November 2017
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ciliwung

Ciliwung kurengkuh dalam nyanyi
kerna punya coklat kali Solo.
Mama yang bermukim dalam cinta
dan berulang kusebut dalam sajak
wajahnya tipis terapung
dalam jati yang tembaha.
Hanyutlah mantra-mantra dari dukun
hati menemu segala yang hilang.

Keharuan adalah tonggak setiap ujung
dan air tertumpah dari mata-mata di langit.
Kali coklat menggeliat dan menggeliat.
Wajahnya penuh lingkaran-lingkaran bunda!

Katakanlah dari hulu mana
mengalir wajah-wajah gadis
rumah tua di tanah ibu
ketapang yang kembang, kembang jambu berbulu
dan bibir kekasih yang kukunyah dulu.

Katakanlah, Paman Doblang, katakanlah
dari hulu mana mereka datang:
manisnya madu, manisnya kenang,
Dan pada hati punya biru bunga telang
pulanglah segala yang hilang.
 
 
"Puisi: Ciliwung"
Puisi: Ciliwung
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malam Ini adalah Kulit Merut Nenek Tua


Malam ini adalah kulit merut nenek tua
langkah ini telah disepikan diri dari tuju
wajah bulan penuh takhayul yang dena.

Inginkan teman tapi kujauhi kedai-kedai malam
pada mata susu layu dan segala yang hitam
tiada kenangan tiada damba
langkah-langkah rusuh menapak di lantai hati.

Pemberontak yang lari tanpa tambatan tuju
kerna menampar kepercayaan tiada lagi tempat istirah
matinya konyol di gunung-gunung batu.
Jadi mengapa langkah ini sepikan diri dari tuju?

Segala telah pejam, lampu jalanan pingsan
dingin terali jembatan tiada bicara langsung dari tangan
wajah di air tiada terhanyutkan selain pandang mata.
Willy, wajah di air itu teramat ramah diajak omong!

 
 
"Puisi: Malam Ini adalah Kulit Merut Nenek Tua"
Puisi: Malam Ini adalah Kulit Merut Nenek Tua
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Justru pada Akhir Tahun


Bermukimlah di peti mati dan jangan menangis lagi
aku terpaksa berkhianat dan cintamu jadi siksa
keengganan-kehilangan jadi ketakutan bangsawan
sangsi yang ini mendorong ingin punya segala
dan jadilah hatiku asing pada pangkalan dan persinggahan.

Berilah aku kenikmatan atau keedanan dan bukan cinta
cinta memang kudamba tapi jadi asing di dekatnya
begitu agung ia, mungkin tak kukenal bila singgah di dada
dan oleh luka-luka tak kupercaya lagi kehadirannya.

Terkutuklah saat-saat aku sadari diri begini
tampak tindakku seolah berbunga dosa
tindak yang di sisi hatiku sungguh bening.
(Percayalah! Matamu 'kan mengutuk segala dusta)

Tolonglah memupus lari sangsiku.
(demi cintamu yang tidak waras kepadaku!)
Pendamlah cintamu dalam perbuatan edan
atau sekali-sekali khianatilah aku
atau bermukimlah di peti mati dan jangan menangis lagi
atau bunuh aku dengan tikaman mesra duka cinta
dan segalanya akan putus begitu
bukankah itu mesra, Sayangku?
 
 
"Puisi: Justru pada Akhir Tahun"
Puisi: Justru pada Akhir Tahun
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Petualang


Diserahkannya rindunya pada tali-tali gitar
hatinya tidak lagi di badannya.

Tanah ibu yang jadi asing kecuali dirindu
terbaring antara dua sisi:
istirah dirajai lesu merampas sisa umurnya
dan menggenggam tuju membusuk di dada
ke daerah yang menutup pintu sebelum membuka.

Sebab keyakinan ada arti pada diri
dicobanya berulang kali
berpaling dari hasrat tarik diri.

Dalam alir darahnya mengalir sumpah petualang:
berkubur di lautan apa rimba tak terduga.

Ditatapnya nyalang mula tuju
katupan pintu.
Menatap juga ia kaki belum kuasa dilangkahkan.

Terbawa rindu tiap kelelahan meniduri diri
tanah ibu, sumur tua, mata adiknya
menjerit-jerit ia dalam kebisuan mulutnya
diserahkannya rindunya pada tali-tali gitar.
 
 
"Puisi: Petualang"
Puisi: Petualang
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Burung Terbakar


Ada burung terbang dengan sayap terbakar
dan terbang dengan dendam dan sakit hati.
Gulita pada mata serta nafsu pada cakar.
Mengalir arus pedih yang Cuma berakhir di mati.

Wahai, sayap terbakar dan gulita pada mata.
Orang buangan tak bisa lunak oleh kata.
Dengan sayap terbakar dan sakit hati tak terduga
si burung yang malang terbang di sini: di dada!

 
 
"Puisi: Burung Terbakar"
Puisi: Burung Terbakar
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pelarian Sia-sia


Kehitaman yang bermukim di kepala
melandanya ke lorong-lorong dan pengembaraan malam
- hitam di kepala.

Kehitaman yang memburuinya
mengasingkannya dari hidup sendiri.

Hitam di kepala
kini dikorek dan digalinya.

Tiada satu penemuan
dan masih hitam.

Atau ada juga
tapi ditabiri asmara
asap adalah kediriannya.

Lari! Lari!
terlanda ia.

Terkadang satu malam
dihabisi di kedai kopi.
Angin menguaki dinding
memupus kehangatan.

Menggetar bulu-bulunya
terasa es di botak kepala
bukan oleh dingin angin
tapi keasingan yang hitam
yang dibawa dari daerahnya
- malam.

Kehitaman di kepala!

Alangkah akan lapangnya
seandainya dengan beberapa gelas tuak
terhenti permukimannya.

Tapi bagaimana kalau dalam bius lupa
dalam remang pandang dan segala goyang.
Menari-nari ia berkibaran jubahnya?
Ia itu! Yang hitam!

Kemana lagi lari?
Perjinahan di kandang kuda?
Memberontak dalam genggam sedikit lupa?
Berlari, berlari dan berlari juga
lalu ceburkan diri di kali?

Bagaimana itu bisa?
Kalau kehitaman itu bergayut juga
di berat sepatunya?

Bagaimana itu bisa?

Di suatu saat permenungannya
dilihat anak-anak main bola
di tepi jalan raya
dan tiba-tiba oto merampas satu dari mereka
tanpa duga dan berita!

Akhirnya berteriak juga kehitamannya:
- Lazarus! Lazarus!
yang pernah bangkit dari kematian
beri aku cerita dari jagat seberang
rahim bumi dan kelanjutannya!
Lazarus! Lazarus!
Beri aku cerita!

Merunduk ia.
Dan Lazarus tidak pernah beri cinta.
 
 
"Puisi: Pelarian Sia-sia"
Puisi: Pelarian Sia-sia
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perbuatan Serong


Bulan biru menggelincir
angin dan racun satu kandungan
dan di hati lelaki serong
birahi menggelincir.

Gumpalan kabut, batu putih,
menggelincir di jalanan.
Di bawah lampu ungu di tikungan
perempuan liar menyedot rokoknya.

Bulan biru menggelincir
birahi beracun menggelincir.

Bulan biru dan sutra hitam
bebunga tiduran dan tanpa bauan.
Lelaki serong buka pintu tinggalkan tilam
di dadanya: angin jahat tanpa perumahan.

Bulan biru menggelincir ke barat
lelaki ke utara bersama angin jahat.

Dan di bawah lampu ungu di tikungan
empat mata bertukar tawaran
asap dari hidung dan gigi gemeretakan.

Bulan biru menggelincir ke barat
lari ke utara angin jahat.

Bini yang tua tiada menutup mata
perempuan yang terbunuh setiap malam pintu terbuka.
Dan ketawa yang terdengar dari utara:
geledek di hati yang reda.
 
 
"Puisi: Perbuatan Serong"
Puisi: Perbuatan Serong
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rumpun Alang-alang


Engkaulah perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, Sayang.
Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang.
Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal.
Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal.

Gelap dan bergoyang ia
dan ia pun berbunga dosa.
Engkau tetap yang punya
tapi alang-alang tumbuh di dada.

 
 
"Puisi: Rumpun Alang-alang"
Puisi: Rumpun Alang-alang
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mega Putih
Kepada Suwanto Suwandi yang sedang bernyanyi.

Mega putih adalah tampungan segala bencana.
Mega putih telah lewat.
Maut menunggang di punggungnya.
Mega putih adalah musafir yang kembara.
Kalut dalam tempuhan angin.
Binasa dalam kesepian yang biru.
Tiada bapak, tiada cinta.
Tiada kasih, tanpa cinta.
Mega putih telah lewat.
Tanpa rumah, tanpa keluarga.
Mega putih! Mega putih!
Kemana gerangan perginya?
Arah mana ditempuhnya?
Wahai, angkasa yang luas!
Wahai, langit yang mesra bagai bunda!
Tampunglah dia mega yang kembara.
Kembangkan lengan-lenganmu yang gaib
dan pangkulah dia:
musafir tak berbapak tak berbunda:
awan putih tampungan segala bencana!
 
"Puisi: Mega Putih"
Puisi: Mega Putih
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kenangan dan Kesepian


Rumah tua
dan pagar batu.
Langit di desa dan
sawah dan bambu.

Berkenalan dengan sepi
pada kejemuan disandarkan dirinya.
Jalanan berdebu tak berhati
lewat nasib menatapnya.

Cinta yang datang
burung tak tergenggam.
Batang baja waktu lengang
dari belakang menikam.

Rumah tua
dan pagar batu.
Kenangan lama
dan sepi yang syahdu.
 
 
"Puisi: Kenangan dan Kesepian"
Puisi: Kenangan dan Kesepian
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aminah

Adalah perempuan jalan di pematang
ketika jatuh senjakala.
Sawah muda, angin muda
tapi langkahnya sangat gontainya.

Sebentar nanti bila kakinya
yang beralas sandal itu
menginjak pelataran rumahnya
tentu hari belum gelap terlalu.
Ibunya yang tua akan menatapnya
dan dua batang kali kecil
akan menjalar dari matanya:
Ia akan berkata antara sedannya
"Ibu, aku pulang"
Dan keduanya akan berpelukan.

Maka sementara langit sibuk berdandan
untuk pesta malamnya
dan di udara terdengar sedan kegirangan
yang memancar dari rumah tua,
akan terdengar para tetangga
berbisik antara sesamanya
dan mata mereka bagai kucing
mengintip dari tempat gelap:
"Kampung kita yang tenteram
mulai lagi bermusang.
Ah, ya, betapa malunya!
Telah datang ular yang berbisa!
Jangan dekati ia!"

Adalah perempuan jalan di pematang
ketika jatuh senja kala
sambil memandang tanah kelabu
ia bayangkan dengan terang
yang bakal menimpa dirinya.

Juga sudah terbayangkan olehnya
salah satu bunda cerita pada putranya:
"Jauhi Aminah!
Kalau bunga, ia bunga bangkai.
Kalau buah, ia buah maja.
Ia adalah ular beludak.
Ia adalah burung malam.
Begini ceritanya:
Dulu ia adalah bunga desa
ia harum bagai mawar 
tapi sombong bagai bunga mentari.

Bila mandi di kali
ia adalah ikan yang indah
tubuhnya menyinarkan cahaya tembaga.
Dan di daratan ia bagai merak
berjalan angkuh dan mengangkat mukanya.
Para pemuda menggadaikan hati untuknya.
Tapi ia kejam dan tak kenal cinta.
Ia banyak dengar dongeng tentang putri bangsawan
lalu ia bayangkan ia putri
lalu ia inginkan kekayaan.
Mimpi meracuninya.

Maka pada suatu ketika
seorang lelaki datang dari kota
Ia kenakan jas woleta
dan arloji emas di tangannya
tapi para orang tua sudah tahu
matanya tak bisa dipercaya.
Mulutnya bagai serigala
dengan gigi caya perak dan mutiara.
Kata-katanya manis bagai lagu air
membawa mimpi tak berakhir.
Ketika dikenalnya Aminah
dibujuknya ia ke kota bersamanya
ia bayangkan kekuasaan
ia bayangkan kekayaan
ia bayangkan kehidupan putri bangsawan
dan pergilah Aminah bersamanya.

Jadi terbanglah merak ke dunia mimpinya
ia makan mega dan kabut menyapu matanya.
Dan semua orang tua yang cendekia sudah tahu
sejak sebermula sudah salah jalannya.

Maka seolah sudah ditenungkan
ketika sepupunya menengoknya ke kota
ia jumpai Aminah jauh dari mimpinya.
Hidup di gang gelap dan lembab
tiada lagi ia bunga tapi cendawan.
Biru pelupuk matanya
mendukung khayal yang lumutan.
Wajahnya bagai topeng yang kaku
kerna perawannya telah dikalahkan.

Maka sepupunya meratap pada ibunya:
- "Laknat telah tumpah
di atas kepala pamili kita.
Bunga bangkai telah tumbuh di halaman.
Belukar telah tumbuh antara padi-padian.
Kalau kita minum adalah tuba di air.
Kalau kita makan adalah duri di nasi.
Kerna ada antara pamili kita
telah jadi perempuan jalang!

Kini ularnya sudah pulang
dan bisanya sudah terasa di daging kita.
Jangan dekati ia!
Jangan dekati ia!
Ia cantik, tapi ia api!
Di kali ia tetap ikan jelita
tapi telah busuk rahimnya.
Jangan dekati ia!
Jangan dekati ia!"

Adalah perempuan jalan di pematang
ketika jatuh senja kala
sambil merasa angin di mukanya
ia bayangkan yang bakal menimpa dirinya.
Ia tahu apa yang bakal dikatakan tetangga
ia tahu apa yang bisa terduga.
Ia tahu tak seorang pun akan berkata:
"Berilah jalan padanya
orang yang naik dari pelimbahan.
Sekali salah ia langkahkan kakinya
dan ia terperangkap bagai ikan dalam bubu.
Berilah jalan pada kambing hitam
kerna ia telah dahaga padang hijau.
Berilah jalan pada semangat hilang
kerna ia telah dahaga sinar terang"

Dengan mudah ia bisa putar haluan
tapi air kali hanya kenal satu jalan
dan ia telah mengutuki kejatuhannya
dan ia telah berniat akan bangkit.
Maka ia adalah bunga mentari
maka ia adalah merak yang kukuh hati.
Adalah perempuan jalan di pematang
ketika jatuh senja kala
sambil mengenang yang bakal datang
ia tetap pada jalannya.
 
 
"Puisi: Aminah"
Puisi: Aminah
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lagu Malam


Burung malam lepas dua-dua
membendung anak kali dari langit.
Jatuhlah merjan-merjan mimpi.
Digetarkan bulu-bulu tubuhnya
dan bersebaran kutu-kutu perak.

Manis, ya manis.
Tusuk peniti lima buah
pada renda menutup dadamu.
Bujang-bujang mengulurkan tangannya
tak berarah di remang-remang
Wahai, betapa bercandunya
tangan bujang di remang-remang.

Ada bocah, ada nenek
ada pokok mangga dan dongeng.
Wajah yang dipahat tajam garam
menyorot atas wajah bersih telanjang.
Mata-mata mereka tengadah terbuka.
Dan terlepas dari manik-manik hitamnya:
burung emas tak bersarang.

 
 
"Puisi: Lagu Malam"
Puisi: Lagu Malam
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tak Bisa Kulupakan


Tak bisa kulupakan hutan, tak bisa kulupakan
sedapnya daun gugur, lembutnya lumut cendawan.
Tak bisa kulupakan hutan, tak bisa kulupakan
muramnya kasih gugur, lembutnya kecup penghabisan.

Tak bisa kulupakan hutan. tak bisa kulupakan
muramnya senyum hancur, lembutnya kubur ketiduran.
Tak bisa kulupakan hutan, tak bisa kulupakan
meski ditikam dalam-dalam, tak bisa kulupakan.

 
 
"Puisi: Tak Bisa Kulupakan"
Puisi: Tak Bisa Kulupakan
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perempuan yang Menunggu


Orang yang menunggu
dan mengarungi waktu
hati padang tanpa bunga
udara dan batu sekali dikandungnya.

Sepi terbaring pada malam dan pagi
menyiksa racun jemu yang abadi.

Ia duduk di atas luka
berbelai dengan hawa ia berkata:
Saya sudah tua, dan
disuruh saya:

Duduk saja di sana!
Dan menanti!

 
 
"Puisi: Perempuan yang Menunggu"
Puisi: Perempuan yang Menunggu
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Waktu


Waktu seperti burung tanpa hinggapan
melewati hari-hari rubuh tanpa ratapan
sayap-sayap mu'jizat terkebar dengan cekatan.

Waktu seperti butir-butir air
dengan nyanyi dan tangis angin silir
berpejam mata dan pelesir tanpa akhir.
Dan waktu juga seperti pawing tua
menunjuk arah cinta dan arah keranda.
 
 
"Puisi: Waktu"
Puisi: Waktu
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bumi Hangus


Di bumi yang hangus, hati selalu bertanya
apalagi yang kita punya? Berapakah harga cinta?
Di bumi yang hangus hati selalu bertanya
Kita harus pergi kemana, di mana rumah kita?
Di bumi yang hangus hati selalu bertanya
bimbang kalbu oleh cedera
Di bumi yang hangus hati selalu bertanya
hari ini maut giliran siapa?
 
 
"Puisi: Bumi Hangus"
Puisi: Bumi Hangus
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Musik untuk Album Soundtrack Film Deadpool (2016) disusun oleh Junkie XL. Album ini dirilis di iTunes pada tanggal 15 April 2016. Album ini diisi dengan 23 lagu di dalamnya. Berikut daftar lagu yang ada di dalamnya.

"Daftar Kumpulan Lagu Soundtrack Film Deadpool (2016)"
Daftar Kumpulan Lagu Soundtrack Film Deadpool (2016)

1. Juice Newton - Angel of the Morning
2. Maximum Effort
3. Small Disruption
4. Salt-N-Pepa - Shoop
5. Twelve Bullets
6. Man in a Red Suit
7. Liam Neeson Nightmares
8. Neil Sedaka - Calendar Girl (1999 Remastered Version)
9. The Punch Bowl
10. Back to Life
11. Every Time I See Her
12. Teamheadkick - Deadpool Rap (Film Mix)
13. Easy Angel
14. Scrap Yard
15. This Place Looks Sanitary
16. Watership Down
17. DMX - X Gon' Give It to Ya (Radio Edit)
18. Going Commando
19. Let's Try to Kill Each Other
20. Stupider When You Say It
21. Four or Five Moments
22. A Face I Would Sit On
23. George Michael - Careless Whisper



Lagu di bawah ini tidak dimasukkan ke dalam Album Soundtrack Film Deadpool (2016), namun ditampilkan di dalam film tersebut:
  1. Mukesh - Mera Joota Hai Japani
  2. Panta Meza Y Su Banda - Te Deje
  3. U4L featuring Beth Enloe - The Party Starts Right Now
  4. Joanne Rosen - In Doubt
  5. Four Star Riot - Something So Right
  6. Campfire - The Boys Are Back
  7. The Black Keys - Howlin' For You (Feat. Prins Thomas Diskomiks)
  8. Finley Quaye - It's Great When We're Together
  9. Cate Song - Love Is A Tricky Thing
  10. Mentally Disturbed - Swing That Thang
  11. Bing Crosby - I'll Be Home For Christmas
  12. Wang Chung - Dance Hall Days (Re-Record)
  13. Joe Marson - Poor St. John
  14. The Chordettes - Mister Sandman
  15. Stretch Nickel - She Can Stay
  16. Light And Easy
  17. Ray Charles - Hit The Road Jack
  18. Crazy
  19. Hanni El Khatib - Moonlight
  20. Flo Rida - GDFR
  21. Kidd Fresh - No Clothes Zone
  22. Hot Toothpaste - Pick Me Up
  23. Jazzy B - Sat Rangey
  24. Mohammad Rafi - Tumse Achha Kaun Hai
  25. Chicago - You're The Inspiration
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Episode

Kami duduk berdua
di bangku halaman rumahnya.
Pohon jambu di halaman itu
berbuah dengan lebatnya
dan kami senang memandangnya.
Angin yang lewat
memainkan daun yang berguguran.
Tiba-tiba ia bertanya:
"Mengapa sebuah kancing bajumu
lepas terbuka?"
Aku hanya tertawa.
Lalu ia sematkan dengan mesra
sebuah peniti menutup bajuku.
Sementara itu aku bersihkan
guguran bunga jambu
yang mengotori rambutnya. 
 
 
"Puisi Episode"
Puisi: Episode
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Musik untuk Album Soundtrack Film Kill Switch (2017) disusun oleh Seven League Beats. Album ini dirilis di iTunes pada tanggal 9 Juni 2017. Album ini diisi dengan 11 lagu di dalamnya. Berikut daftar lagu yang ada di dalamnya.

"Daftar Kumpulan Lagu Soundtrack Film Kill Switch (2017)"
Daftar Kumpulan Lagu Soundtrack Film Kill Switch (2017)

1. The Tower
2. Drone Chase
3. Almost There
4. Too Close to Home
5. Alterplex Commercial
6. The Plane
7. Kill Switch
8. Pure Energy
9. Drone Down
10. Reynard
11. Redivider



Lagu di bawah ini tidak dimasukkan ke dalam Album Soundtrack Film Kill Switch (2017), namun ditampilkan dalam film tersebut:
  1. Don Diablo - Echoes
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Musik untuk Album Soundtrack Film Redivider (2017) disusun oleh Seven League Beats. Album ini dirilis di iTunes pada tanggal 9 Juni 2017. Album ini diisi dengan 11 lagu di dalamnya. Berikut daftar lagu yang ada di dalamnya.

"Daftar Kumpulan Lagu Soundtrack Film Redivider (2017)"
Daftar Kumpulan Lagu Soundtrack Film Redivider (2017)

1. The Tower
2. Drone Chase
3. Almost There
4. Too Close to Home
5. Alterplex Commercial
6. The Plane
7. Kill Switch
8. Pure Energy
9. Drone Down
10. Reynard
11. Redivider

Lagu di bawah ini tidak dimasukkan ke dalam Album Soundtrack Film Redivider (2017), namun ditampilkan dalam film tersebut:
  1. Don Diablo - Echoes
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Musik untuk Album Soundtrack Film Guardians (2017) diisi dengan lagu milik July Tereshenko, Baltic Symphony Orchestra & Lost in Lust. Album ini dirilis di iTunes pada tanggal 17 Februari 2017. Album ini diisi dengan 10 lagu di dalamnya. Berikut daftar lagu yang ada di dalamnya.

"Daftar Kumpulan Lagu Soundtrack Film Guardians (2017)"
Daftar Kumpulan Lagu Soundtrack Film Guardians (2017)

1. July Tereshenko - Guardians
2. Baltic Symphony Orchestra - Guardians (Instrumental)
3. Baltic Symphony Orchestra - Battle at the Factory (Orchestral Version)
4. Baltic Symphony Orchestra - Final Battle Begins (Orchestral Version)
5. Baltic Symphony Orchestra - Final Battle End (Orchestral Version)
6. Baltic Symphony Orchestra - Guardians (Orchestral Version)
7. Baltic Symphony Orchestra - Ksenia (Orchestral Version)
8. Baltic Symphony Orchestra - Latina Saves Guardians (Orchestral Version)
9. Baltic Symphony Orchestra - Polygon (Orchestral Version)
10. Lost in Lust - Dead End
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Musik untuk Album Soundtrack Film The Expendables 3 (2014) disusun oleh Brian Tyler. Album ini dirilis di iTunes pada tanggal 14 Agustus 2014. Album ini diisi dengan 19 lagu di dalamnya. Berikut daftar lagu yang ada di dalamnya.

"Daftar Kumpulan Lagu Soundtrack Film The Expendables 3 (2014)"
Daftar Kumpulan Lagu Soundtrack Film The Expendables 3 (2014)
1. The Drop
2. Lament
3. Right on Time
4. The Art of War
5. Stonebanks Lives
6. Too Much Faith
7. Late for War
8. Descent into War
9. Bring You Luck
10. Infiltrating the Block
11. Threat Doubled
12. Galgo's Grand Enterance
13. Look Alive
14. Package Secured
15. We Were Brothers
16. The Last Window
17. Valet Parking Done Right
18. Moral Chess Games
19. Armored Freaking Transport



Lagu di bawah ini tidak dimasukkan ke dalam Album Soundtrack Film The Expendables 3 (2014), namun ditampilkan dalam film tersebut:
  1. Steven Van Zandt - Come for Me
  2. String Quartet No. 13, Op. 130: II. Presto (digubah oleh Timo Elliston dan Brian Jones)
  3. Chris Thomas King - Down
  4. Kongos - Come with Me Now
  5. Euphoria - Delirium
  6. Meteor
  7. Linkin Park - A Light That Never Comes (Rick Rubin Reboot)
  8. Wisin & Yandel - Calle Callejero
  9. Aloe Blacc - Ticking Bomb
  10. Para La Gente
  11. Taddy Porter - Fire in the Street
  12. Neil Young - Old Man
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
"Daftar Kumpulan Lagu Soundtrack Film The Hunter's Prayer (2017)"
Daftar Kumpulan Lagu Soundtrack Film The Hunter's Prayer (2017)
  1. Anele Onyekwere - Stop This Beatin'
  2. Federico Jusid and The Budapest Art Orchestra - Valse for Addison
  3. Federico Jusid and Anele Onyekwere - How Did You Do
  4. Rob Hughes - Ou Sont Les Oiseaux
  5. Gabrielle Mostow and Sarah Mostow - Croissant J'taime
  6. Federico Jusid - Valse (Posthumous) Op.69, NO.1
  7. Federico Jusid and The Budapest Art Orchestra - Hunter's Minue
  8. Le Castle Vania - Shots Fired
  9. Rob Hughes - Les Chaseur
  10. Federico Jusid and the Metronome String Orchestra - Lachia Ch'io Pianga (Rinaldo, Act II)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kangen


Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna cinta telah sembunyikan pisaunya.
Membayang wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.

 
 
"Puisi: Kangen"
Puisi: Kangen
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Stanza


Ada burung dua, jantan dan betina
hinggap di dahan.
Ada dua daun, tidak jantan tidak betina
gugur di dahan.

Ada angin dan kapuk gugur, dua-dua sudah tua
pergi ke selatan.
Ada burung, daun, kapuk, angin dan mungkin juga debu
mengendap dalam nyanyiku.


 
 
"Puisi: Stanza"
Puisi: Stanza
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lagu Angin


Jika aku pergi ke timur
arahku jauh, ya, ke timur.
Jika aku masuk ke hutan
aku disayang, ya, di hutan.

Aku pergi dan kakiku adalah hatiku.
Sekali pergi menolak rindu.
Ada duka, pedih dan air mata biru
tapi aku menolak rindu. 
 
 
"Puisi: Lagu Angin"
Puisi: Lagu Angin
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lagu Sangsi


Hati lelaki yang terbagi
adalah daging dibajak sangsi.
Hati yang hidup untuk dua bunga
adalah kali tersobek dua.

Kali yang terbagi menjulur ke barat dan ke timur
betapa lembut ia ngluncur tanpa tidur.
Ah, kali hitam tanpa buih dan sinar
begitu tohor tapi tak berdasar.

 
 
"Puisi: Lagu Sangsi"
Puisi: Lagu Sangsi
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mata Hitam


Dua mata hitam adalah matahari yang biru
dua mata hitam sangat kenal bahasa rindu.
Rindu bukanlah milik perempuan melulu
dan keduanya sama tahu, dan keduanya tanpa malu.

Dua mata hitam terbenam di daging yang wangi
kecantikan tanpa sutra, tanpa pelangi.
Dua mata hitam adalah rumah yang temaram
secangkir kopi sore hari dan kenangan yang terpendam.
 
 
"Puisi: Mata Hitam"
Puisi: Mata Hitam
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Batu Hitam

Batu hitam di kali berdiri tanpa mimpi
arus merintih oleh anak tak berhati.
Betapa tegar tanpa rindu dan damba.
Betapa sukar hancur anak tak berbunda.

Angin Agustus tiba dan bulan senyum padanya
tapi anak tak berhati tak berjantung pula.
Angkuh dan dingin si batu hitam.
Beku dan lumutan dendamnya terpendam.
 
 
"Puisi: Batu Hitam"
Puisi: Batu Hitam
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat Cinta

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur mainan
anak-anak peri dunia yang gaib.
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah
Wahai, Dik Narti,
aku cinta kepadamu!

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya.
Wahai, Dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku!

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi.
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak 'kan kunjung diundurkan.

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis.
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, Dik Narti,
dengan pakaian pengantin yang anggun
bung-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan.

Aku melamarmu.
Kau tahu dari dulu:

tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
daripada yang lain ....
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit.
Lalu tumpahlah gerimis.
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuat
bagai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.

Engkau adalah putri duyung
tawananku.
Putri duyung dengan suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku!
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku.
Wahai, Putri Duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu.

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
karena langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya.
Wahai, Dik Narti,
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku! 
 
"Puisi: Surat Cinta"
Puisi: Surat Cinta
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Terjadi sebuah percakapan antara dua wanita sesaat ketika mereka menunggu di sebuah Halte Kereta Api.

👩Wanita Pertama adalah seorang wanita yang menikah dengan seorang Pebisnis Kaya.
👩Wanita Kedua adalah seorang wanita tua yang santun dari Pelosok Desa.

Wanita Pertama memulai percakapan dengan mengatakan, "Saat anak pertamaku lahir, suamiku memberikan aku sebuah rumah yang indah sekali".

Wanita Kedua itu mengatakan, "Wow, itu indah sekali".

Wanita Pertama melanjutkan, "Saat anak keduaku lahir, suamiku membelikan aku emas yang indah sekali, bentuknya semacam bentuk hati".

Dan lagi, Wanita Kedua berkomentar, "Wow, itu indah sekali".

Wanita Pertama melanjutkan lagi, "Kemudian, saat anak ketigaku lahir, suamiku membelikan aku gelang berlian yang indah ini".

Belum lagi Wanita Kedua berkomentar, "Wow, itu indah sekali".

Wanita Pertama kemudian bertanya, "Apa yang suamimu belikan untukmu saat kamu memiliki anak pertamamu?".

Wanita Kedua menjawab, "Suami saya memperbolehkan saya pergi ke Pengajian di Masjid".

"Pengajian di Masjid?". Wanita Pertama terlihat sedih, "Ya Tuhan! Apa yang bisa mereka ajarkan padamu?".

Wanita Kedua menjawab, "Ya sebagai contoh... alih-alih mengatakan, 'Siapa yang memberikan?' Saya diajari untuk mengatakan, 'Wow, itu indah sekali'".


"Cerita Inspiratif: Itu Indah Sekali"

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Karena Hidup adalah Anugerah


Sebelum engkau berpikir,
Untuk mengucapkan sebuah kalimat yang kejam;
Pikirkanlah tentang seseorang,
Yang tidak bisa bicara,
Karena mereka bisu.

Sebelum engkau mengeluh,
Tentang betapa buruknya cita rasa makanan;
Pikirkanlah tentang seseorang,
Yang tidak punya apapun,
Untuk mereka makan hari ini.

Sebelum engkau mengeluh,
Tentang aib istri dan suamimu;
Pikirkanlah tentang seseorang,
Yang menangis di dalam doa setiap malamnya,
Meminta seorang pasangan.

Sebelum engkau mengeluh,
Tentang hidupmu;
Pikirkanlah tentang seseorang,
Yang ditinggalkan nyawanya,
Di usia mereka yang masih sangat muda.

Sebelum engkau mengeluh,
Tentang betapa nakalnya anak-anakmu;
Pikirkan tentang seseorang,
Yang menginginkan seorang anak,
Tapi mereka mandul.

Sebelum engkau bertengkar dengan pasanganmu,
Karena rumahmu yang kotor;
Pikirkan tentang seseorang,
Yang tinggalnya di jalanan,
Dengan atap sang langit tua.

Sebelum engkau mengeluh,
Tentang pekerjaan-pekerjaanmu;
Pikirkanlah tentang seorang pengangguran...
Tentang seorang yang cacat...
Atau seorang yang berharap untuk memiliki sebuah pekerjaan.

Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain;
Sebelum engkau hidup dengan menyesali banyak hal;
Letakkan senyuman di wajahmu dan mulailah bersyukur;
Karena hari ini kamu masih memiliki kesempatan untuk hidup.

================================= 
Karena Hidup adalah Anugerah
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Karena Hidup adalah Anugerah"

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Doa

I
Ku pandang ke sana: Isyarat-isyarat dalam cahaya
ku pandang semesta
ketika Engkau seketika memijar dalam Kata
terbantun menjelma gema. Malam sibuk di luar suara
kemudian daun bertahan pada tangkainya
ketika hujan tiba. Kudengar bumi sedia kala
tiada apa pun diantara Kita: dingin
semakin membara sewaktu berembus angin.

II
Saat tiada pun tiada
aku berjalan (tiada -
gerakan, serasa
isyarat) Kita pun bertemu
sepasang Tiada
tersuling (tiada gerakan,
serasa
nikmat): Sepi meninggi.

III
Jejak-jejak Bunga selalu; betapa tergoda
kita untuk berburu, terjun
di antara raung warna
sebelum musim menanggalkan daun-daun
akan tersesat di mana kita
(terbujuk jejak-jejak Bunga) nantinya: atau
terjebak juga bayang-bayang Cahaya
dalam nafsu kita yang risau.

"Puisi Sapardi Djoko Damono: Dalam Doa"
Puisi: Dalam Doa
Karya: Sapardi Djoko Damono
Buku: Hujan Bulan Juni
Tahun: 1967-1968