loading...

Kelereng

Kalah main, kelerengku tinggal lima butir. Aku anak
laki-laki tidak boleh menangis, kata Ibu. Kupungut
kelereng itu satu demi satu, kumasukkan ke saku. Di
jalan pulang, selalu kuraba-raba sebab khawatir kalau-kalau
ada yang terjatuh dari lubang kantung celanaku.

Ketika mau belajar, selesai makan malam, kudapati
kelerengku berkurang satu. Kutaruh semua yang sisa di
atas meja, tak ada lagi yang bulat sempurna sebab
seharian berbenturan dengan sesama, tetapi di mana
gerangan kelerengku yang belimbing, yang warnanya
biru? Aku anak laki-laki, tidak berhak menangis, kata
Ibu.

Aku boleh saja tak peduli, tetapi kelerengku yang lain
- yang bintik-bintik, yang belimbing coklat, yang susu,
dan yang loreng merah hijau - akan selalu bertanya
padaku di mana gerangan temannya yang satu itu. Itu
sebabnya aku harus mencarinya, tetapi ke mana aku tak
tahu.

"Puisi: Kelereng (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Kelereng
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top