Konser Matahari

Kota pun terbakar gairah pertempuran, hutan-hutan
yang kabur, dan tari-tarian purba
cinta masih bersarang dalam jiwa yang meronta
dalam pintu luka yang menganga. Perihnya terangkum
dalam vas bunga, di atas meja taman

Lalu cemas apa lagi yang bakal datang
(kita berbanjar di bangku taman, tak terpisah
ruang. gemetar apa yang membangun igauan-igauan?
kita telah terperangkap musik dan
suara-suara ganjil sepenuh ruangan)

Tiba-tiba ada yang menepuk tidur kita
lalu kita menyingkir ke tepi, sampai paling tepi
mengental pada tembok-tembok yang dingin.

1987
"Puisi: Konser Matahari (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Konser Matahari
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Post a Comment

loading...
 
Top