loading...
Perawan Tua


Pada buah nyanyi adalah mimpinya
terantuk pada kerasnya dada bulan.

- O, kerut-merut sudah tiba
dan hari-hari menggendong ngerinya kelayuan
melunak lisut buahku padat
buahku ranum menua tersia.

Amboi, betapa lagu angin tenggara:
- Tiada dirasa gigiran mulut gemas
dikhianati kesuciannya
telah dilewatinya usia-usia sepi
jumlah jerawat bercerita
berahi berapi kandungannya
ratap tangis yang terpampat.

Dan daun terakhir gugur:
- Wahai, debu hinggapi tubuhku
hidup kupeluk bagi siapa?
Melayang, ya melayang
nanti ku gugur pada bunda.

- Dukana! Dukana!
Diperanakkan dari wajah langit angkuh
terhanyut di kali melumuri
jangat para perawan di tepian
bocah-bocah ikan mas jelita.

Burung tuwu bertamu di bubungan
dengking terpendam di halaman
lalu kuku-kuku membaruti daun pintu
bersama terbukanya masuklah anjing hitam.

- Hitamku! Hitamku!
Betapa gatalnya sekujur dadaku!

Yang hangat dilekap ke dada
Yang berbunga dipetiknya.
 
 
"Puisi: Perawan Tua"
Puisi: Perawan Tua
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top