loading...
Hujan Waktu itu


Hujan pertama telah datang,
dari perginya September lalu.
Bumi kembali basah, begitu juga hatiku.
Petir tiada ia,
hanya angin penenun arah.
Lagi, aku menatap jendela basah.

Di sana pernah ada kisah,
Remaja-remaja penanti dosa.
Warna-warni cerita muda,
dua sejarah yang terluka.

Seragam sekolah,
disapa hujan ujung hari.
Aku berteduh,
Namun edan,
dia mengajak dansa air mata.

Di tempat fana ini,
tidak ada yang selamanya.
Hujan selalu berhenti,
Setiba saatnya ia, dan tiba saatnya ia.
Tapi rambutnya telah basah,
aku takut orang tuanya marah.
Dan masih,
Aku takut pintu rumahnya.

Akhir, aku menuntun dia pulang,
menuntun rasa takut.
Kakaknya berdiri di pintu,
Dan syukur, bukan ayahnya.

Namun percaya telah hilang,
dari wajah ramah tamah.
Dan senyum kian luluh,
dicuri keheningan.

"Maafkan aku, aku telah mengecewakan".

Hampir aku terpaku,
sebelum langkah melanjutkan diri.
Di sana doa pernah seperti hancur,
setelah makbul sebulan lalu.
Dan kaki begitu berat,
menyeret duka bimbang sesal.
Menyeretnya, menyeretnya.
membelakangi pagar tua.

Jendela lantai atas,
berdiri dikau di sana.
Aku mencari kata,
senyum kehancuran yang aku punya.
Dan itu, aku melanjutkan lagi,
menangis dalam hujan.
Dan saat itu usai,
aku akan menjadi hantu.

Seperti wajahku yang hampir lenyap,
luntur dari tempatnya.

Dan saat semuanya hilang,
kita akan mencari tau apa yang benar-benar tersisa.
Dan saat kita menyadarinya,
kita tidak pernah tau apa yang pernah kita punya.
 
 
"Puisi: Hujan Waktu itu"
Puisi: Hujan Waktu itu
Oleh: Arief Munandar

Post a Comment

loading...
 
Top