loading...

Bukannya di Madrid


"Akhirnya kita bertemu lagi,
di sini,
di tempat ini.
Peluklah aku!"

+ Sangat berbahagia
memeluk tubuhmu lagi.
Sangat tenteram
mencium kembali bau leher dan dahimu
yang lama kurindukan.

Yuliana,
selamat datang di Indonesia.

"Aku mencarimu! Aku mencarimu!
Sangat jauh aku mengembara.
Sebermula sakit hati
kerna kau telah berdusta."

+ Itu salahku.

"Kau telah berjanji
dari Amsterdam akan ke Madrid.
Dan kita akan bertemu
di bulan Mei tanggal 2
di Paseo del Prado di Hotel Nasional.
Dan aku akan muncul dalam pakaian Jawa."

+ Kekasihku, sangat baik hatiku.

"Hari itu di Madrid di Paseo del Prado
di Hotel Nasional
di bulan Mei tanggal 2
aku datang dengan pakaian Jawa,
tapi kau tak di sana."

+ Dari Amsterdam aku tidak ke Madrid.
Pada saat terakhir di lapangan terbang
aku mengubah haluan
dan naik pesawat yang menuju Calcutta.
Di sana aku demam
hatiku tak tenteram
ingat akan janjiku padamu.
Tapi toh akhirnya aku terbang ke Jakarta.
Lalu ke mari, ke tempat asalku.

Gerah dan pitam.
Kau tinggalkan aku di Madrid.
Dengan penuh perhatian
kaum lelaki memandangku
perempuan berambut blonda
dalam pakaian Jawa.
Aku merasa tolol
seminggu menantimu
dalam kain dan kebaya Jawa.
Aku merasa kauhina
dustamu sangat pedih akibatnya."

+ Yuliana.

"Rusman.
Sambil menjalani seluruh Madrid
dalam hati aku menjerit namamu
Rusman! Rusman!
Di kamat aku menangis dan telanjang.
Susu-susuku mengembang."

+ Yuliana!

"Aku mencoba tak percaya
bahwa kau telah berdusta.
Aku pergi ke Plaza de Toros.
Tidak untuk melihat lembu
tapi untuk mencarimu
di dalam lautan wajah
yang memuakkan perutku.

Ketika orang-orang bersorak untuk matador
dengan mulut berbau bawang
aku sadar akan diriku;
Rusman telah berdusta
di bulan Mei tanggal 2
Rusman tak datang ke Madrid."

+ Ya!

"Aku kunjungi kafe-kafe
yang pernah kau sebutkan.
Hambar!
Lalu pada suatu hari
aku kunjungi Restoran Te El Pilar.
Di sini aku kenal seorang lelaki Spanyol.
Aku tak tahu nama lengkapnya.
Tapi seperti yang lain
ia menoleh bila dipanggil Juan.

Ia bawa aku jalan-jalan
sambil ia cerita tentang lembu.
Aku biarkan ia menjamah dan mencumbuku.
Di gedung bioskop ia meraba susuku.

Aku bawa ia pulang ke hotel
begitu di kamar diciumnya aku keras sekali.
Dan aku membalas menciumnya.
Lalu ia membuka celananya
dan aku hampir tidur dengan dia.
Tapi tiba-tiba aku ingat akan kau.
Aku menangis dan juga tiba-tiba aku benci bau
keringat lelaki itu.
Aku menolak.
Aku mencakar mukanya.
Aku mengancam akan menjerit
bila ia tidak perdi dengan segera.

Ia merasa terhina.
Ia tuduh aku kejam dan gila,
membangkitkan nafsunya
untuk bikin kesal melulu
lalu ia tampar mulutku keras sekali
kemudian ia pergi
sambil meludah padaku."

+ Yuliana! Yuliana!
Hukumlah aku.
Aku bersalah kepadamu.

"Kamu telah bersalah kepadaku.
Tetapi bagaimana aku akan menghukummu
selagi kau berada dalam diriku.
Dan aku tak percaya bahwa kau
telah berdusta begitu saja.

Ada sesuatu antara kita
bukannya lain wanita.
Aku tau itu,
dari ciumanmu masih terasa
bahwa aku membawamu
ke sebuah dunia yang kau kagumi
yang membangkitkan minat
yang selalu menantang gairahmu."

+ Aku telah bersalah kepadamu.
Di bulan Mei tanggal 2
aku tak muncul di Madrid.
Dan sejat itu
kau berhak melupakan diriku.

"Sejak di Madrid aku masih selalu
menyebut namamu:
Rusman! Rusman!
Sejak di Madrid aku mencarimu
ke mana saja.
Aku menulis surat
kepada teman-temanmu
Di New York. Di Verona. Di Paris.

Di Paris aku kunjungi temanmu
Si pelukis dari Roma, Piedro Deurno.
Ia membuka mataku.
Pada suatu ketika,
kamu bermalam di rumahnya.
Kamu berkata padanya
bahwa kau ingin lahir yang kedua.
Engkau berkata:
di rahim ibuku
aku disepuh sari makanan,
lalu aku dilahirkan dengan hayat dalam diriku.
Kemudian, Piedro, aku memasuki rahim kedua
ialah rahim alam dan lingkungan kehidupan,
pengalaman dan pengetahuan
menyepuh seluruh diriku
seperti keris orang Jawa
yang lama disepuh dan ditempa,
dipersiapkan tidak untuk senjata,
tapi dengan hikmat ia dipersiapkan
menjadi logam yang sempurna.
Indah. Dewasa. - 
Sekarang aku hidup di rahim ke dua.
Aku hasratkan kelahiranku
Aku bergairah menyibak jalanku
keluar dari rahim ini.
Dan sebentar lagi
akan datanglah kejadian
aku lahir yang ke dua.
Maka, di saat seperti itu
dengan penuh hak
aku bisa berkata:
Aku Rusman!

+ Yuliana!
Aku Rusman!

"Kekasihku,
dan kau juga berkata kepada Piedro Deurno
bahwa di Tanah Jawa
dalam kejadian seperti itu
orang lalu membuat nama baru
bagi dirinya.
Dan menyebut nama itu
nama yang resmi. Nama dewasa."

+ Meski tanpa nama baru
sekarang lengkap kelahiranku.

"Memahami adat aku bertanya
siapakah namamu?"

+ Namaku Rusman.

"Apakah kamu menemu hidup yang baru?"

+ Hidup adalah hidup
Tapi diriku tumbuh dewasa.
Dengan resmi aku berkata.
Dengan sadar aku berdiri.
Sikap telah kutentukan.

"Pergi dari Eropa"

+ Aku pulang
menjawab keadaanku.
Sajak-sajak yang nanti kutuliskan
adalah jawabanku.

"Dan Eropa?"

+ Eropa bukan keadaanku.
Tapi Eropa berada dalam diriku.
Eropa adalah jeladri
yang menyepuh diriku dalam kandungan kedua.

"Dan saya, Yuliana?"

+ Yuliana yang Yulianaku
adalah dunia yang selalu menantangku.
Yuliana adalah cakrawala.
Yuliana adalah abstraksi.
Yuliana adalah universalitas.

"Berdiri di dalam keadaanmu;
apakah kamu menolak aku?"

+ Menolak cakrawala.
adalah menolak ilham cendekiawan.
Menolak abstraksi
adalah menolak naluri nalar.
Menolak universalitas
adalah menolak hakikat pengertian.
Maka, engkau Yuliana
tidak terpisah dari hayatku.

Berdiri dalam keadaanku
bagiku berarti
bertolak dari kenyataan yang khas.
Dan menghayati universalitas
adalah menangkap madah alam semesta;
kaki berpijak di bumi
dan jiwa membubung ke langit,
begitu laiknya.

"Tanpa aku engkau akan sengsara."

+ Tanpa engkau hidupku pincang.

"Aku masuk ke dalam darahmu."

+ Itu terasa.

"Rohku dan rohmu
tidur bersama."

+ Itu pun gairahku pula.

"Haitku bergelora pula
melihat kau berdiri di antara bangsamu."

+ Kebangkitan bangsa ini harus segera dimulai
Kebangkitan budaya. Peremajaan budaya.
Inilah kebutuhan dasar.
Menguji kembali nilai-nilai lama yang aman,
tapi gagal menjawab zaman.

Mengerahkan keberanian
dan meninjau kembali khayalan bangsa.
Menghargai nalar yang merdeka
dan menjawab tantangan cakrawala.
Untuk ini penyair juga dibutuhkan.

"Matamu bernyala-nyala."

+ Indonesia adalah ranjang buaianku.
Indonesia adalah kuburanku.
Ia aku muliakan.

"Kerna telah di sini dan melihat sendiri
aku mengerti kenapa kaucintai bangsamu
dengan jiwa yang bergelora."

+ Bukan sekedar nasionalisme.

"Aku mengerti."

+ Budaya.

"Ya.
Dengarlah,
aku ingin menarik napas panjang
dan memasukkan bagian bumi di sini
ke dalam rabuku. - Ah."

+ Silakan.

"Terima kasih.
Tetapi aku tak ingin menjadi tamu.
Pakaian adat Jawa yang dulu kubawa ke Madrid
akan kembali kukenakan.
Rambutku masih panjang
dan aku masih cakap
bergelung cara Jawa.
Lalu aku akan menagih janjimu.
Rusman, aku ingin jadi istrimu."

+ Janganlah terjerat oleh hatimu yang dermawan.
Sejak heboh di Madrid engkau pun kubebaskan.

" Tidakkah kau mengerti
bahwa kau telah berada dalam diriku.
Bahwa kau itu sebuah bayangan
di bawah sadarku.
Bahwa kau mewakili pengertian
yang penting nilainya
di dalam pikiranku."

+ Bagimu aku universalitas.
Kita adalah pertemuan.

"Ya. - Dan aku berhak mempertahankan kamu.
Aku hanya sekadar mempertahankan
apa yang berhak aku pertahankan."

+ Ingatlah kita penyair.
Penyair lain dari sarjana.
Dengan perkasa sarjana mengepakkan sayapnya
membubung ke langit.
Merintis jalan pikiran kita.
Penyair dekat kepada nasib masyarakatnya.
Ialah nerakanya.

Maka bila sarjana itu dewa
penyair adalah setan.
Ia terikat kepada nerakanya.
Ia membubung ke langit
memberontak nerakanya.
Tetapi nerakanya selalu mengikutinya.
Kita tak bisa menolak neraka kita.

Kalau mau bisa memilih tak tahu akan adanya.
Tetapi memilih tak tahu
berarti memilih tergolek di kandungan
yang gelap meski aman.

Dengarlah!
Aku telah ke Eropa
dan kau ke Indonesia.
Tidak untuk beronani jiwa.

"Rusman! Rusman!"

+ Mendung telah datang bergulung.
November di sini adalah bulan yang basah.
Nah, kau dengarkah
bunyi gelisah dari jauh itu?

"Anginkah itu barangkali?"

+ Itu angin dan hujan.
Dari jauh sekali mendekat kemari.

"Astaga! Dukunglah aku."

+ Di ranjang akan kita dengarkan
rintiknya hujan,
berderap di rumpun pisang,
berderap di bubungan
air tercurah dengan bunyi yang mengasyikkan
Ke pelimbahan.

"Hari itu di Madrid
di bulan Mei tanggal 2
di Paseo del Prado
di Hotel Nasional
kau kunantikan
dengan pakaian adat orang Jawa.
Meski kini kita tidak saling memiliki
kita pengantin di dalam jiwa."

+ Begitulah kiranya.

"Dan aku akan kembali ke Eropa."

+ Bagus. Aku bangga.

"Apakah kau percaya
bahwa cinta bisa abadi?"

+ Kecuali waktu tak ada yang abadi.
Tapi kamu tak akan aku lupakan.



1977
"Puisi: Bukannya di Madrid (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Bukannya di Madrid
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top