Februari 2018
If you want to become healthy, so you can consume the healthy food menu. There are many healthy menus that can you consume. One of them is milk. It contains protein, calcium, vitamin, fat and other contains that can make your body become healthy. Milk can be processed become yogurt, cheese, condensed milk, milk powder etc. All products can consume directly or mix with other food material such as fruits or mix to make cakes, desserts and other foods. All health food can consume everyday regularly.

"Banana Yogurt, the Healthy Food Menu"

There are many healthy foods that can you making to become health. One of them is Banana Yogurt. The main ingredients in this menu are yogurt. It is processed become a healthy food. This menu is suitable for you who has diet program. To making this menu, you need to prepare some ingredients such as:
  • 1 large banana that has cooked
  • 150 gram plain yogurt
  • some fruits such strawberry or cherry for topping.


If all ingredients are ready, you go to the next step namely the way to process it. For the first, you can prepare at least 12 prints of silicon cake, and then tidy on a baking sheet. Next step is peel the ripe banana and puree on a plate with fork. After the banana is smooth, you can put the banana into a bowl then mix with yogurt. Beat the both ingredients until well blended. The next step is put the banana yogurt cake dough into each mold by using a spoon. After the dough is split into the mold, you can sprinkle the topping with some fruits. Next insert the baking sheet with the poured mold into the freezer. Freeze it for several hours. After frozen perfectly, you can remove it from mold.

To choose yogurt product in making this menu, you can try this product namely Yummy Dairy Yogurt. This brand has many variant yogurt products. If you curious about this product, you can visit yummydairy.com.
Sebelum 2005

Dengarlah saudaraku, dengarlah sekali lagi
sebelum kita berhaluan anjing.

Perjalanan panjang menghadapi umur
arwah moyang memuai mimpi ditindih mimpi:
kembalikan sejarah pada sejarah
kembalikan cinta pada cinta.

Karena sungguh, tidur masa kecilku
tidak senyenyak anak-anak kota,
mimpi-mimpiku
tidak seindah mereka anak-anak kota.

Terlintas, sesekali
sejarah tumbuh, subur, di ingatan mungil
si anak yang belum mengerti hukum.

(Pintu rumah digedor Indonesia Raya,
seminggu dua kali, dor!)

Satu lagi
badan-kosong-nyawa
tanpa baju
tertutupi daun pisang.
sebuah peringatan
dari ingatan:
kami penjajah kejam
kami bangsat.

2005
bertopeng nama damai
mereka berhenti 'perang
mereka berdamai dengan diri mereka sendiri.
Namun tidak membuat lupa
bahwa dulu: pintu rumah digedor
pada jam kelelawar mencari nyawa.

(Pintu rumah digedor Indonesia Raya,
seminggu dua kali, dor!)

28 Februari 2018

"Puisi: Sebelum 2005"
Puisi: Sebelum 2005
Oleh: Arief Munandar
Nyanyian Hidup

Anak-anak Indonesia tak pernah lalai
akan tugas hari yang hampir lusa
tahu setiap langkah dimulai
tersaji angka-angka dan realita
siap menghadang tak hendak bincang.

Anak-anak Indonesia tak pernah sangsi
hidup bukan nyanyian siap tembang
tapi kata yang harus diberi makna
lontar hasrat yang harus diberi nada
apa yang didapat dari buku
tak lebih awal ajaran
apa yang disimak dari layar kaca
tak lebih mozaik dan retorika
apa yang didapat dari kehidupan
kearifan dan kebijakan.

Anak-anak Indonesia tak pernah alpa
pengalaman bukan kamar yang dikunci
melainkan hati yang terbuka
pahami kehidupan seutuhnya selalu di sanalah ia.

Jakarta, 1991
"Puisi: Nyanyian Hidup (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Nyanyian Hidup
Karya: Diah Hadaning
Untuk Catatan Harian Sabrinna

Kuletakkan dalam almari, luka yang tercatat
pada album. jam-jam yang terlipat kefanaan
kuletakkan gairah kepedihan, kebahagiaan 
yang terkemas dalam usia singkat embun di atas daun.

kuletakkan pada kalender, nama-nama yang tercatat 
dalam tanah yang berdebu. ruhmu terperangkap dalam
jaring waktu.

1988
"Puisi: Untuk Catatan Harian Sabrinna (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Untuk Catatan Harian Sabrinna
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sebuah Radio, Kumatikan
fragmen ke 25

Malam sudah amat jauh, tapi siapa yang masih sibuk
bercakap tentang waktu. Aku diam saja. Telingaku membatu
- masih terus kau bercakap tentang segala sesuatu itu.

Di luar sana gonggongan anjing-anjing liar. Mungkin
segerombolan hantu dan ketakutan. Atau kebencian merambat
lewat gorden, dan mengintipmu.

Jadi, kau mendengar apa saja. Kau melihat apa saja.
Mengapa meringkuk dalam selimut kecemasan itu?

"Puisi: Sebuah Radio, Kumatikan (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Sebuah Radio, Kumatikan
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Catatan dari Rumah Tua

Rumah tua dalam curah sinar mentari
saat pendapa sepi sendiri
simpan air mata hari ini
raga rapuh tanpa keluh
menyapa dalam diam
telah asing meja perjamuan
telah jauh orang-orang berjalan
sebuah janji lama tertinggal
di antara konsep-konsep tak selesai
mengabadikan pantai
dalam bahasa dawai
akankah dibawanya jauh
ke gulung ombak tak tersentuh
yang buihnya selendang putih
Sang Dewi Lanjar.

Kusimak Dayang mentari hari ini
sembunyikan bayang Sang Dewi
O, angin lautnya kidung murung
O, dengan aksara apa menata nuansa
yang timbul tenggelam
di dalam ruang dengan mosaik
pantai, kota, trotoar, pelataran
semua memanjang.

Tegal
Mei, 2000
"Puisi: Catatan dari Rumah Tua (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan dari Rumah Tua
Karya: Diah Hadaning
Catatan Harian Anak Perang

Ada yang mengalir di sungai musim
harapan-harapan anak perang

Ada yang melantun di udara malam
doa-doa anak perang.

Ada yang menyentuhi detik waktu
mimpi-mimpi merpati terbang.

Ada yang lama dirindukan
berzikir, barzanji dengan tenang.

Ada yang harus ditinggalkan
mencari, berkejaran di jalanan.

Ada yang membubung ke rumah Tuhan
nyawa-nyawa anak perang.

Jakarta
Februari, 1991
"Puisi: Catatan Harian Anak Perang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Harian Anak Perang
Karya: Diah Hadaning
Nikah Ilalang

Engkau nikahi ilalang. Berumah di negeri
semak-semak. Diamlah dalam kemerisik angin
yang mengecoh cakrawala.

Tapi orang-orang lalu melayat padamu. Terasa
kelam perkawinan dan pesta syahwat. Engkau
butuhkan bunga-bunga ditaburkan. Doa-doa
penghabisan, dan ziarah bertubi-tubi.

Engkau nikahi ilalang. Luas kebun luas bumi
luas langit luas jagat batinmu. Engkau
nikahi kesunyian yang ditinggalkan abad-abad
nanti. Berkumur cabikan tanah kering dan
pestisida. Berkumur jagat hewan kecil yang
mencari rumah-rumah dalam tangis dan sekarat.

1992
"Puisi: Nikah Ilalang (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Nikah Ilalang
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Musim Keenam

Hujan siang hujan malam, bapa
menyatu dalam sisa ketegaranku
ketika air mata tak lagi
harus bicara, melainkan
tembang tanah merdeka
di awal musim.

Dalam pejam kusaksikan
barisan kemamang dan banaspati
memasuki jiwa manusia tersakiti
semesta porak poranda
bencana meraga.

Harmoni telah lama tanpa melati
Jakarta kini belanga didihkan tuba
diam-diam ada yang memanggil namamu
bapa, rindu bunga karisma
mencari kepal tanganmu
adakah kau kenali suaranya?

Jakarta
Juni, 2000
"Puisi: Musim Keenam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Musim Keenam
Karya: Diah Hadaning
Elegi Bendera

Lahir di masa silam
tumbuh dalam kebersamaan
dan warna semakin terang.

Dijahit oleh tangan cinta
disimpan kini bagai pusaka
kau berbiak di mana-mana.

Ketika zaman berubah
ada orang-orang marah
tak tahu arah
ingin pisah
kau diapikan
dengan kebencian
dia lupa makna sejarah.

Lahir dengan sumpah
menyatu dengan darah
warna yang merah.

Hadirlah selalu
di langit para laskar tua
di jiwanya kau raja.

Agustus, 1998
"Puisi: Elegi Bendera (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Elegi Bendera
Karya: Diah Hadaning
Yang Masih Ada

Suaranya masih ada
di antara kesiur angin
di pohon kota raya
sesiapa menangkap pesan
terkirim dari liang kerinduan
ya, lama menanam benih
dalam aroma uap plitur
jika terlambat tumbuh
dan tak sempat memetik buah
bukan berarti diri tak pintar
tapi kota tempat bermukim
telah kehilangan musim.

Seorang sahabat lama
berdoa sambil memandang guguran cemara
bisikkan tentang jaman yang berubah
meski masih ada tangis dan darah
meski orang hilang mimpi
meski orang hilang bayang
setidaknya ada yang harus ada.

Bogor
Juli, 2000
"Puisi: Yang Masih Ada (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Yang Masih Ada
Karya: Diah Hadaning
Gelisah Alam

Gelisahmu gelisah kota
gelisahmu gelisah musim
gelisahmu gelisah jiwa.

Orang-orang mengusung gelisah
dari rumah-rumah
dari sawah-sawah
dari sampah-sampah
gelisah diterawangkan
arah matahari 
sambil coba mengeja
aksara jadi kawi.

Gelisah alam baca dalam hening
saat malam harum kemuning
saat jiwa dalam bening.

Februari, 1999
"Puisi: Gelisah Alam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Gelisah Alam
Karya: Diah Hadaning
Amsal Ilalang

I
Amsal ilalang sedang digubah tembang
seseorang digotong pulang
kejang menatap mega
perempuan paska gara-gara
mozaik alam diusung jiwa
jiwa meronta dan melolong
si penolong jadi kepompong.

II
Semua berubah di tanah ini
temaram tanpa warna
bintang, bulan purnama awan mega
bunga mawar, puisi dan pelangi
semua simpan aroma amunisi
lelaki tak bernama atau perempuan lugu
kehilangan taman kota.

III
Ilalang tak lagi tumbuh di padang
subur merambah jiwa gersang 
para tualang penggadai masa depan
langkahnya masih jauh
warta dibawa ombak gemuruh
menyapu ilalang dan tembang
tinggalkan serpih janji para tualang.

IV
Mengurai pagi menyisir serat kabut
di beranda mengetuki dada
mengharap sandar perahu mayang
sementara tanah perdikan jadi milik tiran
yang tak suka tembang apalagi ilalang
yang membiarkan orang menunggu kesempatan
sampai dimakan ilalang.

Cimanggis, 2005
"Puisi: Amsal Ilalang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Amsal Ilalang
Karya: Diah Hadaning
Ruwat Tangis Anak Negeri

I
Doa telah dilantunkan
tembang wingit mengantarkan
anak manusia awali langkah pengembaraan
mencari yang harus dicari
menghitung yang harus dihitung
melangkah karena harus melangkah
mengusung karena harus mengusung
berat tak berat sarat tak sarat
menghela beban sepanjang jalan
namun harus diteruskan.

Inilah perjalanan luka
inilah perjalanan doa
luka dan doa anak manusia
merah hitam mulai berkelebat
merah hitam hidup berkarat
Utara Selatan Barat dan Timur
Arah pencarian sepanjang umur
di antara cerah di antara mendung
terengah dan tersandung
dibantai dan ditelikung.

II
Matahari bersinarlah di lengkung dahi
langit wingit berkidunglah di cakrawala hati
anak manusia menangis dalam jiwa
namun tak mengenal kata menyerah
semesta dalam dekapan
menjadi tawa dan tangis
menyatu sudah dalam diri
jiwa dan raga pun teruwat
menyambut peristiwa jagat.

Agung agung sarinya agung
yang agung meruang dan meraung
Ho - no - co - ro - ko!
Lahir batin tlah tersaksi
segala ontran-ontran dan 'goro-goro'
segala siksaan dan 'ngresulo'
pecah ambyar pecah ambyar
mentari redup mentari bersinar.

Bogor
Medio, 2000
"Puisi: Ruwat Tangis Anak Negeri (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ruwat Tangis Anak Negeri
Karya: Diah Hadaning
Ketika Kata Jadi Belati
Buat Anggit, Ndra, Win dan Vi

Banyak yang tidak sejanji
ketika nurani ditinggalkan harum melati
digantikan mata belati
kata-kata menjadi tanda bahaya
wajah-wajah siratkan curiga
kemasan-kemasan mudah diubah
menjadi sesuatu sangat lain
angin siang kemarau panjang desa nelayan
angin malam simpan geram di aula
entah intro apa intermezzo
namun Anggit, Ndra, Win dan Vi
lebih mengerti dari kesiur angina musim
karena salam dan mata lebih bermakna dari sederet kata
lalu kuteduhkan gelisah bangkit tiba-tiba
kusandarkan dan kubaringkan
di beranda rumah tua
aku tak harus mencari ke mana-mana
karena tiga malam sangat ranum
membuat gemintang berpendaran dalam ruang
terima kasihku - Tuhan.

Bogor, 1994
"Puisi: Ketika Kata Jadi Belati (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ketika Kata Jadi Belati
Karya: Diah Hadaning
Jakarta dalam Segala

Pagi
kelabu di sisa kabut
menggeliat di awal kiat
bangkit di atas sakit
mengangin di celah ingin.

Siang 
membuih di juice alpokat
mengapung di Ciliwung
menganga di Jatinegara
mengedan di riuh pertokoan.

Malam
membuncah di emperan
meliuk di gedung benderang
menggoda di sisa sadar
merunduk dalam doa awam.

Kusadari
Jakarta mengalir di nadi
Jakarta mencair di mata
Jakarta melendir di kecemasan
Jakarta mencari di purbani.

Jakarta
Juni, 1994
"Puisi: Jakarta dalam Segala (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta dalam Segala
Karya: Diah Hadaning
Ketika Musim Berubah

Berwindu kukenal wajah
berwindu kukenal nama
berwindu kukenal tanah
berwindu kukenal sapa.

Ketika musim berubah
warna pelangi simpan darah
denyut nadi simpan getah
belati di ujung lidah
aku jadi orang asing
di tanah kelahiran
tempat bersemi segala benih
angan, mimpi, harap, asa.

Urban di tanah baru
orang-orang metamorfose dajal
musim mencari tumbal
aku hanya bisa panggil namamu bapa.

Bogor
April, 2001
"Puisi: Ketika Musim Berubah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ketika Musim Berubah
Karya: Diah Hadaning
Sajak Jika

Jika tak bisa sejiwa
jika tak bisa serasa
jika tak bisa seirama
jika tak bisa sewarna
kesendirian adakah
padang bunga bagi kembara
telaga hutan bagi perenung
teluk senja bagi pecinta nuansa.

Jika sebuah kehadiran
hanya keluhan
hanya cela
hanya belenggu
hanya luka
hanya rasa sakit
bepergian adakah
mara kebebasan
beningnya tembang
panorama keindahan
relung kenikmatan.

Bogor
Januari, 2000
"Puisi: Sajak Jika (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Jika
Karya: Diah Hadaning
Anak Rimba Beton

Ia lahir di pinggir kali keruh
ia tumbuh di celah plaza
hidupnya bukan petikan gitar
tapi perburuan liar.

Ia lahir di antara deru kota
selalu menghirup udara cemar
hidupnya bukan irama pagi
tapi geriap laron di api.

Jembatan-jembatan penyeberangan
tempat ia bermain-main.

Terminal-terminal riuh nian
tempat ia simak kehidupan.

Jakarta
Juli, 1994
"Puisi: Anak Rimba Beton (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Anak Rimba Beton
Karya: Diah Hadaning
Kaum yang Menuju Tiada

Meninggalkan kota-kota kelahiran
menuju tempat dalam angan
mengusung hanya erang
dan kenangan yang tersisa
tersimpan dalam sarang-sarang angin
untuk berapa musim
siapa sempat menghitung.

Orang-orang terus berangkat
menuju tempat dalam mimpi kanaknya
barangkali ada lahan-lahan baru
matahari sempurna
hangati pohonan muda
mekarkan bebunga
janjikan kehidupan.

Langit warna perunggu
hisap jiwa
lintasi selat dan laut berkhianat.

Bogor
Juli, 2000
"Puisi: Kaum yang Menuju Tiada (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kaum yang Menuju Tiada
Karya: Diah Hadaning
Renungan Tua

I
Laut temaram
muram di bawah hujan
perahu sepi
mengapung sendiri
jauh pesisir
dari taksir
ada yang menggelepar
di kota bandar
sementara semak bakau
hilang dari rawa pesisir
saat pulau kecil hendak dilangsir
renungan bencana
laut dan darat sepi.

Telah diminum air kembang waru
telah dikulum daun dewa
sepotong kayu manis dan buah pala
cengkeh tujuh biji pengharum aroma
telah dilantunkan doa-doa
sampai semarak kata di para-para
kursi semakin rapuh
dari subuh ke subuh
alam semesta yang ibu
telah menghukum pelanggar tabu
renungan mengabu.

II
Umur-umur terus bergulir
mengantar jaman anyir
orang-orang merunduk pada sang pandir
jaman telah berubah
bendera dalam jiwa berwarna putih merah
O, kini gaman mencari tuannya
tiap mimis jadi bumerang
mengirim tangis jadi gerimis
tanah perdikan semakin amis
tersandar di ruang kosong doa kepompong.

Kota-kota semakin gaduh
jiwa-jiwa semakin melempuh
seorang perempuan sisa peradaban
menimang bayi kering di pangkuan
tembangnya mengiris sisa rembulan 
beraksi dalam hati bergerigi
ada harap tak sembunyi dari pijar
ada mimpi tak berhenti dari fajar
sementara peradaban mencari muara
perlahan menuju arah balik purba.

Bogor
September, 2000
"Puisi: Renungan Tua (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Renungan Tua
Karya: Diah Hadaning
Ketika Orang Belajar Membaca Angin

I
Setiap membaca angin
orang-orang kota terbakar kehilangan
aksara, dan lupa cara mengeja kata
mereka menjadi paling dungu di antara
yang lain karena sebelumnya selalu
mereka berkata rumpunnya paling pandai.

II
Setiap orang di kota terbakar
menjadi miskin di antara anak manusia
dan tak tahu mencari cara penyembuhnya
karena sebelumnya selalu berkata
mereka paling kaya
mereka paling bijak
mengaku leluhurnya bangsa langit
segalanya paling langit.

III
Dari tahun ke tahun angin tak reda
orang-orang malah bertikai
biarkan rumah agungnya dimakan anai-anai
ketika datang badai pohonan bertumbangan
mereka tumbangkan kejujuran
karena telah begitu dungu
tak bisa lagi bedakan
kebenaran dan keburukan.

Orang tua sisa peradaban
diam-diam berdoa:
Tuhan, hanya ada dua pilihan
Sadarkan segera
atau hancurkan saja.

Bogor
Oktober, 2001
"Puisi: Ketika Orang Belajar Membaca Angin (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ketika Orang Belajar Membaca Angin
Karya: Diah Hadaning
"Buah Rindu (Koleksi Puisi Amir Hamzah 1941)"
Buah Rindu (1941)
Koleksi Puisi Amir Hamzah

  1. Cempaka...
  2. Cempaka Mulia
  3. Purnama Raya
  4. Buah Rindu (bagian 1)
  5. Buah Rindu (bagian 2)
  6. Buah Rindu (bagian 3)
  7. Buah Rindu (bagian 4)
  8. Kusangka
  9. Tinggallah
  10. Tuhanku Apatah Kekal?
  11. Senyum Hatiku, Senyum
  12. Teluk Jayakarta
  13. Hang Tuah
  14. Ragu
  15. Bonda (bagian 1)
  16. Bonda (bagian 2)
  17. Dagang
  18. Batu Belah
  19. Mabuk...
  20. Sunyi
  21. Kamadewi
  22. Kenang-Kenangan
  23. Malam
  24. Berlagu Hatiku
  25. Harum Rambutmu
  26. Berdiri Aku
  27. Pada Senja
  28. Naik-Naik



Kata Kunci:
  • Puisi Buah Rindu oleh Amir Hamzah
  • Puisi Boeah Rindoe oleh Amir Hamzah
  • Puisi Amir Hamzah di dalam Buku Buah Rindu
  • Puisi Amir Hamzah 
    di dalam Buku 
    Boeah Rindoe

Sajak Kecil Buat Kartini

Dalam kemelut ombak kehidupan hari ini
ketika melati-melati putih terhempas
tersangkut di karang pantai cemarnya noda kemajuan
ketika Jepara bangkit dari sunyi tidurnya
menjadi tonggak awal bertolak hari ini
Kartini, binar pandangmu membakar jiwa kami
Kartini, tandas suaramu menggugah gairah kami
perempuan-perempuan sederhana yang sibuk rumah tangga
wanita-wanita cendekia yang menjadi tiang penyangga
dan dengarlah hari ini sekali lagi
kami berikrar setia di sini
Kartini, kami sedang berjalan di jalanmu
Kartini, kami mau menaklukan matahari.

Jakarta, 1978
"Puisi: Sajak Kecil Buat Kartini (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Kecil Buat Kartini
Karya: Diah Hadaning
Anak-Anak yang Berubah

Anak-anak telah tumbuh
oleh rabuk kimiawi
Anak-anak telah pintar bilang
tidak dari advertensi
Siang malam layar kaca
menyita akalnya
menyita harmoni jiwa
Anak-anak menyanyi dengan
bahasa tak tereja
bahasa tak dikenal nenek-neneknya
Anak-anak tak lagi suka bicara
tak lagi suka diinterupsi
Lidahnya, hasratnya, akalnya
telah dirampas tabung beradiasi
Aku telah lama kehilangan mereka
keluh seorang perempuan sederhana
Aku ingin senyum mereka kembali tulus
menyapa dekat wajahku
sedang apa ibu
Tapi mereka bahkan tak peduli ketika
kupanggil namanya lembut sekali
Seorang perempuan sederhana menangisi
perubahan anak-anaknya.

1994
"Puisi: Anak-Anak yang Berubah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Anak-Anak yang Berubah
Karya: Diah Hadaning
Kelas 1 SMA
Saat pelajaran Kimia berlangsung, aku duduk di sana. Menatap seorang gadis yang aku panggil "sahabat". Aku menatap senyumnya yang sehalus sutra, berharap dia adalah milikku. Tapi dia tidak melihatku dengan cara seperti itu, dan aku tahu itu.

Pelajaran usai, dia berjalan ke arahku dan menyerahkan catatan yang telah dia catat saat pelajaran itu. Dia mengatakan "belajarlah membawa buku ke sekolah" dan dia meletakkan tangannya di pipi kiriku. Aku ingin mengatakan padanya, aku ingin dia tahu bahwa aku tidak ingin menjadi sekedar temannya: aku mencintainya, tapi aku terlalu malu, dan aku tidak tahu mengapa.

Kelas 2 SMA
Telepon berdering, itu adalah dia. Dia menangis, bergumam, dan bercerita tentang seseorang yang telah mematahkan hatinya. Dia memintaku untuk datang ke alun-alun kota karena dia tidak ingin sendirian di sana. Dan aku selalu datang... aku duduk di sampingnya di depan laut kota. Aku menatap matanya dengan lembut, berharap dia adalah milikku.

Setelah 2 jam, kami memutuskan pulang. Dia menatapku, mengatakan "terima kasih" dan dia meletakkan tangannya di pipi kiriku. Aku ingin mengatakan padanya, aku ingin dia tahu bahwa aku tidak ingin menjadi sekedar temannya: aku mencintainya, tapi aku terlalu malu, dan aku tidak tahu mengapa.

Kelas 3 SMA
Tujuh hari sebelum acara perpisahan, dia membuat sebuah janji, katanya jika salah satu dari kami tidak datang dengan seorang pacar, maka kami akan datang bersama pada hari itu. Jadi, itulah yang kami lakukan pada acara perpisahan.

Setelah semuanya selesai, aku berdiri di pintu depan rumahnya. Aku menatap dia yang tersenyum padaku, dan aku menatap lurus ke dalam matanya. Aku ingin dia menjadi milikku, tapi dia tidak menganggapku seperti itu, dan aku tahu itu.

Lalu dia mengatakan padaku "ini adalah hari terbaik dalam hidupku, terima kasih!" dan dia meletakkan tangannya di pipi kiriku. Aku ingin mengatakan padanya, aku ingin dia tahu bahwa aku tidak ingin menjadi sekedar temannya: aku mencintainya, tapi aku terlalu malu, dan aku tidak tahu mengapa.

Hari Wisuda
Hari berlalu, minggu berlalu, bulan berlalu, tahun berlalu dan tibalah aku pada hari saat dia Wisuda. Aku melihat tubuhnya yang sempurna melayang seperti malaikat di panggung untuk menerima Diploma. Aku ingin dia menjadi milikku, tapi dia tidak melihatku dengan cara seperti itu, dan aku tahu itu.

Sebelum semua orang pulang, dia datang padaku dengan baju dan topinya. Dia menangis, aku memeluknya, lalu dia mengangkat kepalanya dari bahuku dan mengatakan, "kau adalah sahabatku, kau adalah sahabatku" dan dia meletakkan tangannya di pipi kiriku. Aku ingin mengatakan padanya, aku ingin dia tahu bahwa aku tidak ingin menjadi sekedar temannya: aku mencintainya, tapi aku terlalu malu, dan aku tidak tahu mengapa.

Beberapa tahun berlalu...
Gadis itu akan menikah sekarang... aku datang menghadiri pernikahannya. Aku melihat dia berbalut baju pengantin, kehidupan baru, dan menikah dengan seorang pria lain. Aku ingin dia menjadi milikku, tapi dia tidak melihatku dengan cara itu, dan aku tahu itu.

Tapi sebelum aku melangkah pergi, dia datang kepadaku dan mengatakan "kau datang!". Dia melanjutkan "terima kasih" dan seperti biasa, dia meletakkan tangannya di pipi kiriku. Aku ingin mengatakan padanya, aku ingin dia tahu bahwa aku tidak ingin menjadi sekedar temannya: aku mencintainya tapi aku terlalu malu, dan aku tidak tahu mengapa.

Hari Pemakaman
Tahun-tahun telah berlalu, aku berdiri kaku menatap makam seorang gadis yang dulu memanggilku "sahabat". Di rumahnya, kakak perempuannya memberikan aku sebuah cacatan miliknya; yang dia tulis di waktu SMA.

Isi catatan tersebut:
Aku menatapnya, berharap dia adalah milikku, tapi dia tidak melihatku dengan cara seperti itu, dan aku tahu itu. Aku ingin mengatakan padanya, aku ingin dia tahu bahwa aku tidak ingin menjadi sekedar temannya: aku mencintainya, tapi aku terlalu malu, dan aku tidak tahu mengapa.

Aku berharap dia akan mengatakan dia mencintaiku! Aku juga berharap aku bisa mengatakan itu: aku mencintainya, tapi aku terlalu malu, dan aku tidak tahu mengapa. Aku memikirkan tentang diriku, aku memikirkan tentang dirinya, aku memikirkan semua itu, dan aku menangis.
"Cerita Cinta Sejati"

Sajak Ikan Pari dan Orang-Orang

Ketika ikan-ikan pari dihela
di lantai basah pasar lelang
orang-orang ikan tak pernah hirau
udara busuk rasuki peparu
dan prosentase pembagian sama busuk
seseorang ingin bicara kali pertama
orang-orang ikan perlu masker
orang-orang ikan perlu sarung tangan
orang-orang ikan perlu sepatu pengaman.

Ikan-ikan pari dihela setiap hari
basu menyengat semakin padat
nasib-nasib ditimbang tanpa saran
karena angka telah ditetapkan
5 orang 1 kelompok 20% - titik
sang juragan 80% - koma
di rumah para istri bersungut
pada para lelakinya
banyak ikan pari hari ini
dapatnya empan hanya begini
ini kutukan dewa laut barangkali
tiap hari prajuritnya ditangkapi
bagaimana jika nanti laut sepi hari mati.

Jakarta
Desember, 1991
"Puisi: Sajak Ikan Pari dan Orang-Orang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Ikan Pari dan Orang-Orang
Karya: Diah Hadaning
Balada Lelaki Urban

Di awal musim basah
tembang cintamu bersarang
dusun hijau jauh sudah
surau tua memanggil pulang.

Pelan merambat di tangga langit
harapan yang dulu bangkit
kini telah jadi elegi
hujan membasuh umur lelaki.

Lalu segalanya berulang
ada derap ada ratap
lelaki urban jaman tualang
usir bencana pukul tifa.

Lalu segalanya berulang
ada gerimis di pinggiran
lelaki urban jaman badai
anak angin yang terlalai.

Bogor
Oktober, 1995
"Puisi: Balada Lelaki Urban (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Lelaki Urban
Karya: Diah Hadaning
Di antara 78 Percakapan

Mulut-mulut yang kehilangan suara
tembang-tembang yang kehilangan nada
raga-raga yang kehilangan jiwa
nyawa tersangkut di pohon alpa
siapa bersyair malam-malam
ingatkan zaman tak bertuan
berhala-berhala melibas kebenaran
orang-ramai-ramai dirikan rumah putih
tapi lupa mengisinya dengan doa
78 percakapan hilang makna 
lembar gita hanyut di sungai sara
mengalir tak tentu arah
perang pedang tombak panah
ganti diasah.

Bogor
Oktober, 2001
"Puisi: Di antara 78 Percakapan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di antara 78 Percakapan
Karya: Diah Hadaning
Di Tanah Pekuburan

Bahkan di tanah pekuburan nenekku
tak lagi kunikmati konsentrasi
lantunkan doa puja-puji ke langit Ilahi.

Karena di seberang pagar telah beroperasi
sebuah pabrik yang menggerungkan suara kerakusan
(tentu nenekku tak bisa lagi tenang dan mengheningkan
ruhnya di alamnya yang putih)

Bahkan di tanah pekuburan nenekku
telah tercipta jalan setapak lalu lintas
orang-orang dan motor-motor
begitu panas jika ziarah siang
pepohonan telah banyak dibuang
sekitar muncul rumah-rumah menyemak
dengan suara-suara percakapan
(tentu nenekku merindukan perubahan di mana orang
kembali menghormati tanah pekuburan)

Bogor
Mei, 1994
"Puisi: Di Tanah Pekuburan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Tanah Pekuburan
Karya: Diah Hadaning
Angin Utara

Di jalan lurus pohon-pohon tumbuh
berjajar seperti lukisan di buku
masa kanak-kanakku yang telah tenggelam
di jalan lurus kendaraan-kendaraan besar
pergi datang menyembunyikan keberuntungan
sedianya dinikmati orang-orang pemilik sah
kawasan utara negeri ini
semua berlangsung dalam kesiur angin utara.

Tanah Bandengan tanah kenangan
tanah Bandengan tanah impian
di situ kutanam bibit-bibit harapan masa depan
tapi nampkanya akan tertinggal jauh dalam pacuan
aku anak angin yang menyimpan banyak ingin
tapi tanahku semakin terbelah-belah
bagai derita masa lalu ibuku yang tabah.

Mimpilah selagi masih bisa bermimpi
angin utara masih setia mengipasi
sementara aku terduduk kehilangan
rencana-rencana yang telah direbut
orang-orang jauh dari seberang
pohon mahoni dan aku menyatu dalam bayang-bayang.

Bogor
Mei, 1994
"Puisi: Angin Utara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Angin Utara
Karya: Diah Hadaning
Ketika Angin Berhembus
Bendera Berkibar Semangat Mekar

Ketika angin berhembus bendera berkibar
terdengar pesan itu:
'Jangan henti wangikan negeri
Sudah melangkah pantang kembali
Sang Ratu ada dalam jantungmu
Pawang bumi mengasuhmu'

Ketika angin berhembus bendera berkibar
seorang anak berjanji
pada bapaknya almarhum
sambil menatap tiang bendera
di halaman depan istana
semangatnya mekar:
'bapa janjiku ada
dalam kelopak umur
dalam lubuk kehidupan
dalam Berkah-Nya jua'

Bogor, 1995
"Puisi: Ketika Angin Berhembus (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ketika Angin Berhembus
Karya: Diah Hadaning
Mencari Jawaban

Malam runtuh dalam longsor waktu
yang menjebak bincang orang-orang peduli
kita bersaksi kelewat lama
atas setiap bencana
siapa bilang ini hanya
masalah doa dan dosa
orang-orang saling pandang
lalu membaca hanacaraka di dada
ada satu huruf baru tak tereja.

Bogor
Februari, 2002
"Puisi: Mencari Jawaban (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mencari Jawaban
Karya: Diah Hadaning
Abstraksi Mimbar

Lebih banyak kata
diperlukan
agar mimbar
menjadi mawar.

Lebih banyak janji
perlu ditepati
agar mimbar 
bukan peti.

Wajah-wajah berlintasan
tangan-tangan diacungkan
kebenaran disembunyikan
mimbar menjadi waktu menunggu
mimbar menjadi angka di peta.

Lebih banyak cinta
diperlukan
agar mimbar
bukan gambar.

Lebih banyak setia
perlu ditata
agar mimbar
bukan petaka.

Juni, 1999
"Puisi: Abstraksi Mimbar (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Abstraksi Mimbar
Karya: Diah Hadaning
Yang Mencari Tanya

Ke mana mencari sapa yang ada tinggal gumam
ke mana mencari janji yang sisa tinggal perseteruan
ke mana mencari Berkah Tuhan sudah sangat marah
bersihkan Rumah Tuhan dalam jiwamu, ada suara
yang membangunkan meditasi menjelang fajar.

Bogor, 2002
"Puisi: Yang Mencari Tanya (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Yang Mencari Tanya
Karya: Diah Hadaning