loading...

Karena Kita Bukanlah Takdir

Pernah kita meranjangi masalah
mengajak dansa setiap hinaan,
bertindak terlalu jauh,
hingga memerintah kuasa takdir.

Pertemuan senja itu,
membuka pahit yang hampir ternodai.
Mengenang,
memaksa kita mengikat diri.

Lalu bagaimana jika dulunya kita
tidak pernah bertemu?
Lalu bagaimana jika kita yang sekarang
tidak memiliki takdir yang sama?

Serpihan tanya yang mengisi penuh relung penasaran
menuntun kita untuk mengerti,
apakah ini tuntunan garis kebetulan?
Ataukah ini candaan waktu?

Kita kembali bersujud di hadapan Pemilik Takdir
meminta terlalu banyak, menyesali terlalu jauh.

Lalu bagaimana cerita ini
jika kita mencintai orang yang salah?
Lalu bagaimana cerita ini
jika kita berdiri di atas takdir orang lain?

Sabar kembali menjadi pilihan,
yang datang di akhir masalah-masalah.
Menyesali,
hanya raungan pinta yang hancur.

Ranah yang terlalu ramai
untuk hati yang terlalu rinai.
Memaknai setiap inci dari fiksi
yang sulit dimengerti.

Aku kembalikan dirimu ke dalam pelukan takdirmu sendiri
menghargai pilihan terbaik dari orang tuamu,
memaklumi hendak yang tergaris dalam Surat Perintah Nasib
menerima, karena kita bukanlah sebuah takdir.

"Puisi Karena Kita Bukanlah Takdir"
Puisi: Karena Kita Bukanlah Takdir
Oleh: Arief Munandar

Post a Comment

  1. Dijodohkan kah wanita itu, mas arief?
    Karna takdir sudah tertuliskan, dan kita tidak tau...
    Apakah bisa kita rubah? Tidak untuk takdir. Tapi nasib mungkn iya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, dijodohkan!

      Belum sampai kepada tahap menikah. Hanya saja, saya tidak suka melawan "nasib" yang hampir menjadi "takdir".
      Terlebih, saya lebih suka melihat kepada Restu. Dan lagian untuk apa merebut takdir; sedangkan kita menghina sebuah restu :)

      Restu Orang Tua adalah jalan menuju Ridha Allah.

      Delete
  2. wah hebat sekali puisinya..cemburu amat dgn gaya ariff mencoret puisi bermakna.

    ReplyDelete

loading...
 
Top