loading...

Stasiun Tak Bernama

Akhirnya kita akan bertemu di garis yang sama.
di lengkung langit hitam dan bukitan berkabut.
di tanah-tanah bergelombang, dan gurun yang
berhutankan epitaf-epitaf. engkau ukur
seberapa jauh yang sudah kita tempuh dengan doa
dan dosa, seperti keledai yang kecapaian, merangkak
dalam dengus dan mata terkatup-katup.
tubuh yang payah ini meneteskan keringat dan darah.
membasuh wajah letihmu. seperti matahari, mengucak
cahayanya dari mega yang usil!

Kesabaran kita membeku di pintu peron. rel-rel
memanjang dan dingin. seperti itulah waktu yang
mengurungmu dalam lantunan lagu-lagu sumbang.
tembang perkutut dan desis ular-ular melata di hatimu.
mengelupas sisik-sisik dan bisa yang mengerak
di dinding-dinding hati. waktu dan ruang yang
berdesakan dalam menunggu. baris-baris gerimis
di kaca dan suram cahaya menembus kesunyian
yang kita dekap.

Di atas rel yang hitam itu keranda-keranda diusung
ke rumah-rumah yang tak kita tuju. kubayangkan para
gembala menggiring domba-domba hitam,
pulang senja.
mereka mengurai syair-syair kesedihan dan lagu-lagu
kehilangan. pulang, entah ke mana.

Dan di sini kita mengukur waktu, sebelum
lokomotif itu menyeretmu. gerbong-gerbong
berderit dalam ngilu. lalu
mendadak kita tergagap: tiba-tiba menemu jalan buntu.
kita sampai pada dinding waktu
yang tak bosan menunggu.

1993
"Puisi: Stasiun Tak Bernama (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Stasiun Tak Bernama
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Post a Comment

loading...
 
Top