu. Bukan aku tak pernah tau, tapi itu, rasa ini sangat berbeda. Dan hanya melambai, aku tau kamu terlalu menutup diri.

Melambung angkuh menelusuri rindu yang telah lama ditanggung raga, merangkum majas air mata suci. Tempat bernaungnya, juga alasan berseminya. Katanya dari hati, tapi mengapa mataku yang selalu lebih pantas disalahkan?

Dan mungkin kau hanya sebuah bongkahan fiksi, atau mungkin rangkaian panjang yang tak mungkin diteliti. Itu sangat membingungkan. Sepanjang detik aku terpaku, padamu. Manusia lain bahkan seperti tak nyata. Dan hanya sesaat aku bicara, dalam bahasa-bahasa sebentuk bisik - bising - lain kisah lain kondisi.

Berpaling, menasihati kutukan yang telah lama membimbing langkah kaki ini. Alasan lain, 'Aku mencintaimu', itu tak pernah mutu. 'Kamu mencintaiku', itu juga tak pernah guna. Berulang kali aku melihat mereka meludahinya. Mereka-mereka. Sampai sebelum kita.

Hingga sekarang aku kembali ke sana. Menggali puing-puing sisa kenangan itu. Namun sayang, tempatnya telah berubah, waktunya telah jauh berjalan, mejanya juga telah lama tergantikan. Duduk aku di sana, "Pak, saya pesan Capucino Blender, iya!".

Berdua aku dengan diriku, pikiranku kosong. Aku semacam bom waktu. Siapa yang menyentuh, aku siap meledak. Kias, bukan? Tapi ini seakan nyata. Dan anehnya, dunia terlalu luas untukku, sampai bahkan, aku tak bisa menemukanmu di sini.
 
"Simpang KeNangan"
Tulisan: Simpang KeNangan
Oleh: Arief Munandar

Post a Comment

loading...
 
Top