Di Hari Kematian Baradita Katoppo

Di hari kematian Bardita Katoppo,
ketika lampu mulai dipadamkan,
sebaris kalimat lewat: "Tak ada yang kembali
dari benua itu."

"Tak ada yang kembali."
Hamlet, kita ingat,
mengatakan itu, seraya telunjuknya
ia rapatkan pada pintu.

Langit mengeriput. Antara kata dan katakomb,
ia lihat orang-orang berangkat,
dan seseorang mengirim pesan pendek,
"Aku tinggalkan waktu, Tuanku."

Itu bisa. Itu mungkin bisa.

Sebab di sini, dekat kau dan aku,
kematian selalu menjemput,
bersama asap

di sudut rumah menjelang sore,
dan kabur ke udara
ketika tetangga-tetangga
membakar sampah dan di corong radio

tak ada orang yang butuh berdoa.
Hanya sejumlah nada lurus
tapi berkabung.
Dan tak satu pun yang kembali.

Hamlet pun bertanya:
mana yang lebih sedih,
mana yang lebih sederhana:
menanggungkan ombak di gempa laut,

atau memangkas nasib
yang tak adil, atau menyeberangi selat
dan menghilang
ke dalam hijau ganggang?

Di jalan ke pengasingan itu Horatio diam,
meskipun wajahnya menua dan berkata,
Kita ada di sana selalu, Tuanku,
kita ada di sana selalu.

2014
"Puisi: Di Hari Kematian Baradita Katoppo (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Hari Kematian Baradita Katoppo
Karya: Goenawan Mohamad

Post a Comment

loading...
 
Top