Musim Keenam

Hujan siang hujan malam, bapa
menyatu dalam sisa ketegaranku
ketika air mata tak lagi
harus bicara, melainkan
tembang tanah merdeka
di awal musim.

Dalam pejam kusaksikan
barisan kemamang dan banaspati
memasuki jiwa manusia tersakiti
semesta porak poranda
bencana meraga.

Harmoni telah lama tanpa melati
Jakarta kini belanga didihkan tuba
diam-diam ada yang memanggil namamu
bapa, rindu bunga karisma
mencari kepal tanganmu
adakah kau kenali suaranya?

Jakarta
Juni, 2000
"Puisi: Musim Keenam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Musim Keenam
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top