Desember 2017
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kangen


Pohon cemara dari jauh
membayangkan panjang rambutnya
: maka aku pun kangen kekasihku


Sagan, 1958
"Puisi: Kangen (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Kangen
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat Seorang Istri


Suamiku yang merantau
Malam ini bulan pucat
Pohon-pohon kelabu
Berayun, di atas khayalan pucat.
Dan betapa pula kelabu wajah hatiku
kerna aku tahu, suamiku,
Hari Natal yang bakal datang
kau tidak bisa pulang.

Betapa hambarnya rumah
tanpa bau rokokmu
dan bila hujan berdesar
kurindu mendengar bisikmu
yang biasa kudengar
bila pipi kita beradu.

Sarung bantalmu sudah kucuci
dan telah pula kubelikan
tembakau kesukaanmu.
Pun telah aku bayangkan
kau duduk di kursimu
menggulungkan rokok daun nipah
sementara di luar
hari bertambah tua.
Lalu datang suratmu
yang hanya membawa rindu
tapi bukan tubuhmu.
Aku menangis kecil, suamiku.

Tapi aku akan tabah, lakiku
kupalingkan hati dari segala pilu
dan aku kuturut segala perintahmu.

Engkau memang rajawali, Abang!
Tabah dan mengagumkan!
Harus kulepas engkau terbang
Bila penat mari kutimang.
Lelaki itu batang pohonan
Dan perempuan adalah pupuknya.

Rumah kita tetap tenteram:
Sorga kita berdua yang sederhana.
Rumput-rumput kusiangi
dan di lantai yang bersih
bermain anak-anak kita.
Mereka rajin menggosok gigi
dan selalu menyebut nama bapanya
di dalam doa malam mereka.

Sesekali Toto bertanya tentang kau.
Kubelai rambutnya dan kukatakan padanya:
"Bapa sedang terbang, tapi bakal pulang.
Ia seperti burung besar. Burung elang!"
Dan ia lalu berkata:
"Bapa burung elang dan Toto: Dakota!"
Wah, mulutnya sangat lucu
waktu berkata ingin jadi penerbang.

Sesekali kuajak anak-anak kita
jalan-jalan di pamatang.
Sitti asyik mengagumi kupu-kupu.
Sedang pada putra-putra kita
aku berkata:
"Sekali waktu Bapa datang
dan membeli sawah lebar untuk kita!"
Toto berkata:
"Tapi aku akan terbang!"

Dan Nono bersuara:
"Mama, aku bantu Bapa, ya?"
Ah, mereka sangat lucu dan menyenangkan!
Mata mereka besar
sebagai bapanya.

Di Hari Natal aku akan berdoa:
"Jesus Kecil jang manis!
Berilah lekas suamiku pulang
bila tujuannya telah berpegang.
Supaya tiap sore
bisa kuladeni teh yang panas
dan bila ia akan merokok
bisa kunyalakan api baginya."

Istrimu yang setia.


Siasat, 30 April 1968
"Puisi: Surat Seorang Istri (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Surat Seorang Istri
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bunga Gugur


Bunga gugur
di atas nyawa yang gugur
gugurlah semua yang bersamanya

Kekasihku.

Bunga gugur
di atas tempatmu terkubur
gugurlah segala hal ikhwal antara kita.

Baiklah kita ikhlaskan saja
tiada janji 'kan jumpa di sorga
karena di sorga tiada kita 'kan perlu asmara.

Asmara cuma lahir di bumi
(di mana segala berujung di tanah mati)
ia mengikuti hidup manusia
dan kalau hidup sendiri telah gugur
gugur pula ia bersama sama.
Ada tertinggal sedikit kenangan
tapi semata tiada lebih dari penipuan
atau semacam pencegah bunuh diri.

Mungkin ada pula kesedihan
itu baginya semacam harga atau kehormatan
yang sebentar akan pula berantakan.

Kekasihku.

Gugur, ya, gugur
semua gugur
hidup, asmara, embun di bunga - 
yang kita ambil cuma yang berguna.



Solo, 1954
"Puisi: Bunga Gugur (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Bunga Gugur
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Angin Jahat


Angin yang garang
memukuli pintu.

Burung di langit
kalut dalam pusaran.

Daun-daun berguguran
di atas jalanan.

Angin!
Ya, angin!
Janganlah kau ganggu
kekasih menuju padaku.



1958
Sagan 1/9
Djogdjakarta
"Puisi: Angin Jahat (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Angin Jahat
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sepeda


Aku harus mengendarai sepeda hati-hati
Menghindari jalan becek
Mematuhi aturan lalu-lintas
Sebab yang kupakai sepeda kekasihku.

Sagan, 1958
"Puisi: Sepeda (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sepeda
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Papaya


Aku bilang pada bujangku
tak usah memanjat papaya.
Aku sendiri akan memanjatnya.
Akan kupilih yang paling ranum dan tua.
Lalu kucuci sendiri
dan kumasukkan ke dalam
tas laken hijau.

Kemudian,
akan kuantar ke rumah kekasihku.
Supaya ia sembuh dari sakitnya.


Sagan, 1958
"Puisi: Papaya (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Papaya
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rambut


Rambut kekasihku
sangat indah dan panjang
Katanya,
rambut itu untuk menjerat hatiku.


 
Sagan, 1958 
"Puisi: Rambut (Karya: W.S. Rendra)"
Puisi: Rambut
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Permintaan
Wahai, rembulan yang pudar
jenguklah jendela kekasihku!

Ia tidur sendirian,
hanya berteman hatinya yang rindu.



Sagan, 1958
"Puisi: Permintaan"
Puisi: Permintaan
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mengalami penyakit kolesterol sungguh sangat menderita, bagaimana tidak? Keluhan-keluhan yang terjadi membuat anda akan merasakan sesuatu yang sangat tidak enak. Sejatinya, kolesterol tersebut merupakan senyawa berlilin yang memiliki fungsi dan manfaat yang sangat besar bagi tubuh manusia yaitu untuk membangun sel-sel baru sehingga organ tubuh bisa berfungsi dengan normal setiap saat.

"Gejala Kolesterol Tinggi Yang Tidak Pernah Anda Sadari"

Kolesterol ini memiliki jumlah atau kadar normal dalam darah yaitu sekira 160- 200 mg. Nah, ketika kadar kolesterol yang ada dalam darah anda melebihi ambang batas normal yaitu antara 160-200 mg, maka pada kondisi tersebut anda mengalami penyakit kolesterol yang harus segera memperoleh penanganan sebelum penyakit kolesterol tersebut berakibat lebih parah lagi karena bisa menyebabkan
timbulnya penyakit stroke.

Kenali gejala kolesterol tinggi mulai dari sekarang, agar ketika anda merasakannya, anda akan segera melakukan pengobatan baik secara medis maupun secara tradisional. Sudahkah anda tahu tentang gejala kolesterol tinggi yang tidak pernah anda sadari sebelumnya?

Pada artikel ini akan diperkenalkan berbagai gejala kolesterol tinggi yang mungkin selama ini tidak pernah anda sadari keberadaannya dalam tubuh anda. Adapun gejala kolesterol tinggi yang dimaksud tersebut adalah sebagai berikut:

Gejala Kolesterol Tinggi Yang Tidak Pernah Anda Sadari
  1. Kesemutan. Karena itu adalah salah satu tanda aliran darah di dalam tubuh Anda tidak lancar. Sebagian besar, penyebab aliran darah yang tidak lancar disebabkan oleh Kolesterol Tinggi.
  2. Mengalami pusing di kepala belakang. Kolesterol bisa menyebabkan tersumbatnya Pembuluh Darah di sekitar otak dan kepala, waspadai jika anda sering mengalami pusing bagian kepala belakang.
  3. Pegal di pundak. Pundak dan tengkuk terasa pegal bisa jadi karena kurangnya pasokan oksigen dan darah ke area tersebut akibat tersumbat oleh Kolesterol.
  4. Rasa nyeri pada kaki. Kolesterol bisa membuat Pembuluh Darah Arter tersumbat dan aliran darah ke kaki pun terhambat.
  5. Mudah mengantuk. Ini terjadi karena pengendapan kolesterol yang menyumbat pembuluh darah tubuh anda, sehingga suplai oksigen ke otak tidak lancar/maksimal.

Demikian beberapa kondisi yang mencerminkan tentang gejala kolesterol tinggi yang mungkin tidak anda sadari sering anda rasakan. Jika anda ingin mengetahui lebih jelas tentang berbagai informasi penting yang berhubungan dengan gejala kolesterol tinggi dan informasi tentang kesehatan lainnya, anda bisa mengunjungi website GueSehat.com atau anda juga bisa meng-unduh aplikasi GueSehat melalui Google PlayStore dengan menggunakan Ponsel Android atau Apple untuk memperoleh berbagai informasi penting tentang kolesterol dan informasi kesehatan lainnya.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cinta Ibu


Seorang ibu mendekap anaknya yang
durhaka saat sekarat
air matanya menetes-netes di wajah yang
gelap dan pucat
anaknya yang sejak di rahim diharap-
harapkan menjadi cahaya
setidaknya dalam dirinya
dan berkata anakku jangan risaukan dosa-
dosamu kepadaku
sebutlah nama-Nya, sebutlah nama-Nya.
Dari mulut si anak yang gelepotan lumpur
dan darah
terdengar desis mirip upaya sia-sia
sebelum semuanya terpaku
kaku.
 

2000

"Puisi: Cinta Ibu (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Cinta Ibu
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nazar Ibu di Karbala


Pantulan mentari
senja dari kubah keemasan
mesjid dan makam sang cucu nabi
makin melembut
pada genangan
airmata ibu tua
bergulir-gulir
berkilat-kilat
seolah dijaga pelupuk
agar tak jatuh
indah warnanya
menghibur bocah berkaki satu
dalam gendongannya
tapi jatuh juga akhirnya
manik-manik bening berkilauan
menitik pecah
pada pipi manis kemerahan
puteranya
 
"Ibu menangis ya, kenapa?"
meski kehilangan satu kaki
bukankah ananda selamat kini
seperti yang ibu pinta?"
"Airmata bahagia, anakku
kerna permohonan kita dikabulkan
kita ziarah kemari hari ini
memenuhi nazar ibumu."
Cahaya lembut masih memantul-mantul
dari kedua matanya
ketika sang ibu tiba-tiba berhenti
berdiri tegak di pintu makam
menggumamkan salam:
"Assalamu 'alaika ya sibtha rasulillah

Salam bagimu, wahai cucu rasul
salam bagimu, wahai permata zahra."
lalu dengan permatanya sendiri
dalam gendongannya
hati-hati maju selangkah-selangkah
menyibak para peziarah
yang begitu meriah.

Disentuhnya dinding makam seperti tak sengaja
dan pelan-pelan dihadapkannya wajahnya ke kiblat
membisik munajat:
"Terimakasih, Tuhanku
dalam galau perang yang tak menentu
engkau hanya mengujiku
sebatas ketahananku
engkau hanya mengambil suami
gubuk kami
dan sebelah kaki
anakku
tak seberapa
dibanding cobamu
terhadap cucu rasulmu ini
engkau masih menjaga
kejernihan pikiran
dan kebeningan hati
Tuhan,
kalau aku boleh meminta ganti
gantilah suami, gubuk, dan kaki anakku
dengan kepasrahan yang utuh
dan semangat yang penuh
untuk terus melangkah
pada jalan lurusmu
dan sadarkanlah manusia
agar tak terus menumpahkan darah
mereka sendiri sia-sia
Tuhan,
inilah nazarku
Terimalah."
 

Karbala, 1409

"Puisi: Nazar Ibu di Karbala (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Nazar Ibu di Karbala
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ibu

Kaulah gua teduh
tempatku bertapa bersamamu
Sekian lama
Kaulah kawah
dari mana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku
melepas lelah dan nestapa
gunung yang menjaga mimpiku
siang dan malam
mata air yang tak brenti mengalir
membasahi dahagaku
telaga tempatku bermain
berenang dan menyelam.
Kaulah, ibu, laut dan langit
yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku
mencari jejak sorga
di telapak kakimu.
(Tuhan, aku bersaksi ibuku telah melaksanakan amanat-Mu; menyampaikan kasih sayang-Mu. Maka kasihilah ibuku seperti Kau mengasihi kekasih-kekasih-Mu. Amin).
 
  
"Puisi: Ibu (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Ibu
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jangan Takut Ibu


Matahari musti terbit.
Matahari musti terbenam.
Melewati hari-hari yang fana
Ada kanker payudara, ada encok,
dan ada uban.
Ada Gubernur sarapan bangkai buruh pabrik,
Bupati mengunyah aspal,
Anak-anak sekolah dijadikan bonsai.
Jangan takut, Ibu!
Kita harus bertahan.
Karena ketakutan
meningkatkan penindasan.

Manusia musti lahir.
Manusia musti mati.
Di antara kelahiran dan kematian
bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki,
serdadu-serdadu Jepang memenggal kepala patriot-patriot Asia,
Ku Klux Klan membakar gereja orang Negro,
Teroris Amerika meledakkan bom di Oklahoma
Memanggang orang tua, ibu-ibu dan bayi-bayi,
di Miami turis Eropa dirampok dan dibunuh,
serdadu inggris membantai para pemuda di Irlandia,
orang Irlandia meledakkan bom di London yang tidak aman

Jangan takut, Ibu!
Jangan mau digertak
Jangan mau diancam
Karena ketakutan
meningkatkan penjajahan.

Sungai waktu
menghanyutkan keluh-kesah mimpi yang meranggas.
Keringat bumi yang menyangga peradaban insane
menjadi uranium dan mercury.
Tetapi jangan takut, Ibu
Bulan bagai alis mata terbit di ulu hati.

Rasi Bima Sakti berzikir di dahi
Aku cium tanganmu, Ibu!
Rahim dam susumu adalah persemaian harapan
Kekuatan ajaib insan
Dari Zaman ke Zaman.
 
 
"Puisi: Jangan Takut Ibu"
Puisi: Jangan Takut Ibu
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ibu di Atas Debu
Perempuan tua yang termangu
teronggok di tanah berdebu.
Wajahnya bagai sepatu serdadu.
Ibu! Ibu!
Kenapa kamu duduk di situ?
Kenapa kamu termangu?
Apakah yang kamu tunggu?
Jakarta menjadi lautan api.
Mayat menjadi arang.
Mayat hanyut di kali.
Apakah kamu tak tahu
di mana kini putramu?
Perempuan tua yang termangu
sendiri sepi mengarungi waktu
kenapa kamu duduk di situ?
Ibu! Ibu!
Di mana rumahmu?
Di mana rumahmu?
Di mana rumah Hukum?
Di mana rumah Daulat Rakyat?
Di mana gardu jaga tentara
yang mau melindungi rakyat tergusur?
Di mana pos polisi
yang mau membela para petani
dari pemerasan pejabat desa
Ibu! Ibu!
Kamu yang duduk termangu
terapung bagai tempurung di samudra waktu
berapa lama sudah kamu duduk di situ?
Berapa hari? Berapa minggu? Berapa bulan?
Berapa puluh tahun
kamu termangu di atas debu?
Apakah yang kamu harapkan?
Apakah yang kamu nantikan?
Apakah harapan pensiun guru di desa?
Apakah harapan tunjangan tentara
yang kehilangan satu kakinya?
Siapa yang mencuri laba dari rotan di hutan?
Siapa yang menjarah kekayaan lautan?
Ibu! Ibu!
Dari mana asalmu?
Apakah kamu dari Ambon?
Dari Aceh? Dari Kalimantan?
Dari Timor Timur? Dari Irian?
Nusantara! Nusantara!
Untaian zambrud tenggelam di lumpur!
Pengantin yang koyak dandanannya
dicemarkan tangan asing
tergolek di kebun kelapa kaya raya.
Indonesia! Indonesia!
Kamu lihatkah itu ibu kita?
Duduk di situ. Teronggok di atas debu.
Tak jelas menatap apa.
Mata kosong tetapi mengandung tuntutan.
Terbatuk-batuk.
Suara batuk.
Seperti ketukan lemah di pintu.
Tapi mulutnya terus membisu.
Indonesia! Indonesia!
Dengarlah suara batuk itu.
Suara batuk ibu itu.
Terbatuk-batuk.
Suara batuk.
Dari sampah sejarah
yang hanyut di kali.


5 Juni 1998
Pesawat Mandala
Jakarta - Ujung Pandang
"Puisi: Ibu di Atas Debu"
Puisi: Ibu di Atas Debu
Karya: W.S. Rendra



Kata Kunci:
  • Puisi Ibu WS Rendra
  • Puisi Ibu oleh WS Rendra
  • Puisi Ibu karya WS Rendra 

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ibu

Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mata air air matamu ibu, yang tetap lancar mengalir.
Bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
Ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
Bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu.
Bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
Ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku.
 
 
"Puisi: Ibu (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Ibu
Karya: D. Zawawi Imron


Kata Kunci:
  • Puisi tentang Ibu Zawawi Imron
  • Puisi Ibu Zawawi Imron
  • Puisi Ibu D. Zawawi Imron
  • Puisi Ibu karya D. Zawawi Imron
  • Puisi Ibu Oleh Zawawi Imron
  • Tema Puisi Ibu Karya Zawawi Imron
  • Larik Puisi Ibu karya D. Zawawi Imron

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kupu-Kupu Kotor
=================================


Terkatakan itu menyetarakan diri dengan zaman.
Padahal engkau yang jauh lebih tau;
Pintu rumahmu telah rusak,
Akibat keras engkau membanting.

Dan aku?
Aku hanya ingin terlihat PEDULI.
Dan aku?
Aku hanya ingin terlihat menghargai.

Wahai engkau pelita hati,
Mengapa tega engkau mengembang,
Berlagak lugu menghormati zaman,
Seolah itu tolak ukur harga diri.

Tidakkah engkau menyadari,
Bahwa mata-mata yang menyinggahimu,
Adalah mata yang akan merusak kelopakmu berbunga,
Membungkus keyakinanmu; seperti sedianya engkau membungkus diri.

Duhai engkau pengumbar nafsu,
Mengapa tega engkau berhikayat,
Meludahi nama baik keluarga,
Saudara-saudaramu, dan bahkan negara dan agamamu.

Dan tidakkah engkau menyadari,
Bahwa pintu yang telah dan akan engkau hancurkan itu,
Adalah pintu yang akan selamanya terbuka;
Untuk anak-anak cucu, suamimu, dan cerminan hidupmu.

Sedih teramat bagiku,
Sumringah tersangat bagimu.

Kupu-kupu kotor bernaung benci,
Aku berharap padamu.
Kupu-kupu kota berpupuk iri,
Aku bersedih untukmu.

Maka jangan engkau melupa, sejarah yang disimpan kenyataan;
Menjadi patuh bukan berarti tertindas.
Maka jangan engkau melupa, tempat dari mana engkau berasal,
Karena tempat itu akan selalu menunggu...


Kilah dariku adalah raja,
Kilah darimu adalah ratu.
Tapi kerajaan selalu milik Azali.

Kilah darimu adalah tiga,
Kilah dariku hanyalah satu; setelah tiga itu.
Maka jangan engkau mengharap setara,
Karena engkau lebih tinggi; dari setara yang engkau harap itu.

Dan engkau,
Engkau bukan kupu-kupu kotor,
Engkau bukan kupu-kupu kota.


=================================
Puisi: Kupu-Kupu Kotor
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Kupu-Kupu Kotor"

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bersatulah pelacur-pelacur Kota Jakarta
Pelacur-pelacur kota Jakarta
dari kelas tinggi dan kelas rendah
telah diganyang
telah diharu-biru.
Mereka kecut
keder
terhina dan tersipu-sipu.
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan.
Tapi jangan kau kelewat putus asa.
Dan kau relakan dirimu dibikin korban.
Wahai, pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah.
Sanggul kembali rambutmu
Kerna setelah menyesal
datanglah kini giliranmu
bukan untuk membela diri melulu
tapi untuk melancarkan serangan.
Kerna:
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
tapi jangan kau rela dibikin korban.
Sarinah.
katakan pada mereka
bagaimana kau dipanggil ke kantor mentri
bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
tentang perjuangan nusa bangsa
dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
ia sebut kau inspirasi revolusi
sambil ia buka kutangmu.
Dan kau, Dasima
Kabarkan pada rakyat
bagaimana para pemimpin revolusi
secara bergiliran memelukmu
bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
sambil celana basah
dan tubuhnya lemas
terkapai di sampingmu
Ototnya keburu tak berdaya.
Politisi dan pegawai tinggi
adalah caluk yang rapi.
Konggres-konggres dan konperensi
tak pernah berjalan tanpa kalian.
Kalian tak pernah bisa bilang "tidak"
lantaran kelaparan yang menakutkan
kemiskinan yang mengekang
dan telah lama sia-sia cari kerja.
Ijazah sekolah tanpa guna.
Para kepala jawatan
akan membuka kesempatan
kalau kau membuka paha.
Sedang di luar pemerintahan
perusahaan-perusahaan macet
lapangan kerja tak ada....
Revolusi para pemimpin
adalah revolusi dewa-dewa.
Mereka berjuang untuk surga
dan tidak untuk bumi.
Revolusi dewa-dewa
tak pernah menghasilkan
lebih banyak lapangan kerja
bagi rakyatnya.
Kalian adalah sebagian penganggur
yang mereka ciptakan.
Namun
sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
tapi jangan kau kelewat putus asa
dan kau rela dibikin korban.
Pelacur-pelacur kota Jakarta.
berhentilah tersipu-sipu.
ketika kubaca di Koran
bagaimana badut-badut mengganyang kalian
menuduh kalian sumber bencana Negara
aku jadi murka
Kalian adalah temanku.
Ini tak bisa dibiarkan.
Astaga.
Mulut-mulut badut.
Mulut-mulut yang latah
Bahkan sex mereka perpolitikan.
Saudari-saudariku.
Membubarkan kalian
tidak semudah membubarkan partai politik.
Mereka harus beri kalian kerja.
Mereka harus pulihkan derajat kalian.
Mereka harus ikut memikul kesalahan.
Saudari-saudariku. Bersatulah.
Ambillah galah.
Kibarkan kutang-kutangmu di ujungnya.
Araklah keliling kota
sebagai panji-panji yang telah mereka nodai
Kini giliranmu menuntut.
Katakanlah pada mereka;
menganjurkan mengganyang pelacuran
tanpa menganjurkan
mengawini para bekas pelacur
adalah omong kosong.
Pelacur-pelacur kota Jakarta.
Saudari-saudariku.
Jangan melulu keder pada lelaki
Dengan mudah
kalian bisa telanjangi kaum palsu.
naikkan taripmu dua kali
dan mereka akan kelabakan.
Mogoklah satu bulan
dan mereka akan puyeng
lalu mereka akan berjina
dengan istri saudaranya.
 
 
"Puisi: Bersatulah pelacur-pelacur Kota Jakarta"
Puisi: Bersatulah pelacur-pelacur Kota Jakarta
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kesaksian Tahun 1967


Dunia yang akan kita bina adalah dunia baja
kaca dan tambang-tambang yang menderu.
Bumi bakal tidak lagi perawan,
tergarap dan terbuka
sebagai lonte yang merdeka.
Mimpi yang kita kejar, mimpi platina berkilatan.
Dunia yang kita injak, dunia kemelaratan.
Keadaan yang menyekap kita, rahang serigala yang menganga.

Nasib kita melayang seperti awan.
Menantang dan menertawakan kita,
menjadi kabut dalam tidur malam,
menjadi surya dalam kerja siangnya.
Kita akan mati dalam teka-teki nasib ini
dengan tangan-tangan yang angkuh dan terkepal
Tangan-tangan yang memberontak dan bekerja.
Tangan-tangan yang mengoyak sampul keramat
dan membuka lipatan surat suci
yang tulisannya ruwet tak bisa dibaca.

 
 
"Puisi: Kesaksian Tahun 1967"
Puisi: Kesaksian Tahun 1967
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kupanggil Namamu


Sambil menyebrangi sepi
kupanggil namamu, wanitaku.
Apakah kau tak mendengarku?

Malam yang berkeluh kesah
memeluk jiwaku yang payah
yang resah
kerna memberontak terhadap rumah
memberontak terhadap adat yang latah
dan akhirnya tergoda cakrawala.

Sia-sia kucari pancaran sinar matamu.
Ingin kuingat lagi bau tubuhmu
yang kini sudah kulupa
Sia-sia.
Tak ada yang bias kujangkau.
Sempurnalah kesepianku.

Angin pemberontakan
menyerang langit dan bumi.
Dan dua belas ekor serigala
muncul dari masa silam
merobek-robek hatiku yang celaka.

Berulang kali kupanggil namamu
Di manakah engkau, wanitaku?
Apakah engkau juga menjadi masa silamku?
Kupanggil namamu.
Kupanggil namamu.
Kerna engkau rumah di lembah.
Dan Tuhan?
Tuhan adalah seniman tak terduga
yang selalu sebagai sediakala
hanya memedulikan hal yang besar saja.

Seribu jari dari masa silam
menuding kepadaku.
Tidak.
Aku tidak bisa kembali.

Sambil terus memanggili namamu
amarah pemberontakanku yang suci
bangkit dengan perkasa malam ini
dan menghamburkan diri ke cakrawala
yang sebagai gadis telanjang
membukakan diri padaku.
Penuh. Dan perawan.

Keheningan sesudah itu
sebagai telaga besar yang beku
dan aku pun beku di tepinya.
Wajahku. Lihatlah, wajahku.
Terkaca di keheningan.
Berdarah dan luka-luka
dicakar masa silamku.


 
 
"Puisi: Kupanggil Namamu"
Puisi: Kupanggil Namamu
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sejak kemunculan instant messenger (IM), pengguna mobile mulai mengurangi pemakaian layanan SMS. Menurut studi eMarketer, lebih dari 72 juta orang mengandalkan aplikasi ini untuk berkirim pesan. Sekitar 45% dari jumlah tersebut mengemukakan alasan beralih ke IM karena bebas biaya pulsa. Sebagai gantinya, ponsel harus terisi kuota data. Bagi Anda yang biasa membeli pulsa Simpati, bisa menukarnya dengan paket internet.

Lalu, instant messenger seperti apa yang bisa digunakan? Saat ini, WhatsApp merupakan aplikasi paling populer di dunia. Namun, ternyata tak hanya WhatsApp yang memiliki fitur yang mumpuni. Aplikasi karya Indonesia ini pun layak dioperasikan. Apa saja?

1. liteBIG Messenger
"liteBIG Messenger Aplikasi Instant Messenger Terbaik Buatan Indonesia"
liteBIG Messenger - jurnalapps.co.id
Aplikasi liteBIG Messenger tersedia di Google PlayStore sejak tahun 2014. Meski begitu, belum banyak yang menggunakannya. Padahal, fitur yang ditawarkan tidak kalah canggih dibandingkan WhatsApp. Misalnya, fitur bebas salah ketik, chat grup dengan 1.000 anggota, layanan kirim berbagai jenis dokumen, serta update otomatis.

Anda bisa mengunduh liteBIG Messenger secara gratis melalui Google PlayStore. Pengiriman pesan lewat aplikasi ini pun tidak dipungut biaya. Namun, khusus chat lintas negara, dikenai biaya internet yang nominalnya kecil.

2. OY!
"OY! Aplikasi Instant Messenger Terbaik Buatan Indonesia"
OY! - assets.jalantikus.com
OY! merupakan instant messenger buatan Jesayas Ferdinandus. Aplikasi ini diluncurkan pada tanggal 27 September 2017. Salah satu keunggulan OY! adalah menghemat penyimpanan data. Pasalnya, Anda bisa memenuhi berbagai kebutuhan hanya dengan satu aplikasi. Mulai dari mengirim pesan, memesan makanan, hingga meng-unduh lagu favorit.

Untuk mendukung aplikasi tersebut, Anda harus mengisi kuota data. Misalnya, dengan membeli pulsa Simpati di link ini: https://www.traveloka.com/connectivity/pulsa/simpati, lalu ditukar paket internet. Setelah kuota tersedia, unduh OY! Messenger di Google PlayStore atau AppStore. Pendaftarannya cukup menggunakan nomor telepon. Tertarik?

3. Yogrt
"Yogrt Aplikasi Instant Messenger Terbaik Buatan Indonesia"
Yogrt - sinyal.co.id
Yogrt merupakan aplikasi instant mesengger yang bisa digunakan untuk chatting dan main game. Segmentasi pasar utamanya adalah pengguna ponsel usia 13 sampai 30 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan dipakai oleh semua kalangan.

Aplikasi ini dirilis pertama kali pada tahun 2014. Jumlah pengguna aktifnya sudah lebih dari 10.000 orang. Salah satu fitur terbaik dalam Yogrt adalah livecontent. Layanannya mirip YouTube sehingga Anda bisa meng-unggah video berdurasi panjang. Selain itu, Yogrt juga menyediakan fitur pencarian teman satu wilayah dan virtual gift.

4. StealthChat
"StealthChat Aplikasi Instant Messenger Terbaik Buatan Indonesia"
StealthChat - static.arenalte.com
StealthChat diklaim sebagai aplikasi chat paling aman di dunia. Pasalnya, Rocklife, pembuat StealthChat, membenamkan fitur 'anti sadap' dalam layanan ini. Namun, StealthChat hanya support dengan platform Android.

Aplikasi ini dibekali beberapa fitur canggih, antara lain screen lock, peer to peer encryption, dan screen shoot proof. Ada pula notrace; salah satu program keamanan yang ditawarkan StealthChat. Dengan adanya notrace, chathistory Anda tidak bisa dibaca siapa pun. Bahkan, pembuat StealthChat pun tak dapat melihatnya.

5. iMes
"iMes Aplikasi Instant Messenger Terbaik Buatan Indonesia"
iMes - sarangsemut.my.id
iMes merupakan aplikasi besutan PT. Gobsindo Utama yang dipasarkan sejak tahun 2015. Anda dapat mengunduh iMes melalui Google PlayStore dengan dukungan koneksi jaringan minimal 3G. Supaya bisa menggunakan iMes, pengguna harus mendaftarkan nomor ponselnya. Setelah itu, mengisi beberapa data terkait user name, kata kunci, dan alamat surat elektronik.

Aplikasi iMes memiliki enam fitur unggulan, yaitu super grup dengan 2.000 anggota, penerjemah bahasa, broad cast message, chat back ground, stiker, dan channel discovery. Selain itu, tersedia fitur ringtone yang memungkinkan pengguna untuk mengganti indikator pesan. Tak ketinggalan, fasilitas transfer data disediakan hingga 250 MB tanpa membebani kinerja ponsel.

6. IyAA Messenger
"IyAA Messenger Aplikasi Instant Messenger Terbaik Buatan Indonesia"
IyAA Messenger - ic.pics.livejournal.com
IyAA Messenger menawarkan konsep chatting dengan menampilkan berbagai karakter. Bahkan, Anda bisa membuat avatar yang terkirim langsung di chat. Aplikasi ini dapat diunduh melalui Google PlayStore maupun iOS. Supaya proses pemasangannya lancar, segera isi pulsa di SIM Card lewat konter online, seperti Traveloka. Kemudian, tukarkan dengan kuota data 3G atau 4G LTE.

7. PeSankita
"PeSankita Aplikasi Instant Messenger Terbaik Buatan Indonesia"
PeSankita - lh3.googleusercontent.com
PeSankita (PS) diluncurkan pada tahun 2005 silam oleh Xecure IT. Tampilan PS mirip dengan WhatsApp. Bedanya, PS memiliki warna dasar merah, hitam, dan putih. Layanan ini sudah tersedia di Google Play Store. Anda bisa mengunduhnya untuk dipasang dalam OS Android maupun iOS.

8. Catfiz Messenger
"Catfiz Messenger Aplikasi Instant Messenger Terbaik Buatan Indonesia"
Catfiz Messenger - masbocah.com
Aplikasi Catfiz yang dirilis tahun 2012 ini digunakan oleh 70 negara di dunia. Salah satu keunggulan Catfiz, yaitu mampu mengunggah 50 MB data. Kapasitas ini lebih besar dibandingkan yang disediakan BBM ataupun Line. Sampai saat ini, pengguna aktif Catfiz mencapai angka 2,2 juta. 



Itulah 8 aplikasi instant messenger buatan Indonesia. Untuk menikmati layanannya, Anda mesti mengisi kuota data. Misalnya, dengan cara membeli paket internet dari pulsa Simpati. Bagaimana, mudah, kan?
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Takut 66, Takut 98

Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa
takut '66, takut '98.

1998
"Puisi: Takut 66, Takut 98"
Puisi: Takut 66, Takut 98
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Syair Empat Kartu di Tangan

Ini bicara blak‐blakan saja, bang
Buka kartu tampak tampang
Sehingga semua jelas membayang
Monoloyalitas kami
sebenarnya pada uang
Sudahlah, ka‐bukaan saja kita bicara
Koyak tampak terkubak semua
Sehingga buat apa basi dan basa
Sila kami
Keuangan Yang Maha Esa
Jangan sungkan buat apa yah‐payah
Analisa psikis toh cuma kwasi ilmiah
Tak usahlah sah‐susah
Ideologiku begitu jelas
ideologi rupiah
Begini kawan, bila dadaku jalani pembedahan
Setiap jeroan berjajar kelihatan
Sehingga jelas sebagai keseluruhan
Asas tunggalku
memang keserakahan.

1998
"Puisi: Syair Empat Kartu di Tangan"
Puisi: Syair Empat Kartu di Tangan
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Seratus Juta

Umat miskin dan penganggur berdiri hari ini
Seratus juta banyaknya
Di tengah mereka tak tahu akan berbuat apa
Kini kutundukkan kepala, karena
Ada sesuatu besar luar biasa
Hilang terasa dari rongga dada
Saudaraku yang sirna nafkah, tanpa kerja
berdiri hari ini
Seratus juta banyaknya
Kita mesti berbuat sesuatu, betapa pun sukarnya.
   
  
16 Agustus 1998
"Puisi: Seratus Juta"
Puisi: Seratus Juta
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebuah Jaket Berlumur Darah

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan berahun‐tahun

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja

Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan 'Selamat tinggal perjuangan'
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan‐bangunan
Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana‐mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang‐abang beca, kuli‐kuli pelabuhan
teriakan‐teriakan di atas bis kota, pawai‐pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN.

1966
"Puisi: Sebuah Jaket Berlumur Darah"
Puisi: Sebuah Jaket Berlumur Darah
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Salemba

Alma Mater, janganlah bersedih
Bila arakan ini bergerak pelahan
Menuju pemakaman
Siang ini

Anakmu yang berani
Telah tersungkur ke bumi
Ketika melawan tirani


1966
"Puisi: Salemba (Karya Taufiq Ismail)"
Puisi: Salemba
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Presiden Boleh Pergi Presiden Boleh Datang

Sebuah orde tenggelam
sebuah orde timbul
tapi selalu saja ada suatu lapisan masyarakat di atas gelombang itu
selamat
Mereka tidak mengalami guncangan yang berat
Yang selalu terapung di atas gelombang
Seseorang dianggap tak bersalah sampai dia dibuktikan hukum bersalah
Di negeri kami ungkapan ini begitu indah
Kini simaklah sebuah kisah
Seorang pegawai tinggi gajinya satu setengah juta rupiah
Di garasinya ada Volvo hitam, BMW abu‐abu,
Honda metalik, dan Mercedes merah
Anaknya sekolah di Leiden, Montpellier dan Savana
Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan macam‐macam indah
Setiap semester ganjil istri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura
Setiap semester genap istri gelapnya liburan di Eropa dan Afrika.

Anak‐anaknya ....

Anak‐anaknya pegang dua pabrik, tiga apotik dan empat biro jasa
Selain sepupu dan kemenakannya buka lima toko onderdil,
lima biro iklan, dan empat pusat belanja.

Ketika rupiah anjlok terperosok, kepeleset macet dan hancur jadi bubur,
dia, hah!
dia ketawa terbahak‐bahak karena depositonya dolar Amerika semua
Sesudah matahari dua kali tenggelam di langit Barat,
jumlah rupiahnya melesat sepuluh kali lipat
Krisis makin menjadi‐jadi
Di mana‐mana orang antri
Maka 100 kotak kantong plastik hitam dia bagi‐bagi
Isinya masing‐masing:
Lima genggam beras, empat cangkir minyak goreng,
dan tiga bungkus mie cepat jadi.

Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak televisi
dan masuk koran halaman lima pagi sekali
Gelombang mau datang,
Datang lagi gelombang setiap bah air pasang
Dia senantiasa terapung di atas banjir bandang
Banyak orang tenggelam toh mampu timbul lagi
lalu ia berkata sambil berdiri:

Yaaa... masing‐masing kita kan punya sejeki sendiri‐sendiri
Seperti bandul jam bergoyang‐goyang kekayaan misterius mau diperiksa
Kekayaan... tidak jadi diperiksa
Kakayaan... mau diperiksa
Kekayaan... tidak jadi diperiksa
Kekayaan... mau diperiksa
Kekayaan... tidak jadi diperiksa
Kekayaan... harus diperiksa
Kekayaan... tidak jadi diperiksa.
  

"Puisi: Presiden Boleh Pergi Presiden Boleh Datang"
Puisi: Presiden Boleh Pergi Presiden Boleh Datang
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua Pada Anaknya Berangkat Dewasa


Jika adalah yang harus kau lakukan
Ialah menyampaikan kebenaran
Jika adalah yang tidak bisa dijual‐belikan
Ialah yang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kau tumbangkan
Ialah segala pohon‐pohon kezaliman
Jika adalah orang yang harus kau agungkan
Ialah hanya Rasul Tuhan
Jika adalah kesempatan memilih mati
Ialah syahid di jalan Ilahi
 
 
"Puisi: Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua Pada Anaknya Berangkat Dewasa"
Puisi: Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua Pada Anaknya Berangkat Dewasa
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Memang selalu demikian, Hadi


Setiap perjuangan selalu melahirkan
Sejumlah pengkhianat dan para penjilat
Jangan kau gusar, Hadi

Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita
Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang
Jangan kau kecewa, Hadi

Setiap perjuangan yang akan menang
Selalu mendatangkan pahlawan jadi‐jadian
Dan para jagoan kesiangan

Memang demikianlah halnya, Hadi



1966
"Puisi: Memang selalu demikian, Hadi"
Puisi: Memang selalu demikian, Hadi
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil‐kecilan aku nara‐sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini
II
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak‐serak
Hukum tak tegak, doyong berderak‐derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
III 
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi 
berterang‐terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur‐hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat‐alat berat, alat‐alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal, 
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat‐sangat‐sangat‐sangat‐sangat jelas
penipuan besar‐besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang‐larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat‐lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual‐beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini‐itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata‐mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar‐sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara‐negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang‐terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang‐terangan
yang merupakan dusta terang‐terangan
di bawah cahaya surya terang‐terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang‐terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari‐hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak‐serak
Hukum tak tegak, doyong berderak‐derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza 
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
1998
"Puisi: Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia"
Puisi: Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
Karya: Taufiq Ismail