Meditasi


Dalam tiga waktu,
Apa lagikah yang mesti diucapkan
dalam gaung waktu bersautan?
Di empat penjuru
malaikat pun berlagu, lewat kabut
dan terasa
hari berbisik.

Ada sekali peristiwa
di relung-relung sunyi Hira
terdengar seru:
"bacalah dengan nama Tuhanmu."

Maka terbacalah,
Tapi terbaca juga sepi ini kembali,
menggetar, pada senyum penghabisan
dan jatuh dalam sajak,
sajak yang melambaikan tangan, terbuka
dan bicara dengan senja di atas cakrawala:
ada sesuatu yang terpandang bening 
dalam diriku, antara dinding,
dimana terbunuh nama-Mu
yang menjanjikan damai itu.

Bila langit pun kosong, dan berserakan bintang 
mengisinya : tidakkah akan kami gelisahkan, Tuhan
segala ini? Tidakkah semacam duka
untuk memburu setiap kata, setiap justa
tentang kejauhan-Mu, tentang rahasia?
Sebab Engkaulah arah singgah
yang penuh penjuru
seperti bumi, hati dan mungkin puisi
yang berkata lewat sepi, lewat usia
kepadaku.

Maka siapkan waktu,
dengan suara-Mu tegap
yang sediam lembut
detik-detik darah tersekap
sementara baringkan
kota dalam tidur jauh, malam.

Berikan pula kami antara diam ini
percakapan tiada sedih. Hanyalah malam
yang makin tebal bila larut. Hanyalah lengang
yang tertentang di ruang kusut. Tapi kami yang diam
bisa bicara, Tuhan, dalam selaksa warna-warni
dan tidak ada perlunya sorga, dalam kemerdekaan
seperti ini.

Yang terhuni
suara-suara bersendiri
tak ada perlunya sorga yang jauh
yang pasti dingin menyentuh:
tanah yang dijanjikan
dan telah ditinggalkan

Memusat matahari di bumi yang siang.
Terpukau air kemarau, rumputan kering di padang-padang.
Ini pun satu malam, dan kami mengerti
jauh dari indera yang telanjang. Di tepi-tepi
mencecah terik : namun di manakah sedih suara
antara bisik-bisik jantung yang mengungkapkan kata-kata?

Ada sekali peristiwa
di relung-relung sunyi
terdengar seru :
"Bacalah nama Tuhanmu"

Maka berikanlah sunyi itu kembali
sebab kami mengerti: Engkau tak hendakkan
kami terima sedih alam ini,
alam yang sendiri,
yang terhampar jauh, sahabat tak terduga.
Kabarkan: apa lagikah yang terucapkan,
dalam gaung waktu bersautan
yang begini damai, senyap,
Tuhan, begini menyekap.



1962
"Puisi: Meditasi (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Meditasi
Karya: Goenawan Mohamad

Post a Comment

loading...
 
Top