loading...

Ketika Orang Belajar Membaca Angin

I
Setiap membaca angin
orang-orang kota terbakar kehilangan
aksara, dan lupa cara mengeja kata
mereka menjadi paling dungu di antara
yang lain karena sebelumnya selalu
mereka berkata rumpunnya paling pandai.

II
Setiap orang di kota terbakar
menjadi miskin di antara anak manusia
dan tak tahu mencari cara penyembuhnya
karena sebelumnya selalu berkata
mereka paling kaya
mereka paling bijak
mengaku leluhurnya bangsa langit
segalanya paling langit.

III
Dari tahun ke tahun angin tak reda
orang-orang malah bertikai
biarkan rumah agungnya dimakan anai-anai
ketika datang badai pohonan bertumbangan
mereka tumbangkan kejujuran
karena telah begitu dungu
tak bisa lagi bedakan
kebenaran dan keburukan.

Orang tua sisa peradaban
diam-diam berdoa:
Tuhan, hanya ada dua pilihan
Sadarkan segera
atau hancurkan saja.

Bogor
Oktober, 2001
"Puisi: Ketika Orang Belajar Membaca Angin (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ketika Orang Belajar Membaca Angin
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top