Iklan

Ia penggemar berat  iklan. “Iklan itu sebenar-benar
hiburan,” kata lelaki itu. “Siaran berita dan cerita itu
sekedar selingan.” Ia tahan seharian di depan televisi.
Istrinya suka menyediakan kopi dan kadang-kadang
kacang atau kentang goreng untuk menemaninya
mengunyah iklan.

Anak perempuannya suka menatapnya aneh jika ia
menirukan lagu iklan supermi — kepalanya bergoyang-
goyang dan matanya berbinar-binar. Anak lelakinya
sering memandangnya curiga jika ia tertawa melihat
badut itu mengiklankan sepatu sandal — kakinya digerak-
gerakkannya ke kanan-kiri. Dan istrinya suka tidak
paham jika ia mendadak terbahak-bahak ketika
menyaksikan iklan tentang kepedulian sosial itu — dua
tangannya terkepal dan dihentak-hentakkannya.

Lelaki itu meninggal seminggu yang lalu; konon yang
terakhir diucapkannya sebelum “Allahuakbar” adalah
“Hidup Iklan!” Sejak itu istrinya gemar duduk di depan
televisi, bersama anak-anaknya, menebak-nebak iklan
mana gerangan yang menurut dokter itu telah
menyebabkannya begitu bersemangat sehingga
jantungnya mendadak berhenti.

"Puisi: Iklan (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Iklan
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top