Maret 2018
Ibu yang Tabah

Ibu itu mengasuh anak-anaknya sendirian sejak suaminya dipinjam negara untuk dijadikan kelinci dalam percobaan sistem keamanan. Sampai sekarang belum dikembalikan, padahal suaminya itu sebenarnya cuma pemberani yang lugu dan kadang-kadang nekat. Toh ibu itu tak pernah berhenti menunggu, meskipun menunggu adalah luka. Dan ia memang perkasa. Menghadapi anak-anaknya yang nakal dan sering menyusahkan, ia tak pernah kehilangan kesabaran.

Setiap subuh ibu itu memetik embun di daun-daun, menampungnya dalam gelas, dan menghidangkannya kepada anak-anaknya sebelum mereka berangkat sekolah. Malam hari diam-diam ia memeras airmata, menyimpannya dalam botol, dan meminumkannya kepada anak-anaknya bila mereka sakit.

Ia mendidik anak-anaknya untuk tidak cengeng. Ia paling tidak suka melihat orang mudah menangis. Bila anak-anaknya bertanya, "Mengapa Ibu tidak pernah menangis?", jawabnya, "Biar kutabung air mataku buat hari tua. Bila kelak aku meninggal, kalian bisa memandikan jenazahku dengan tabungan air mataku."

Sehari-hari ibu yang penyabar itu berjualan awalan ber- di sekolah partikelir yang hidup enggan mati tak mau. Sebagian besar muridnya bodoh dan berandal, tapi ya bagaimana lagi, mereka tetap harus dicintai. Ia rajin menasihati mereka agar tidak mudah putus asa, apalagi menangis, menghadapi kegagalan. "Berlatih gagal itu penting," pesannya berulang-ulang.

Tenaga dan waktunya praktis habis untuk urusan rumah dan pekerjaan sehingga ia kurang hiburan. Satu-satunya hiburan adalah menonton televisi yang sudah agak pucat gambarnya. Dan ia penggemar televisi yang baik. Ia bisa sangat terharu menyaksikan kisah yang menyayat hati, misalnya kisah tentang pejuang yang digugurkan negara dan jenazahnya diselimuti kain bendera. Anak-anak ikut terenyuh dan tersedu melihat ibu mereka diam-diam mengusap air mata. "Jangan menangis!" bentak ibu yang tabah itu tiba-tiba. "Aku menangis hanya untuk menyenang-nyenangkan televisi. Mengerti?"

2002
"Puisi: Ibu yang Tabah (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Ibu yang Tabah
Karya: Joko Pinurbo

Tiada

Tiada pengembara yang tak merindukan
sebuah rumah, bahkan jika rumahnya hanya ada
di balik iklan yang ia baca di perjalanan.

Tiada rumah yang tak merindukan seorang ibu
yang murah berkah, bahkan jika ibu tinggal ada
di bingkai foto yang mulai kusam.

Lebih baik punya ibu daripada punya rumah,
kata temanku yang rumahnya konon baru enam
sementara sosok ibunya belum juga ia temukan.

Ya lebih baik punya keduanya, kata saya,
dan entah mengapa air matanya leleh perlahan.

2003
"Puisi: Tiada (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Tiada
Karya: Joko Pinurbo
Jangan Ceritakan

Bibir-bibir bunga yang pecah-pecah
mengunyah matahari,
jangan ceritakan padaku tentang dingin
yang melengking malam-malam - lalu mengembun.

1971
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Jangan Ceritakan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Aku Minta kepada Allah

Aku minta kepada Allah setangkai bunga segar,
Namun Dia memberiku kaktus berduri.

Aku minta kepada Allah binatang mungil nan cantik,
Namun Dia memberiku ulat berbulu.

Aku sedih dan kecewa,
Betapa tidak adilnya ini.

Namun kemudian kaktus itu berbunga indah
Dan ulat berbulu itupun menjelma menjadi kupu-kupu nan elok
Dan aku tersadar itulah jalan Allah indah pada waktunya.


Catatan: judul syair ini saya ambil dari baris pertama. Di tempat lain, mungkin anda akan menemukan syair ini dengan judul yang berbeda.
"Puisi: Aku Minta kepada Allah (Karya Sayyid Qutb)"
Puisi: Aku Minta kepada Allah
Karya: Sayyid Qutb
Selamat Datang di Negeri Bokong!

Selamat datang di negeri bokong!
Negeri sejuta kubah bokong
negeri pengembang peradaban bongkong
penggoyang kemapanan bokong.

Negeri pengimport kloset terbesar di dunia
negeri yang tak pernah cukup
dengan kursi-kursi yang ada
karena di negeri bokong
bokong adalah prioritas utama
maka di negeri bokong
orang berkelahi berebut bokong
atau tempat-tempat bokong.

Selamat datang di negeri bokong!
Negeri sejuta kubah bokong
negeri pengembang peradaban bongkong
penggoyang kemapanan bokong

Negeri dengan falsafah hidup bokong
dimana bokong mesti dikedepankan
dan muka dibelakangkan
karena itu di negeri bokong
meski KTP dan Passport juga harus ada pas fotonya
tapi bukan kepala dan muka yang harus tampak
pas foto di negeri bokong haruslah menampakkan bokong.

Di negeri bokong
bokong adalah lambang negeri
yang harus dihormati.

Di negeri bokong
semuanya boleh diabaikan
asal bokong dijunjung tinggi.

Di negeri bokong
bukan iq bukan eq juga bukan
sq yang menjadi ukuran
tapi aq, ass quotient.

Selamat datang di negeri bokong!
Negeri berbudaya bokong
yang dipimpin oleh bokong-bokong.

Negeri dimana bokong dipuja
di mesjid di pura dan di gereja
diwiridkan di tempat-tempat keramat
dan gedung mewah perwakilan rakyat.

Kalian bilang
bokong tempatnya di belakang
karena kalian
belum tahu nikmatnya bokong bergoyang.

Cobalah ikuti
bangsa bokong ini
dan para pemimpinnya
berdzikir dan bergoyang
dan rasakan!

Bokong bokong bokong bokong bokong...

Rembang
20 Juli, 2003
"Puisi: Selamat Datang di Negeri Bokong! (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Selamat Datang di Negeri Bokong!
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Mengetuk Pintu Kota

Karena gemetar pada rumput-rumput di lenganku
kuletakkan ziarahku yang khusuk pada pintu
ada yang menyebutkan nama-nama yang mengabur
pada tanah. menghitungnya satu demi satu guguran
daun. lalu mengekalkannya pada kediaman kubur.

Kota telah jadi ladang untuk cinta yang dahaga
wajah-wajah terbungkus debu jalanan 
si pengembara yang bimbang, menggurat-guratnya
dengan cemas peta yang hilang
menebak-nebak gairah kematian.

tiba-tiba Kausulut, setelah aku melintasi
gang-gang kegelisahan
gairah cintaku terbakar rindu-dendam.

1987
"Puisi: Mengetuk Pintu Kota (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Mengetuk Pintu Kota
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Jika Aku Jatuh Cinta

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang
melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu.

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak
melebihi cintaku pada-Mu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang
yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak
berpaling dari hati-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang
merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku
merindukan surga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat
di sepertiga malam terakhir-Mu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang
menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku
pada cinta hakiki
dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwa-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.

Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.
kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini
Dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.

Lapangkanlah dada-dada kami
dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan
bertawakal di jalan-Mu.
 
"Puisi: Jika Aku Jatuh Cinta (Karya Sayyid Qutb)"
Puisi: Jika Aku Jatuh Cinta
Karya: Sayyid Qutb
Karena Kata

Karena tak dapat kutemukan
kata yang paling sepi
kutelantarkan hati

Karena tak dapat kuucapkan
kata yang paling rindu
kubiarkan hasrat terbelenggu

Karena tak dapat kuungkapkan
kata yang paling cinta
kupasrahkan saja dalam Doa.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Karena Kata
Karya: Sapardi Djoko Damono
Mata Air

Di musim kemarau semua sumber air di desa itu mengering.
Perempuan-perempuan legam berbondong-bondong menggendong gentong
menuju sebuah sendang di bawah pohon beringin di celah bebukitan.
Tawa mereka yang renyah menggema nyaring di dinding-dinding tebing,
pecah di padang-padang gersang.

Setelah berjalan lima kilometer jauhnya, mereka pun sampai di mata air
yang tak pernah mati itu. Mereka ramai-ramai menuai air membuncah-buncah,
menuai air mata yang mereka tanam di ladang-ladang karang.

Bulan sering turun ke sendang itu, menemani gadis kecil
yang suka mandi sendirian di situ. Langit sangat bahagia
tapi belum ingin meneteskan air mata. Nanti, jika musim hujan tiba,
langit akan memandikan gadis kecil itu dengan air matanya.

2002
"Puisi: Mata Air (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Mata Air
Karya: Joko Pinurbo
Mulut

Di mukamu ada sebuah rongga
Ada giginya ada lidahnya
Lewat rongga itu semua bisa
kau masukkan ke dalam perutmu

Lewat rongga itu semua bisa kau tumpahkan
Lewat rongga itu air liurmu bisa
meluncur sendiri.

Dari rongga itu
Orang bisa mencium bau apa saja
Dari wangi anggur hingga tai kuda.

Dari rongga itu
Mutiara atau sampah bisa masuk bisa keluar
Membuat langit cerah atau terbakar.

Dari rongga itu
mata air jernih bisa kau alirkan
Membawa kesejukan kemana-mana.

Dari rongga itu
Kau bisa menjulurkan lidah api
Membakar apa saja.

Dari rongga itu
Bisa kau perdengarkan merdu burung berkicau
Bisa kau perdengarkan suara bebek meracau.

Dari rongga itu
Madu lebah bisa mengucur
Bisa ular bisa menyembur.

Dari rongga itu
Laknat bisa kau tembakkan
pujian bisa kau hamburkan.

Dari rongga itu
Perang bisa kau canangkan
Perdamaian bisa kau ciptakan.

Dari rongga itu
Orang bisa sangat jelas melihat dirimu.

Rongga itu milikmu
Terserah
kau.

"Puisi: Mulut (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Mulut
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Bayangkan Seandainya

Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit yang
sedikit berawan, yang menabur-naburkan angin di sela
bulu-bulunya;

Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu
menukik ke atas kota kita dan mengibas-ngibaskan asap
pabrik dari bulu-bulunya;

Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman
rumahmu yang menggoda burung itu untuk hinggap di
lengannya;

Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
wajahmu sendiri yang itu-itu juga, yang tak kunjung habis
meski telah kaukupas dengan ganas selembar demi
selembar setiap hari.

"Puisi: Bayangkan Seandainya (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Bayangkan Seandainya
Karya: Sapardi Djoko Damono
Kenangan

Tidak setiap orang bisa menjejalkan
kenangan ke besok. Di mana gerangan
tempat terbaik baginya? Ia milik kemarin,
milik igauan yang tak kenal arah angin.

Tidak setiap orang siap menuntun
kenangan ke lusa. Di mana gerangan
aku bisa merawatnya? Relakan saja:
Dewabrata pun tak menginginkan istana.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Kenangan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Baju Bulan

Bulan, aku mau lebaran. Aku ingin baju baru,
tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,
sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?
Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan
bajunya yang kuno di antara begitu banyak
warna-warni baju buatan. Bulan mencopot bajunya
yang keperakan, mengenakannya pada gadis kecil
yang sering menangis di persimpangan jalan.
Bulan rela telanjang di langit, atap paling rindang
bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang.

2003
"Puisi: Baju Bulan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Baju Bulan
Karya: Joko Pinurbo
Kaum Muslimin Pun Modern

Kaum muslimin pun modern
Lihat, mereka berwudhu dengan tisu basah berparfum
Berjum'atan di kantor dengan tak lupa shalat tahiyyatal kantor
Imam dan khatibnya cukup televisi 50 inch
Tak memerlukan uang transport atau gaji.

Kaum muslimin pun modern
Lihat, mereka mendapatkan jodoh
Melalui computer biro jodoh
Dan mereka kawin via telpon
Dengan penghulu tape recorder
Dan mas kawin kartu kredit.

Mereka berkomunikasi jarak jauh
Dengan bahasa-bahasa yang tak saling menyentuh
Mereka tak lagi berbeda pendapat
Karena beda pendapat menghabiskan energi
Dan tidak praktis sama sekali
Mereka menggantinya dengan kebencian dan permusuhan.

Toh senjata-senjata mutakhir siap dipergunakan
Mulai caci maki tajam hingga rudal-rudal kejam.

Kaum muslimin pun modern
Bukan, bahkan agaknya sejak lama sekali
Mereka sendiri sudah merupakan robot-robot sejati.

17 Februari 2006
"Puisi: Kaum Muslimin Pun Modern (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Kaum Muslimin Pun Modern
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Taman yang Terbakar

Pandanglah tahun-tahun luka berserakan di lantai 
musim tak memberikan apa-apa bagi taman yang kita
pelihara. pandanglah di luar jendela! rumput-rumput
yang meninggalkan riwayat purba.

dan mawar yang subur dalam mimpi 
tiba-tiba hangus. Jadi, apa yang mesti kita 
pertahankan? berangkatlah mencabut luka bait-bait
igauan. 

"Puisi: Taman yang Terbakar (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Taman yang Terbakar
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Elegi Nelayan Tua

Lelaki tua itu tersengguk-sengguk di emper gubuk
Bulan layu rendah di langit
Air mulai surut
dan terlena digerogoti mimpi
Sebentar lagi subuh tiba
Inikah impian penghabisan seorang nelayan
Kaki dan tangan kaku dibelasah encok
Dada seperti terbakar batuk batuk batuk
Berteman dengan bulan dan air surut air pasang
Kokok ayam dan cicit murai
Menyambut pagi
Yang bukan lagi miliknya?
Panorama masa lalu tergambar di layar langit
dengan kail memancing ikan ikan ikan
sembilang tenggiri selar dingkis tamban jahan
ikan ikan ikan
pancing bubu belat kelong jala jaring
Selamat tinggal?
Encok yang datang marilah kamu
Batuk yang masuk teruskan jalanmu
ikan-ikan masa lalu
ikan-ikanku besok
Dan pertarungan akan berlanjut
terus! 
 
"Puisi: Elegi Nelayan Tua (Karya Idrus Tintin)"
Puisi: Elegi Nelayan Tua
Karya: Idrus Tintin
Buku: Burung Waktu
Tahun: 1990
Sajak Subuh

Waktu mereka membakar gubuknya awal subuh itu ia baru saja bermimpi tentang mata air. Mereka berteriak, "Jangan bermimpi!" dan ia terkejut tak mengerti.
Sejak di kota itu ia tak pernah sempat bermimpi. Ia ingin sekali melihat kembali warna hijau dan mata air, tetapi ketika untuk pertama kalinya. Ia bermimpi subuh itu, mereka membakar tempat tinggalnya.
"Jangan bermimpi!" gertak mereka.
Suara itu terpantul di bawah jembatan dan tebing-tebing sungai. Api menyulut udara lembar demi lembar, lalu meresap ke pori-pori kulitnya. Ia tak memahami perintah itu dan mereka memukulnya, "Jangan bermimpi!"
Ia rubuh dan kembali bermimpi tentang mata air dan ....

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sajak Subuh
Karya: Sapardi Djoko Damono
Batu

1
Aku pun akhirnya berubah
menjadi batu. Kau pahatkan,
“Di sini istirah dengan tenteram
sebongkah batu,
yang pernah berlayar ke negeri-
negeri jauh, berlabuh di bandar-
bandar besar, dan dikenal
di delapan penjuru angin;
akhirnya ia pilih
kutukan, ia pilih
ketenteraman itu.
Di sini.”

Tetapi kenapa kaupahat juga
dan tidak kaubiarkan saja
aku sendiri, sepenuhnya?

2
Jangan kaudorong aku
ke atas bukit itu
kalau hanya untuk berguling kembali
ke lembah ini.
Aku tak mau terlibat
dalam helaan nafas, keringat,
harapan, dan sia-siamu.

Jangan kau dorong aku
ke bukit itu; aku tak tahan
digerakkan dari diamku ini.
Aku batu, dikutuk
untuk tenteram.

3
Di lembah ini aku tinggal
menghadap jurang, mencoba menafsirkan
rasa haus yang kekal:
ketenteraman ini,
sekarat ini.

1991
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Batu
Karya: Sapardi Djoko Damono
Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Yang Fana Adalah Waktu
Karya: Sapardi Djoko Damono
Rendezvous

Kau sudah tak sabar menungguku di halaman rumah berdinding putih itu.
Di atas bangku di bawah pohon cemara duduk seorang wanita setengah baya
sedang suntuk membaca dan sesekali tertawa.

Nah, perempuan itu mengangkat kaki kirinya,
kemudian menumpangkannya ke yang kanan.
Pahanya tersingkap, clap, kau terkejap: kaususupkan
cerlap cahayamu ke celah-celah itu dan aku cemburu.

Maka aku pun segera berderai lembut di atas parasmu.
Aku berdebar ketika perempuan itu melonjak girang:
"Ah, gerimis senja telah datang."

Hanya agar perempuan kita bahagia, kau dan aku rela berebut bianglala
dan ingin segera melilitkannya ke tubuhnya.
Sebab sesaat lagi kau sudah jadi malam dan aku hujan,
dan perempuan itu tidak mencintai keduanya: ia akan cepat-cepat
masuk ke rumahnya, membiarkan kita berdua menghapus jejaknya.

2002
"Puisi: Rendezvous (Pertemuan) Karya Joko Pinurbo"
Puisi: Rendezvous (Pertemuan)
Karya: Joko Pinurbo
Tikus

Banyak orang begitu jijik dan benci pada tikus, tapi perempuan lajang yang tinggal sendirian di rumahnya yang besar itu justru merasa tentram bersahabat dengan tikus-tikus yang mencericit terus tiada hentinya. Entah berapa tikus berumah di rumahnya. Dan setiap hari ada saja tikus mati, lalu dengan sedih ia buang ke selokan.

Sebelum tidur, sambil mengantuk, ia sempatkan membaca buku Hidup Bahagia bersama Tikus sementara konser tikus berlangsung terus sampai jauh malam, juga ketika ia sudah nyenyak bermimpi bertemu kekasih yang selama ini ia sembunyikan dalam ingatan.

Malam itu ia tidur berselimutkan sarung cap tikus, dan ada tikus besar dari kuburan mondar-mandir di sekitar tubuhnya, mengendus-endus sakitnya. Saat bangun ia menjerit mendapatkan tikus-tikus mati berkaparan di ranjang. Sialan, kau dapat cericitnya, aku bangkainya!

2002
"Puisi: Tikus (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Tikus
Karya: Joko Pinurbo
Harga Duit Turun Lagi

Mengapa bulan di jendela makin lama
makin redup sinarnya?
Karena kehabisan minyak dan energi.
Mimpi semakin mahal,
hari esok semakin tak terbeli.

Di bawah jendela bocah itu sedang suntuk
belajar matematika. Ia menangis tanpa suara:
butiran bensin meleleh dari kelopak matanya.
Bapaknya belum dapat duit buat bayar sekolah.
Ibunya terbaring sakit di rumah.

Malu pada guru dan teman-temannya,
coba ia serahkan tubuhnya ke tali gantungan.
Dadah Ayah, dadah Ibu....

Ibu-cinta terlonjak bangkit dari sakitnya.
Diraihnya tubuh kecil itu dan didekapnya.
Berilah kami rejeki pada hari ini
dan ampunilah kemiskinan kami....

2005
"Puisi: Harga Duit Turun Lagi (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Harga Duit Turun Lagi
Karya: Joko Pinurbo
Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita

1
Pertemuan dini hari
di batas kota itu
tak menghasilkan apa-apa;
sedikit salak anjing
untuk senyap.
Tak terdengar nyanyi.
“Kita ternyata terlalu
angkuh untuk tidak setia,
terlalu gagap
untuk sekedar mengingat
babak pertama.”

2
Sutradara memang tidak
peduli pada coretan-coretan
di naskah yang kita hafal
kata-kata yang dihilangkan
tanda seru yang dibisukan
dan 'mu' yang tak juga
ditulis dengan huruf kapital.
Pada suatu subuh
yang tanpa sutradara
ternyata kita pun
tetap gagap untuk ingat
pukul berapa harus berangkat.
Kau malah mendongeng
tentang seekor angsa
yang tak lagi menyanyi -
dan berkata, 
kenapa ini tertulis
justru di adegan pertama
di halaman pertama
ketika tak ada cerita
yang sudah selesai direka?
Siang hari kita bertemu
sutradara itu;
sedang dicoretnya
beberapa dialog di kitab
yang sudah kita hafal
di luar kepala.
Kau menatapku, 
Kenapa
kita seperti tak dikenalnya?

3
Ada, memang, angsa menyanyi –
asal kita berniat menghafal dialog
kata demi kata lagi.


"Puisi: Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita
Karya: Sapardi Djoko Damono
Ia Tak Pernah

Ia tak pernah berjanji kepada pohon
untuk menerjemahkan burung
menjadi api.

Ia tak pernah berjanji kepada burung
untuk menyihir api
menjadi pohon.

Ia tidak pernah berjanji kepada api
untuk mengembalikan pohon
kepada burung.

"Puisi: Ia Tak Pernah (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Ia Tak Pernah
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sajak Orang Gila

I
Aku bukan orang gila, saudara
tapi anak-anak kecil mengejek
orang-orang tertawa

ketika kukatakan kepada mereka: aku temanmu
beberapa anak berlari ketakutan
yang lain tiba melempari batu

II
Aku menangis di bawah trembesi
di atas dahan kudengar seekor burung bernyanyi
anak-anak berkata: lucu benar orang gila itu
sehari muput menangis tersedu-sedu

Orang-orang yang lewat di jalan
berkata pelan: orang itu sudah jadi gila
sebab terlalu berat menafsir makna dunia

III
Sekarang kususuri saja sepanjang jalan raya
sambil bernyanyi: aku bukan orang gila

Lewat pintu serta lewat jendela
nampak orang-orang yang menggelengkan kepala mereka:
kasihan orang yang dulu terlampau sabar itu
roda berputar dan dia jadi begitu.

IV
Kupukul tong sampah dan tiang listrik
kunyanyikan lagu tentang lapar yang menarik
kalau hari ini aku tak makan lagi
jadi genap sudah berpuasa dalam tiga hari

Tapi pasar sudah sepi, sayang sekali
tak ada lagi yang memberikan nasi
ke mana aku mesti pergi, ke mana lagi

V
Orang itu sudah lama gila, kata mereka
tapi hari ini begitu pucat nampaknya
apa kiranya yang telah terjadi padanya

Aku katakan pada mereka: aku tidak gila!
Aku orang lapar, saudara.

VI
Ku dengar berkata seorang ibu:
jangan kalian ganggu orang gila itu, anakku
nanti kalian semua diburu

Orang kota semua telah mengada-ada, aduhai
menuduhku seorang yang sudah gila
aku toh cuma menangis tanpa alasan
tertawa-tawa sepanjang jalan
dan lewat jendela, tergeleng kepala mereka:
kurus benar sejak ia jadi gila.

Yogyakarta, 1961
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sajak Orang Gila
Karya: Sapardi Djoko Damono
Munajat Kaum Binatang

Syahdan;
Di suatu malam yang senyap
ketika malaikat rahmat turun menawarkan ampunan
dan sekalian manusia lelap,
Para binatang dari berbagai etnis dan golongan
yang masih tersisa di muka bumi 
dari golongan binatang buas, binatang air, unggas
ternak, serangga, dan segenap binatang melata
diam-diam berkumpul di padang gersang terbuka
yang dahulu merupakan rimba belantara
tempat tinggal mereka
untuk membicarakan nasib mereka
kaitannya dengan kelakuan dan perlakuan manusia
yang kezalimannya semakin merajalela.

Dalam pertemuan akbar masyarakat binatang itu
semua kelompok menyampaikan keluhan yang sama.
domba, kambing, buaya, ular, tikus, anjing dan kecoak misalnya
menyatakan bahwa selain dilalimi,
selama ini nama mereka
telah digunakan dan dinodai oleh manusia
dengan semena-mena.

Setelah semua menyampaikan keluhannya
tentang nasib mereka yang kian sengsara akibat ulah manusia
dan mengakui ketidakberdayaan mereka
akhirnya disepakati saat ini juga
mengadukan ihwal mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Demikianlah;
Onta yang mereka tunjuk memimpin doa
dengan khusyuk mulai memanjatkan munajatnya
dan sekalian binatang mengamininya

"Ya Allah ya Tuhan kami;
Ampunilah kami.
Malam ini kami yang masih tersisa dari makhluk binatang
berkumpul menyampaikan
keluhan kami kepada-Mu – kepada siapa lagi kami mengeluh
kalau bukan kepada-Mu —
dan ampunilah kami bila kami tergesa-gesa
menyampaikan munajat kami ini.
Sebelum kaum manusia yang Engkau angkat menjadi khalifah-Mu
memergoki dan menghabisi kami, perkenankanlah
Kami menyampaikan jeritan kami.
Istighatsah kami.

Ya Allah ya Tuhan Yang Maha Mengetahui;
Karena Engkau, selama ini kami siap mengabdi
dan rela berkurban untuk manusia.
Tapi manusia atas nama khalifah dengan sewenang-wenang
melalimi kami.
Mereka jarah tempat tinggal kami
atau memorak-porandakannya
Mereka rampok makanan kami
atau menghancurkannya
Mereka rebut peran kami
atau menghentikannya
Mereka saingi naluri kami
atau mengalahkannya
Mereka santap keturunan kami
atau memusnahkannya.

Mereka rampas kehidupan kami
Sebelum sempat kami nikmati.

Engkau beri mereka kekuasaan atas dunia
Namun mereka membiarkan diri mereka dikuasai dunia.
Maka semakin hari
kelaliman dan keisengan mereka semakin menjadi-jadi.

Puji-syukur bagi-Mu ya Tuhan
Engkau telah menghajar mereka
Melalui tangan-tangan mereka sendiri
Mereka kini panik dan di antara mereka bahkan menjadi kalap
Dengan bangga mereka saling terkam dan saling basmi
Mencabik-cabik kemanusiaan mereka sendiri
Dan kami pun semakin tidak bisa mengenali mereka
karena mereka sudah sama dengan kami.
Bahkan dalam banyak hal mereka melebihi kami sendiri

Ya Allah ya Tuhan yang Maha Adil
Kami akui kadang-kadang kami saling terkam dan memangsa
Namun Engkau tahu karena kami terpaksa.
Bukan karena kerakusan dan kebencian.
Di antara kami memang ada yang kejam,
tapi kami tidak membakar, menyiksa,
dan sengaja memusnahkan
Karena kami tahu itu hak-Mu semata.
Mereka bahkan dengan berani membawa-bawa nama-Mu
untuk menghancurkan nilai-nilai ajaran-Mu yang mulia
Atas nama-Mu mereka meretas tali persaudaraan
Yang Engkau suruh jalin
Atas nama-Mu mereka mengobarkan kebencian
Yang Engkau benci.

Ya Allah ya Tuhan kami yang Maha Bijaksana
Kini di kalangan manusia ada juga yang berdoa
dan melakukan istighatsah
Karena merasa resah
Tapi apakah ada yang benar-benar merasa bersalah?
Mereka tidak malu terus meminta kepada-Mu
Padahal segala yang mereka perlukan --
yang mereka minta atau tidak mereka minta --
terus Engkau limpahkan kepada mereka
dan mereka nikmati tanpa mereka syukuri.
Ya Allah ya Tuhan kami yang Maha Pengasih
Kamilah yang lebih pantas melakukan istighatsah
Karena kami adalah makhluk-Mu yang paling kalah.

Ya Allah ya Tuhan Yang Maha Murah;
Kami tidak meminta apa pun untuk diri kami
Kami sudah puas dengan apa yang Engkau anugerahkan kepada kami
Kami hanya meminta untuk kebaikan khalifah-Mu
Karena hanya dengan kebaikan mereka
Kami dapat dengan tenang bersujud dan bertasbih kepada-Mu.

Kami memohonkan ampunan untuk mereka
Terutama untuk mereka yang tidak merasa perlu
memohon ampunan karena tidak merasa bersalah
atau tidak merasa malu.
Ya Tuhan,
Jangan terus Engkau biarkan kalbu mereka
tertutup noda-noda dosa
Sehingga nafsu menguasai mereka
dan mengaburkan pandangan jernih mereka
Ya Tuhan,
Sadarkanlah mereka akan hakikat kehambaan dan kekhalifahan mereka
agar mereka tetap rendah hati meski berkuasa
agar mereka tidak terus asyik hanya dengan diri mereka sendiri
agar nurani mereka tak terkalahkan oleh hawa nafsu dan setan
agar kasih sayang mereka tak terkalahkan oleh dendam dan kebencian
agar mereka tidak menjadi laknat dan benar-benar menjadi rahmat
bagi alam semesta.

Ataukah Engkau ya Tuhan
Memang hendak mengganti mereka
Dengan generasi yang lebih beradab?

Amin.


============================
Puisi Munajat Kaum Binatang ini dibacakan KH. A. Musthofa Bisri dalam Pidato Budaya Gus Mus yang diselenggarakan pada peringatan harlah ke-79 GP Ansor di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto Kavling 37, Kuningan Timur, Jakarta Selatan.
"Puisi: Munajat Kaum Binatang (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Munajat Kaum Binatang
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Matahari Melaju

Matahari melaju
dengan tenang tapi pasti
bagai tukang kredit yang sudah tahu
tugasnya menariki setoran
tabungan usia paspasan
dari setiap orang.

Matahari melaju
dengan tertib dan rapi
sambil mengawasi
jalan yang semakin penuh
dan gaduh.

Kendaraan-kendaraan besar
Melibas kendaraan-kendaraan kecil
dan kendaraan-kendaraan kecil
melibas pejalan-pejalan kaki.

Darah berlelehan di mana-mana.
Matahari gundah
tapi tak berhenti melaju.

Seorang ibu yang kesepian
mencoba bertanya kepada matahari:
"adakah jalan lain yang aman ?"
Tapi matahari diam saja.
Terus melaju dengan tenangnya.

8 Desember 2005
"Puisi: Matahari Melaju (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Matahari Melaju
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Konser Sungai-sungai

Dari mana mengalir suara-suara tak tertangkap
dalam kalbu purba. doa yang terus-menerus diucapkan
tapi telah begitu dingin dalam luka-luka kubur
-tatapan-Mu terasa jauh dan samar. sedalam pasir-pasir
di dasar sungai.

Aku si pengail yang buta. menebak pusaran air
dalam irama jerit luka purba. muara ini yang mengirimkan 
doa, menukik di kalbu-Mu yang tak pernah meronta.

1987
"Puisi: Konser Sungai-sungai (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Konser Sungai-sungai
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Kepada Penyair Hujan
(: S.D.D)

Lembut sayap-sayap hujan menggelepar di antara pepohonan
dan rumput liar di remang sajakmu.
Seperti kudengar kepak sayap burung
dari khasanah waktu yang jauh.
Matahari sebentar lagi padam.
Senja hanya diam mengagumi
selendang panjang warna-warni
yang menjuntai di atas sungai yang hanya terdengar suaranya;
malam sesaat lagi akan meraih dan melipatnya.

Hujan yang riang, yang melenyap pelan
dengan derainya yang bersih,
makin lama makin lirih dan akhirnya lengang.

Tapi kudengar juga hujan yang risau dan parau.
Seperti kudengar seorang musafir
kurus dan sakit-sakitan
batuk terus sepanjang malam
dengan suara serak dan berat,
berjalan terbata-bata menyusuri jalan setapak
yang licin meliuk-liuk, mencari tempat yang teduh dan hangat.

Musafir itu bikin unggun di atas sajakmu.
Aku akan menemaninya.

1999
"Puisi: Kepada Penyair Hujan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kepada Penyair Hujan
Karya: Joko Pinurbo
Boneka dalam Celana

Kau pusing
seharian keluar-masuk toko mainan
hanya untuk mendapatkan boneka lucu
yang akan kaugantung di atas ranjang.
Padahal di dalam celana
ada boneka paling jenaka
: boneka kecil yang sering tiba-tiba
menjelma raksasa.

Kau bilang
boneka mungilmu suka keluyuran
ke kebun binatang, ke suaka margasatwa,
ke hutan yang banyak hewan liarnya,
katanya untuk bermain dengan teman-temannya.
Kau sudah memanjakannya
dengan berbagai model celana
yang mahal harganya
tapi ia selalu lolos dan tak pernah
kerasan tinggal di dalamnya.
"Sumpek dan penuh aturan," katanya.

Konon raksasa kecil itu
telah menjadi seorang tiran.
Telah diproklamasikannya sebuah republik
dan kau sendiri rela dinobatkan
sebagai pengawalnya.
"Siapkan pasukan!" kata sang tiran.
"Akan kuserbu musuh-musuh
yang merongrong kekuasaan."
"Siap Paduka," timpal pengawal.
"Akan hamba tumpas para perusuh
yang mengancam kedaulatan."

Di republik celana
tiran yang sangat kejam dan pendendam itu
sekarang telah menjadi raja telanjang
yang tua-renta dan sakit-sakitan.
Sehari-hari ia cuma duduk terkantuk-kantuk
di kursi goyang
sambil mulutnya komat-kamit
dan kepalanya menggeleng ke kanan ke kiri
tapi batuknya masih dianggap sakti.
Pengawal: "Kalau Paduka sudah lelah
dan hendak istirah, silakan.
Hamba bersedia menggantikan Paduka
duduk di tampuk kekuasaan."

Di sebuah toko mainan
kaudapatkan juga boneka lucu
yang kauinginkan; kaugantungkan di atas ranjang
sehingga kau tidak lagi kesepian.
Dan boneka jenaka di dalam celanamu cemburu
karena merasa telah mendapatkan saingan.

1997
"Puisi: Boneka dalam Celana (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Boneka dalam Celana
Karya: Joko Pinurbo
Memancing

Batu kecil yang tadi iseng kaulemparkan
ke dalam kolam pemancingan itu
mendadak sadar dan membayangkan dirinya ikan
yang menyambar-nyambar mata kailmu.

Tapi batu kecil memang bukan ikan
dan kailmu tidak dirancang untuk batu itu
tapi kenapa kau suka iseng melempar-lemparkan
sehingga batu itu mendambakan kailmu.

Batu itu, murung, ada di dasar kolam sekarang
di sekitarnya ikan-ikan tak acuh berseliweran
sementara kailmu terpencil bergoyang-goyang
di tepi kolam kau terkantuk-kantuk sendirian.

"Puisi: Memancing (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Memancing
Karya: Sapardi Djoko Damono
Kalian Bilang

Kalian bilang
Belanda bule kulitnya
Biru matanya
Besar tubuh
Serakah sifatnya
Merekalah penjajah musuh kita

Kalian bilang
Jepang pucat kulitnya
Sipit matanya
Kecil tubuhnya
Kejam tabiatnya
Merekalah penjarah seteru kita

Tapi
Bukankah kulit mata dan tubuh kalian
Sama dengan kulit mata dan tubuh kami
Mengapa serakah dan kejam?

4 Juli 2006
"Puisi: Kalian Bilang (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Kalian Bilang
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)