loading...
Anggur Darah
untuk Fransiskus Sudibyanto

Panglima itu menuju ke bukit batu
musuhnya menyerah kalah.
Maka bagi dia ada pesta meriah
puja pahlawan pemenang perang.

Diteguk setuwung anggur
di lidah terasa darah.
Wahai! Amis, ya, amis!

Dicicip bibir janda musuh
tergigit menetes darah
Wahai! Asin, ya, asin!

Dicoba tidur bermimpi jauh
malah tampak bukit tengkorak
berlumur kerak darah.
Wahai! Rengkah, ya, rengkah!

Banyak kepala telah ia penggal
banyak perpisahan telah ia bikin
puas sudah ia reguk darah
cuma bagi tanda megah gagah
pernyataan perkasa laki-laki.

Genderang tifa menyoraknya
bersama bendera tanda jaya
sedang ia sendiri tersengal-sengal
terendam dalam mabuk darah.

Panglima itu menuju ke bukit batu.
Remak di puncak muntah darah.
Wahai! Merah, ya, merah!
 
"Puisi: Anggur Darah"
Puisi: Anggur Darah
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top