Angin

1
Angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke
sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar
suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, “hei
siapa ini yang mendadak di depanku?”
angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita
untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh
lagi
- sampai pagi tadi:
ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di
tengah bising-bising ini tanpa Hawa.

2
Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar
semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang
di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.

3
“Seandainya aku bukan ...
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut 
kamar,
menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.

“Seandainya aku ...
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang
perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.

“Seandainya ...
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku.

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Angin
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top