Kota Sengketa

Dari sebuah gang tikus, aku masuki hotel murah
: tak disediakan rasa aman. tak ada mimpi
dan kantuk yang nikmat.
pikiran aneh berjejeran di antara rasa capek
dan carut-marut kalimat kotor di tembok kusam.
(kadangkala kukenang kenakalan kecil wanita setengah cantik
-masih cukup muda- dengan keluarga sederhana
menunggu di rumah).
kutinggalkan kebahagiaan rumah tak gaduh.
menjauh dari keyakinan kecil tentang cinta yang tak ingkar
-untuk sebuah kesenangan kecil.

di dompet masih bisa kutengok potret anakku
dan sesobek foto keluarga.
kunikmati impian hidup sederhana di kampung berjejeran.

kupikir kota ini tak terlalu buruk: masih ada kehidupan
di antara pesan-pesan para pezinah. engkau juga
masih punya tempat untuk menipu dan sedikit mencuri.
adakalanya juga masih tersedia banyak alasan buat merampok,
membunuh, atau apa saja -dan di setiap sudut toko dijual
diktat dan kalender masa lalu yang berjejal pada
deretan poster dan almanak.

kota ini tak terlalu buruk. menjadi jagoan
atau penjahat sama saja.
tidak terlalu repot mematut-matut diri.
hidup terlampau sederhana
-tak perlu mesti bermimpi.

Jakarta, 1999
"Puisi: Kota Sengketa (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Kota Sengketa
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Post a Comment

loading...
 
Top