Antara Rimba Beton dan Rel-rel

Orang-orang yang selalu memikir kebenaran
adalah milik dirinya dan kesalahan milik yang lain
pernah menertawakan dirinya yang mengaku mampu
mengubah warna langit, laut dan cakrawala
jika layar kaca, mimbar dan corong-corong
tak lagi boleh bicara
mendengus pada kota ia bahkan mengaku
aku anak rimba beton
zikirku mengental dalam adonan semen
meleleh atas gusuran tanah garapan
yang siap jadi kampung industri
aku anak rimba beton
selalu rindukan perbaikan tanpa rutin pengorbanan
azanku mengayun pucuk menara
yang rindu matahari baru tanpa ampas teknologi.

Siapa menatapku, siapa menyahutku
sedang udara kian terbakar
sedang rasa cinta kian ambyar membentuk jurang lebar
improvisasi adalah permainan langkahku
pohon-pohon dan waktu saling berpacu
bagai panorama dari jendela kereta
sedang aku kereta itu kencang melaju
sampai meninggalkan rel-rel tapi akhirnya
selalu kembali ke kota terbakar dengan stasiunnya
yang dipenuhi mozaik wajah-wajah beringas.

Jakarta
September, 1990
"Puisi: Antara Rimba Beton dan Rel-rel (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Antara Rimba Beton dan Rel-rel
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top